LANGIT7.ID-, Jakarta- - Katib Syuriyah PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, KH Hilmi Hasbullah, mengungkapkan penting pendidikan keluarga. Dia menegaskan, keluarga yang ideal merupakan pilar kokohnya sebuah bangsa.
"Mengapa? Karena pada hakikatnya, keluarga adalah komunitas terkecil dan miniatur bangsa," kata Hilmi saat menyampaikan khutbah di Masjid Istiqlal Jakarta, dikutip Selasa (29/8/2023).
Wujud bangsa sesungguhnya adalah perkumpulan keluarga-keluarga. Maka, keluarga merupakan pondaso bangsa. Bila kondisi keluarga-keluarga rukun, tenang dan tentram, maka begitu juga dengan kondisi bangsa.
"Sebaliknya bila kondisinya tidak demikian, alias keluarga-keluarga dalam keadaan kacau, ruwet dan amburadul, maka dapat dipastikan, keadaan bangsa juga sedang bermasalah," ujar Hilmi.
Keluarga ideal sesungguhnya adalah keluarga yang adem ayem, harmonis dan dipenuhi kebahagiaan. Adem ayem karena didasari oleh cinta dan kasih sayang. Harmonis karena hubungan antara suami-istri, orang tua-anak terjalin erat dan saling mengisi. Bahagia karena harapan-harapan dari seluruh anggota keluarga dapat terpenuhi dan tercukupi.
"Lalu pertanyaannya, bagaimana membina keluarga kita menjadi keluarga ideal, yang pada gilirannya dapat menjadikan bangsa kita kokoh dan kuat?" tutur Hilmi.
Hilmi menyampaikan beberapa cara untuk mewujudkan keluarga ideal kecuali. Di antaranya:
1. Membekali Pendidikan Agama yang Cukup
Minimal anak diajari membaca al-Qur’an, dan diberi pengetahuan tentang fardlu ain, atau kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi selaku orang muslim. Ini adalah kewajiban orang tua. Bila tidak mampu, sepatutnya orangtua menyerahkan pendidikan anak kepada guru atau atau ustadz atau kiai yang mampu melakukannya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS At-Tahrim: 6)
"Tentu tidak cukup sekedar anak diberi tahu, tetapi orang tua wajib terus merawat, mengingatkan dan mensupervisi kebenaran akidah, pengamalan ibadah dan adab atau etika keseharian anak," ujar Hilmi.
2. Orang Tua Jadi Role Model Bagi Anak
Hendaknya orang tua menjadi panutan atau role model bagi anak, baik dalam perilaku keseharian, pengamalan ajaran keagamaan, maupun kehidupan sosial kemasyarakatan. Bila orang tua menyuruh anak jamaah ke masjid, sudah barang tentu karena orang tua juga berangkat ke masjid.
"Bapak yang melarang anaknya merokok, tentu karena bapak tidak merokok. Ibnur Rumi dalam sebuah syairnya berdendang, 'Antara hal yang aneh adalah Anda menginginkan anak yang terdidik dalam kehidupannya di dunia, sementara Anda sendiri tidak terdidik'," ucap Hilmi.
3. Selalu Mendoakan Anak
Orang tua harus senantiasa mendoakan anak agar diberi kemudahan, kelancaran dan kesuksesan dalam segala usaha, dan kebaikan dalam perilaku dan pergaulannya.
Terlebih jika doa-doa itu disertai dengan laku tirakat seperti orang Jawa, atau riyadlah dalam istilah pesantren. Maksudnya, melakukan ritual tertentu dalam bentuk olah raga dan olah jiwa, untuk menggapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah.
"Seperti melakukan puasa Senin Kamis, shalat malam, atau membaca al-Qur’an, sebagai wasilah atau perantaraan, yang kebaikannya dihadiahkan kepada sang anak," ujar Hilmi.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung." (QS Al-Maidah: 35)
Hilmi menjelaskan, upaya-upaya tersebut bila dilakukan oleh orang tua tentu akan menjadikan hubungan batin yang dekat dan erat antara anak dan orang tua. Kadang orang tua sudah berusaha mendidik sedemikian rupa, tetap saja anak susah mengerti, acuh dan bahkan ngeyel.
Menghadapi hal seperti ini, sepatutnya orang tua mengadu kepada Allah yang menciptakannya, dengan harapan Allah akan memberi keputusan yang terbaik pada anak tersebut.
"Dengan tiga hal tersebut, kiranya kita boleh berharap, keluarga-keluarga kita akan diberikan ketentraman, keharmonisan dan kebahagiaan. Dan pada gilirannya, bangsa kita akan menjadi bangsa yang kuat dan selamat, negeri yang aman dan diberkahi dengan berlimpah rejeki," ujar Hilmi.

(ori)