LANGIT7.ID, Jakarta - Beberapa tahun terakhir, program studi berbasis ilmu-ilmu keagamaan (ulumuddin) di perguruan tingg Islam mengalami kelesuan. Sepi peminat. Hal itu disampaikan Dosen Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah (Dalwa) Bangil, Dr (Cand) Ahmad Kholili Hasib.
Dia mengutip pernyataan eks Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, pada 2017 silam, bahwa mahasiswa yang belajar pada program studi (Prodi) agama menurun. Itu menjadi tantangan yang harus segera diatasi oleh perguruan tinggi Islam, sebab saat ini umat membutuhkan expertise atau ilmuwan yang ahli dalam bidang ilmu hadist, perbandingan madzhab, dan filsafat agama.
Terlebih lagi sejak perguruan tinggi Islam berstatus ‘Institut bertransformasi menjadi ‘Universitas, program studi keagamaan kalah saing dengan peminat pada jurusan ilmu-ilmu sosial, sains dan teknologi.
“Prodi filsafat agama, ilmu hadis dan perbandingan agama menjadi yang terendah peminatnya,” kata Kholili, Kamis (2/9/2021).
Baca juga: Childfree Marak Dibicarakan, Adian Husaini: Pendidikan Keluarga Amat Penting dan MendesakPada seleksi tahun 2021, Universitas Negeri (UIN) Jakarta telah menerima 888 mahasiswa. Ada sepuluh program studi yang paling banyak diminati; Manajemen, Psikologi, Ilmu Keperawatan, Farmasi, Ilmu Kesehatan, Akuntansi, Teknik Informatika, Sastra Inggris, Kesehatan Masyarakat, Sosiologi.
Proyek integrasi ilmu, yang ‘memadukan’ ilmu-ilmu berbasis syariah dengan ilmu-ilmu humaniora dan sains, yang dikembangkan sejak awal tahun 200-an di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) juga tidak mengangkat animo minat calon mahasiswa untuk memilih ilmu-ilmu keagamaan.
Secara umum, kata Kholili, pengembangan ilmu-ilmu pada program studi, baik sains, teknologi, sosial-humaniora maupun ulumuddin, memang diarahkan pada kebutuhan-kebutuhan industri atau pengguna lulusan.
Badan Akreditasi Nasional ketika melakukan akreditasi program studi ulumuddin akan menanyakan kepada program studi tentang kurikulum atau mata kuliah yang sesuai dengan kebutuhan pengguna lulusan atau industri.
Baca juga: Wujudkan Herd Immunity, Kemenag Gelar Vaksinasi untuk Pesantren di JatengMaka, di sinilah program studi seperti filsafat agama, ilmu hadis atau sejarah Islam ditantang untuk menyusun kurikulum dan mata kuliah. Belum lagi tantangan jauh lebih serius yaitu, framework Barat sekuler dalam studi ilmu-ilmu syariah, yang menggesar paradigma, metodologi, epistemologi dan worldview Islam.
“Lulusan bekerja di mana? Tentu saja, program studi-program studi tersebut masih kalah dengan program studi sains, teknologi dan humaniora dalam menjawab tantangan tersebut,” ucap Kholili.
Namun, kata dia, perguruan tingggi berbasis pesantren, yakni universitas di bawah payung pondok pesantren, tidak terlalu merisaukan tuntutan memenuhi kebutuhan industri. Meskipun, tidak sedikit pula perguruan tingggi berbasis pesantren mengikuti arus dan terjebak arus industrialisasi pendidikan ini.
Menurut Kholili, sudah sewajarnya perguruan tinggi berbasis pesantren itu tidak terlalu dalam mengikuti alur model industrialisasi pendidikan tinggi.
“Orang pesantren biasanya tidak terlalu mikir panjang soal bekerja sebagai apa, di kantor apa setelah lulus. Mereka cuma menginginkan ridha guru atau kiainya. Cukup. Dalam cara pandang pesantren ridha Allah Swt diperoleh dari ridho guru. Itulah adab,” Tutur Kholili.
(zul)