LANGIT7.ID, Jakarta - Pemulihan ekonomi Indonesia tergantung dari tingkatan konsumsi masyarakat. Jika konsumsi masyakarat terbilang tinggi, maka bisa dipastikan pemulihan ekonomi berjalan dengan baik.
Namun, dengan diberlakukannya PPKM Darurat, menyebabkan sebagian besar konsumen mengerem kebutuhan konsumsi mereka. Dari survey yang dilakukan Bank Indonesia, menunjukkan indeks keyakinan konsumen (IKK) menurun hingga diangka 77,3 persen, yang menunjukkan penurunan terendah dalam 12 tahun terakhir.
“Ini menjadi kabar yang tidak menggembirakan, karena keyakinan konsumen berada dilevel pesimis,” ujar Wakil Direktur INDEF, Eko Listiyanto secara daring dalam diskusi Analisi Big Data: Apa Kabar Konsumen Indonesia Selama PPKM? Jumat (10/9).
Baca juga: PPKM Terus Berlanjut, Masyarakat Pesimis Ekonomi Bisa Pulih dalam Waktu SingkatMenurutnya, hal tersebut disebabkan karena kebijakan PPKM Darurat yang hingga kini masih diberlakukan untuk menekan laju penyebaran virus Covid-19. Sebelumnya, lanjut dia, IKK Indonesia berada di atas 100 persen.
Terlebih, konsumen Indonesia yang pesimis itu juga didukung dengan indeks ekonomi (IEK) saat ini, yang memperlihatkan belum memulihnya perekonomian tanah air. Apalagi, IEK juga sempat dihantam dengan kasus delta hingga turun diangka 59,4 persen.
“Memang perekonomian saat ini sedang berangsur pulih, tapi belum pulih. Ini sinyal lemah pemulihan ekonomi, mungkin September ini ada pergerakan lebih tinggi, karena mobilitas juga perlahan sudah direnggangkan kembali,” ujarnya.
Eko menyebutkan, konsumen pesimis tersebut tergolong ke dalam kelompok yang berpendapatan Rp3-4 juta. Sementara untuk kelompok berpenghasilan Rp5 juta ke atas tidak cukup berdampak terhadap kebijakan PPKM Darurat.
Selain itu, kelompok tersebut juga rata-rata berada di wilayah luar Jawa, seperti Manado, Pontianak dan lainya. Sementara di Jawa dan Bali sudah menunjukkan pemulihan yang relatif membaik.
“Ini sejalan dengan data di penanganan pandemi, di mana kasus bergeser dariJawa ke luar Jawa. Tapi yang patut disyukuri kasus Covid-19 juga berangsur menurun belakangan ini,” ujarnya.
Baca juga: Tekan Perubahan Iklim, Indonesia Implementasikan Ekonomi HijauLebih lanjut, dari data IKK, sebagian besar masyarakat juga mengeluhkan menurunnya tingkat penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Menurutnya, berdasarkan ekspektasi masyarakat, pemulihan ekonomi akan berangsur membaik dalam kurung waktu enam bulan ke depan.
“Tapi ironinya, dalam enam bulan ke depan pula masyarakat masih belum yakin bahwasannya ketersediaan lapangan kerja akan berangsur pulih. Termasuk pemulihan dari sektor usaha masyarakat yang terbilang masih pesimis,” ujarnya.
Eko menjelaskan, dari hal tersebut bisa dikatakan tingkat konsumsi masyarakat masih terbilang baik dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja. Sebab, dari latar belakang pendidikan masyarakat yang berbeda, secara keseluruhan mengaku masih sulit mendapatkan pekerjaan karena ketersediaan lapangan kerja yang hingga kini juga belum membaik.
Untuk itu, lanjut dia, pemerintah dalam jangka pendek perlu mengoptimkakan bantuan sosial kepada masyarakat dengan tepat jumlah dan tepat waktu. Hal itu dilakukan agar konsumsi masyarakat bisa turut membaik, khususnya bagi mereka yang berada dilevel pendapatan menengah bawah.
“Konsumi tidak bisa pulih sendiri karena masyarkata butuh penghasilan, maka industri juga perlu dipulihkan untuk mempercepat mengurangi angka pengangguran sehingga membantu masyarakat untuk dapat memiliki penghasilan dan meningkatkan konsumsi mereka. Selain itu, pemerintah juga perlu mengoptimalkan ekspor dan investasi untuk mengakselerasi ekonomi dan mendorong berkurangnya angka pengangguran,” imbuhnya.
(zul)