LANGIT7.ID, Jakarta - Orang tua harus memahami cara melatih imajinasi anak untuk menumbuhkan potensi besar dalam diri mereka. Salah satu cara paling tepat adalah membacakan kisah-kisah perjuangan Rasulullah SAW, para sahabat beliau, dan kisah heroik pejuang Islam terdahulu.
Dokter Pakar Neuroparenting Aisah Dahlan menjelaskan tata cara melatih imajinasi anak. Imajinasi merupakan ruang bebas tanpa aturan. Anak kadang memiliki imajinasi tanpa sekat yang tak masuk akal bagi orang dewasa.
Namun itu harus dimaklumi, dunia anak adalah dunia imajinasi. Imajinasi memiliki peran penting bagi perkembangan anak. Melalui imajinasi, anak bisa terampil bersosialisasi, berpikir kreatif, menganalisa, anak lebih percaya diri, mandiri, dan bisa bersaing.
Menurut dr Aisah, otak manusia terbagi menjadia dua bagian. Ada otak besar dan otak kecil. Kemudian terbagi lagi menjadi otak kanan dn otak kiri.
Otak kiri dianggap lebih baik untuk mengerjakan tugas-tugas yang melibatkan logika, bahasa, dan pemikiran analitis. Orang yang dominan menggunakan otak kiri digambarkan sebagai orang yang lebih ahli dalam bahasa seperti menulis dan membaca, matematika, analisis, dan pemikiran berdasarkan fakta.
Sementara otak kanan dinilai lebih baik untuk mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas. Orang yang dominan menggunakan otak kanan digambarkan lebih mahir dalam hal seni, music, visual atau gambar, pemikiran berdasarkan intiusi, isyarat nonverbal, dan imajinasi.
“Ini sudah diteliti sejak tahun 60-an,” kata dr Aisah dalam kanal youtube Mafa mumtaz, dikutip Selasa (7/9/2021).
Maka cara melatih imajinasi anak berarti berusaha untuk menstimulasi otak kanan. Cara yang paling mudah adalah membacakan buku untuk anak. Saat membacakan buku, orang tua harus menyesuaikan dengan intonasi ibarat orang yang mendongeng.
Orang tua lebih baik menceritakan buku cerita yang berdasarkan fakta dan sejarah. Misalnya, kisah Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Demikian juga kisah-kisah heroik para pejuang Islam di masa lalu. Sehingga imajinasi mereka terbentuk berdasarkan kisah-kisah tersebut.
Namun, tidak masalah jika orang tua ingin membacakan cerita fiksi. Hanya saja, orang tua harus terlebih dahulu memberi tahukan anak bahwa cerita itu hanya fiksi semata.
“Buku yang bergambar dan berwarna juga bisa menstimulasi imajinasi anak,” kata dr Aisah. Imajinasi anak-anak lebih cepat dibandungkan orang dewasa. Terutama anak laki-laki, karena otak kanannya berkembang lebih dahulu disbanding otak kiri.
“Waktu yang baik untuk bercerita adalah sebelum tidur. Sebab, otak dan tubuh dalam keadaan rileks,” kata dr Aisah.
(jqf)