LANGIT7.ID, Jakarta - Banser atau Barisan Ansor Serbaguna merupakan sayap organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang bersifat otonom, di bawah Gerakan Pemuda Anshor (GP Anshor). Banser mengambil peran sebagai tenaga inti GP Ansor, yakni sebagai kader "Penggerak".
Penggerak memiliki makna pengaman program–program sosial kemasyarakatan GP Ansor. Namun pada perkembangannya, Banser juga bertugas dalam pengamanan-pengamanan sosial lainnya. Kelompok ini juga kerap melakukan pengamanan paham-paham radikalisme.
Dulu Banser disebut sebagai Barisan Nahdlatul Oelama (Banoe). Banoe merupakan kepanduan yang diciptakan oleh Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO) Cabang Malang. Anoe Sendiri merupakan cikal bakal lahirnya GP Anshor.
Baca Juga: KH Abdurrahim Nur: Ulama Muhammadiyah dan Persis yang Pernah Jadi Ketua GP AnsorMengutip NU Online, dalam Kongres II ANO di Malang pada 1937, Banoe menunjukkan kebolehan pertama kalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang.
Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namanya tetap dikenang, bahkan diabadikan sebagai nama salah satu jalan di kota Malang.
Sementara, organisasi induknya, GP Ansor lahir saat ulama-ulama di tubuh NU berbeda padangan tentang metode dakwah ke depan. Perbedaan pendapat itu menguat pada dua titik, KH Abdul Wahab Chasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan moderen.
Pada 1924 pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab Chasbullah membentuk wadah bernama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Sebelum menjadi Banoe hingga akhirnya GP Ansor, Subhanul Wathan sempat memiliki nama Persatuan Pemuda NU (PPNU) dan Pemuda NU (PNU).
Nama Ansor di kemudian hari merupakan saran KH Wahab Chasbullah yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah.
Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisasi ini belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antartokoh.
Baru pada Muktamar ke-9 NU di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharam 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain, Ketua HM Thohir Bakri, Wakil Ketua Abdullah Oebayd, Sekretaris H Achmad Barawi dan Abdus Salam.
Setelah ANO berubah menjadi GP Ansor, Banoe pun menjelma menjadi Banser. Saat ini organisasi tersebut memiliki banyak unit. Seperti halnya divisi dalam pemerintahan, TNI atau Polri, Banser pun memiliki sejumlah satuan dengan fungsi masing-masing.
Banser memiliki satuan unit dengan nama Densus 99. Angka ini merujuk pada nama-nama Allah yang berjumlah 99. Unit khusus Banser ini memiliki jalur komando dari Satuan Koordinasi Nasional atau Satkornas.
Satkornas Banser dilengkapi dengan Satuan Provost, yang tugas utamanya membantu pimpinan dalam menegakkan disiplin dinas maupun di luar kedinasan. Satuan ini mirip dengan struktur militer, ada kepala, wakil, dan sejumlah tingkatan-tingkatannya.
Selain Densus 99, Banser memiliki unit khusus lain seperti Banser Protokoler, Saka Banser Kepanduan, yakni satuan khusus yang membantu Satkornas dalam melaksanakan kaderisasi, pengembangan hubungan kerja sama dan pelayanan masyarakat untuk kondisi darurat.
Kemudian ada Banser Lalu Lintas yang bertugas membantu aparat sebagai penyelenggara dan pembina fungsi ketertiban lalu lintas, di antaranya meliputi pengaturan, penjagaan, pengawalan, patroli, pendidikan masyarakat dan rekayasa lalu lintas.
Balakar atau Banser Pemadam Kebakaran, Bagana atau Banser Tanggap Bencana, Banser Husada yang fokus pada bidang kesehatan, hingga Banser Maritim, satuan khusus yang mengemban fungsi dan tugas pengamanan, pemeliharaan, pelestarian, dan konservasi wilayah Maritim NKRI.
(bal)