LANGIT7.ID-, Jakarta- - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berselisih dengan tim negosiator gencatan senjata Israel. Sumber yang mengetahui pembicaraan mengatakan, Netanyahu bersikeras Israel tidak akan menarik diri dari "Koridor Philadelphi" di selatan Jalur Gaza.
Koridor Philadelphi yang berbatasan dengan Mesir dan Koridor Netzarim yang membelah tengah Jalur Gaza menjadi dua poin utama yang menghambat perundingan. Negosiasi ini didukung oleh Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat.
Netanyahu berkali-kali menegaskan Israel tidak akan melepas kendali atas Koridor Philadelphi. Alasannya, Israel ingin mencegah Hamas menyelundupkan senjata dan pejuang melalui perbatasan dengan Mesir. Dia juga menyatakan Israel harus mempertahankan pos pemeriksaan di Koridor Netzarim untuk menghentikan pejuang Hamas bersenjata bergerak dari bagian selatan ke utara Jalur Gaza.
Baca juga:
Pembicaraan Gaza Dilanjutkan di Kairo, Penderitaan Meningkat Akibat Serangan IsraelSumber tersebut mengatakan Netanyahu setuju untuk memindahkan satu posisi di Philadelphi beberapa ratus meter. Namun, Israel akan tetap mempertahankan kendali keseluruhan koridor tersebut. Ini berlawanan dengan desakan dari anggota tim negosiatornya sendiri yang bersedia memberi konsesi lebih banyak.
"Perdana Menteri bersikeras situasi ini akan berlanjut, bertentangan dengan tekanan dari beberapa elemen dalam tim negosiasi yang bersedia mundur dari sana," kata sumber yang memiliki pengetahuan mendalam tentang perundingan tersebut.
Stasiun TV Channel 12 Israel melaporkan pekan ini bahwa Netanyahu mengkritik keras tim negosiator. Tim yang dipimpin oleh David Barnea, kepala dinas intelijen Mossad, dianggap terlalu banyak memberi konsesi.
Lebih dari 10 bulan setelah serangan 7 Oktober ke Israel yang memicu perang, Amerika Serikat telah menekan Israel untuk mengakhiri permusuhan.
Militan pimpinan Hamas membunuh sekitar 1.200 orang dan menculik sekitar 250 sandera pada 7 Oktober, menurut penghitungan Israel. Sementara itu, bombardir Israel telah menghancurkan Gaza dan menewaskan lebih dari 40.000 warga Palestina, menurut pejabat kesehatan di wilayah tersebut.
Netanyahu mendapat tekanan berat untuk mencapai kesepakatan dari keluarga sandera Israel yang masih berada di Gaza. Banyak yang mengkritik keras kegagalan mencapai kesepakatan. Mereka bergabung dengan para kritikus yang menuduh Netanyahu menghalangi kesepakatan demi kepentingan politiknya sendiri.
Namun dengan tekanan dari kelompok garis keras di kabinetnya sendiri yang menentang konsesi apapun, ditambah jajak pendapat yang menunjukkan peningkatan dukungan dibanding awal perang, sang perdana menteri berulang kali menyatakan bertujuan meraih kemenangan total atas Hamas.
Berita ini mencakup perkembangan terbaru negosiasi gencatan senjata Israel-Hamas, peran Netanyahu dalam perundingan, dan dampak konflik yang berkelanjutan terhadap warga Gaza dan Israel. Situasi di Timur Tengah terus menjadi sorotan dunia internasional, dengan upaya perdamaian yang masih menghadapi berbagai tantangan.
(lam)