LANGIT7.ID, Yogyakarta - Salah satu tempat yang dikunjungi mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat ke Yogyakarta adalah mengunjungi sebuah tempat bernama Bumi Langit, sebuah
restoran organik sekaligus tempat belajar metode tanam permakultur. Nama ‘Bumi Langit’ tidak bisa dipisahkan dari Iskandar Waworuntu, sosok dibalik berdirinya
Bumi Langit Institut. Tapi sebelum nama Bumi Langit begitu erat dengannya, ada kisah panjang yang Iskandar lalui.
Semua berawal dari perjalanan Iskandar menemukan hidayah Islam pada tahun 2000. Lalu bersama keluarga hijrah ke Jogja di tahun 2001 dalam rangka memaknai Islam. Tujuannya adalah untuk ‘mengulang’ kehidupan dengan lebih menekankan akhlak serta adab yang baik terhadap alam dan manusia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Iskandar menyebut harus ada lingkungan yang memadai dimana ia dan keluarganya bisa hidup berinteraksi dengan alam. Tentunya ia menyadari bahwa memang perlu usaha untuk mewujudkan keberadaan lingkungan tersebut. Hingga akhirnya Iskandar menemukan lahan yang berada di kawasan perbukitan di atas kota tua Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Tanah di perbukitan dengan ketinggian 350 mdpl ini awalnya merupakan tanah gersang, dan kawasannya terkenal dengan musim kemarau panjang.
“Terutama saat pertama kali kami datang kemari tidak ada air, lebih banyak batu daripada tanah, jadi itu dijadikan sebuah perjuangan sendiri dalam mencoba membuktikan bahwa Allah dengan karunia alam itu sebenarnya Maha Pemurah,” terang pria berdarah Inggris dan Manado ini kepada Langit7.id, Selasa (29/6/2021).
Sebuah keputusan yang mungkin tidak semua orang bisa menjalaninya. Tapi karena kecintaannya untuk lebih memaknai Islam lebih luas, tinggal langsung di alam bahkan di tanah yang semula gersang pun ia lakoni.
Iskandar tidak menampik jika diberi kesempatan untuk mencari lahan lain, tentu akan mencari tanah yang lebih subur. Bahkan obsesi itu masih ada hingga saat ini, namun ia percaya bahwa semua yang terjadi bukan kebetulan semata sehingga ia memilih menetap di lahan yang sudah ada.
Meski membutuhkan usaha ekstra untuk bisa mencapai tujuan tersebut, dengan keyakinan yang tulus ingin memulai hidup baru, Bumi Langit pun dibangun pada tahun 2006 di tanah seluas 3 Ha.
“Nasib yang mengajak saya ke tempat ini, dan ya Alhamdulillah kami sudah lebih dari 16 tahun bermukim di atas kota Imogiri, di sebuah bukit, yang sekarang ya sudah sedikit banyak membantu ya terutama diri saya sendiri dalam memaknai Islam, dan moga-moga ya (membantu) orang-orang yang datang ke sini dan orang-orang yang ikut belajar di tempat ini,” lanjutnya.
‘Nyaman’ adalah satu kata yang menjadi alasan kuat kenapa Iskandar memilih Jogja untuk membangun Bumi Langit. Kota ini sudah melekat dengannya karena pernah menghabiskan masa mudanya saat masih berkecimpung di dunia seni dengan aktif di Bengkel Teater pada tahun 1970-an.
Mendirikan Bumi Langit Institut
![Iskandar Waworuntu, Mencoba Meraih Berkah dari Bumi Hingga ke Langit]()
Bumi Langit Institut didirikan Iskandar pada tahun 2006 dalam rangka menanamkan konsep kehidupan yang berkelanjutan, dimana menurutnya dalam Islam sendiri pun sudah diajarkan sejak awal.
“
Sustainability adalah konsep barokah, konsep amal, kalau kita beramal itu kita akan berada dalam kehidupan yang sustainable. Amal itu akan menjaga kita untuk sustainable, untuk beramal itu kita harus menanam bukan mengambil,” ungkapnya.
Untuk itu ia percaya dengan kembali ke alam, kita akan mampu memberi asupan yang baik ke dalam tubuh. Hal itu juga sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Sang Pencipta, Allah SWT.
“Jika kita mampu memperbaiki apa yang ada di dalam tubuh, itu jadi awal bagi manusia untuk tidak menimbulkan masalah eksternal atau luar seperti lingkungan,” kata Iskandar.
Di Bumi Langit Institut, Iskandar mengembangkan konsep permakultur, sebuah konsep bertani yang berkelanjutan. Ia menginginkan berkebun tidak hanya sekedar mengambil, tapi juga menanam. Dengan mengkonsumsi yang baik, tentu yang nanti keluar juga baik sehingga minim residu dan tetap bermanfaat.
“Dalam ukuran umum ini sunnatullah berlaku, hukum sebab akibat berlaku. Kalau kita mau membuat tubuh kita sehat, tubuh kita bahagia, kalau boleh dibilang mensyukuri keberadaannya, itu kita harus berikan input barang-barang yang kalau dalam Islam disebut
Thayyib, bukan hanya Halal, tapi
Thayyib, berasal-usul dari kebaikan,” cerita Iskandar.
Di Tahun 2011, Bumi Langit membentuk Yayasan Wakaf sebagai wadah kepercayaan bagi orang-orang yang ingin terlibat dalam perkembangan Bumi Langit Institut agar lebih luas manfaatnya untuk masyarakat.
Kini Bumi Langit Institut tidak hanya rumah bagi Iskandar dan keluarga untuk menjalani hidup sehari-hari, tapi sudah menjadi bagian kebaikan bagi sebagian orang yang datang untuk belajar dan menyebarkan lagi kebaikan tersebut ke kelompok yang lebih luas.
Impian Iskandar adalah bisa mengajak anak-anak muda untuk kembali alam dan hidup dengan menghayati kembali nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki leluhur-leluhur untuk mempersiapkan masa depan.
(jqf)