LANGIT7.ID, Jakarta - Ada nama Zaid bin Tsabit dalam penyusunan hingga terciptanya mushaf Al-Quran. Meski tidak serta merta karena dirinya, setidaknya Zaid punya andil dalam menyatukan ayar-ayat Quran yang kala itu tersebar di mana-mana.
Kala belia, Zaid bin Tsabit merupakan anak kecil yang tidak pernah berhenti untuk selalu bisa dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Dia pun menghafal beberapa surat dan melantunkan Kalam Ilahi dengan langgam yang luar biasa indah didengar. Rupanya, aksi Zaid tersebut berhasil memikat hati Rasulullah SAW.
Baca Juga: 10 Doa dari Al Quran, Bisa Diamalkan saat Hati GelisahBaginda Rasul pun kagum dan mulai mengajarkan sebagian ilmu Allah SWT kepada Zaid. Alhasil, Zaid pun tumbuh sebagai pemuda generasi penerus yang berilmu luas di bawah pengawasan Rasulullah SAW.
Dilansir dari buku, Menulis Al-Qur’an Juz 28, penerbit Zain disebutkan, pada Perang Yamamah di zaman khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, banyak dari para penghafal Al-Qur’an yang mati syahid. Merespons kondisi tersebut, Umar bin Khattab bergegas menghadap Sang Khalifah dan menyarankan untuk segera mengumpulkan para
huffadz (penghafal Al-Quran) beserta ayat-ayat yang mereka hafal.
Dalam proyek tersebut, Zaid bin Tsabit mendapat amanah Abu Bakar untuk mengumpulkan lembaran ayat-ayat tersebut agar dibukukan. Sebuah tugas mulia bagi Zaid yang dahulu menggunakan Al-Quran agar bisa dekat dengan Rasulullah.
Baca Juga: Makna Nikah dalam Al-Quran dan SunnahTanpa panjang lebar, Zaid pun bersungguh-sungguh dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Membukukan Al-Quran merupakan tugas berat bagi Zaid. Jika hal tersebut terjadi pada hari ini, bukan tidak mungkin banyak redaksional yang diubah dan mungkin banyak pula ayat yang hilang karena berat dalam menjalankannya.
Saking beratnya, Zaid tidak mengeluh dan dia justru mengumpamakan kesulitan yang dihadapi. "Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu tentu lebih mudah bagiku dari pada perintah mereka menghimpun Al-Qur’an."
Alhamdulillah, berkat naungan dari Allah SWT, Zaid berhasil menyelesaikan tugasnya.
Namun, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, perbedaan beberapa tulisan mushaf menimbulkan perselisihan terhadap bacaan Al-Qur’an. Lagi-lagi, Zaid dipercaya Khalifah Utsman untuk mengambil beberapa mushaf yang tersimpan baik di rumah Hafshah binti Umar sebagai rujukan penulisan, dibantu dengan beberapa sahabat lainnya.
Baca Juga: Dalil Larangan Merusak Tempat Ibadah Ummat Lain dalam Al QuranKini, hasil kerja keras mereka bisa kita nikmati hingga sekarang. Ummat Islam di dunia pun bisa dengan mudah mempelajari Al-Qur’an tanpa harus kesulitan mengumpulkan ayat demi ayat yang tersebar di berbagai tempat seperti di zaman Zaid bin Tsabit dahulu.
Sekarang, tugas muslimin adalah mengkaji dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehar-hari. Jangan ketika Al-Quran dinistakan, ummat baru kembali kepada buku panduan hidup yang menjadi mukjizat Muhammad bin Abdullah. Pasalnya, Al-Quran berisi tentang akidah, ibadah dan muamalah, hukum, sejarah, akhlak, dan ilmu pengetahuan. (Sumber:
Gontornews)
Baca Juga:
Keutamaan Puasa Senin Kamis, Bisa Diniatkan Malam Ini
PB PON ke-20 Jamin Keamanan Atlet Beserta Kontingen Selama di Papua(asf)