LANGIT7.ID, Jakarta - Ketika manusia hendak memilih untuk membeli rumah, tentu saja hal yang pertama dilakukan adalah mencari detail informasi mengenai rumah, mulai dari lokasi hingga bahan material yang akan digunakan. Begitupun tatkala manusia hendak membangun rumah tangga.
"Kita harapkan rumah tangga yang dibangun di dunia ini tidak hanya untuk kepentingan kita, tapi kepentingan anak cucu kita hingga berlabuh di akhirat nanti," kata almarhum KH Zainuddin MZ dalam salah satu ceramahnya.
Kemudian, ketika hendak membangun rumah tangga bagaimana memilih jodoh menurut Islam. Dalam al-Qur'an, lanjutnya, setiap manusia selalu dihiasi dengan rasa cinta terhadap perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, hewan tunggangan, hewan ternak, dan sawah ladang.
"Oleh karena adanya rasa cinta berkembanglah berbagai macam persoalan, lima huruf (cinta) yang tidak akan pernah membuat masalah selesai. Tapi dalam kehidupan, cinta bisa mendorong kepada hal yang baik ataupun tidak baik," tuturnya.
Jika cinta ibarat embun yang menetes di lahan yang subur, akan tumbuh di atasnya bunga-bunga yang harum, wangi, dan menyejukan pandangan siapapun yang melihatnya.
Tetapi jika cinta itu jatuh di tempat yang gersang, maka tidak akan tumbuh disana selain kuning daunnya, lemah gagahnya, dan tidak memberi dorongan positif bagi kehidupan di dalamnya.
"Maka lebih dahulu kita membicarakan cinta dalam artian positif ini, sampai kepada perempuan dan laki-laki yang bagaimana yang harus dicintai," ucapnya.
Pertama, urai beliau, cinta dalam artian positif selalu mendatangkan keindahan. Kedua, cinta memberikan energi atau semangat untuk berjuang. Dan ketiga, cinta selalu membawa resiko dalam bentuk pengorbanan.
"Di arti pertama inilah orang memerlukan filter, karena kalau hanya keindahan sifatnya relatif saja. Boleh jadi karena indah orang jadi cinta, boleh jadi karena cinta segala sesuatu jadi indah, namun bagaimanapun juga kalau hati diliputi rasa cinta, setiap sesuatu dianggap keindahan," ujarnya.
Selanjutnya, cinta melahirkan energi. Bagaimana yang lemah bisa menjadi kuat, yang takut bisa menjadi berani, yang jauh jadi terasa dekat, itu semua karena dorongan cinta. Dan ketiga, siapapun yang mengaku cinta, maka harus berani berkorban.
"Takut berkorban, maka jangan berani bercinta. Kalau cinta ini kita salurkan pada nilai-nilai agama, maka apapun yang diperintah oleh agama akan terasa indah, melahirkan energi, dan berani berkorban apapun demi agama sekalipun harus jiwa dan raga," tuturnya.
"Begitupun dengan wanita, kalau kita sudah cinta, jalannya terlihat indah sampai suara yang cempreng juga terlihat indah, seluruhnya akan mendatangkan keindahan karena dasarnya sudah cinta," imbuhnya disambut tawa jamaah.
(jqf)