LANGIT7.ID - Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa dipanggil Buya Hamka, menilai orang merdeka sesungguhnya adalah mereka yang memiliki jiwa besar. Dia menyebut kemerdekaan jiwa merupakan perkara sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
“Banyak orang yang lupa negaranya telah merdeka, tapi dirinya sendiri telah menjadi terjajah. Bukan oleh Belanda, tapi penjajahan yang datang daripada sifat-sifat yang lemah,” tutur Buya Hamka dalam salah satu ceramahnya berjudul ‘Pegangan Hidup’ yang tayang di kanal YouTube Buku Tua, dikutip Rabu (15/9/2021).
Baca Juga: Hamka adalah Simbol Moral yang Tepat untuk Mengevaluasi BangsaJiwa yang lemah akan melahirkan sifat negatif dalam diri, seperti rasa malas, pesimis, hingga tak mau bangkit untuk melakukan sesuatu. Pekerjaan kecil terlihat besar, sehingga lebih nyaman merapatkan perut ke kasur.
“Kesusahan. Kalau kesusahan kita persulitkan, jalan yang kita tempuh menjadi buntu, kita tak tahu lagi kemana akan pergi. Susah. Pagi susah, malam susah. Sehingga kusut benang tak tahu lagi jalan keluar. Padahal pangkal dari kesusahan itu bukanlah dari luar, tapi dalam jiwa kita sendiri, dalam dada kita sendiri,” kata Buya hamka.
Ada pantun melayu yang berbunyi, Kalau Berbiduk Jangan Bermenung, kalau bermenung riak pun tiba. Kalau duduk jangan termenung, kalau termenung hati pun iba.
Buya Hamka menegaskan, setiap manusia harus berusaha memiliki jiwa besar. Kepala terangkat, harga diri dijaga. Kelemahan diri pada manusia kerap muncul karena penyakit jiwa. Paling banyak kelemahan tersebut disebabkan oleh kemalasan.
Lemah dan malas berasal dari jiwa. Ahli ilmu kesehatan telah mempelajari hubungan antara rohani dengan jasmani, sehingga muncul ilmu yang dinamai psikomatik atau psikoterapi. Ilmu ini menganalisa jiwa untuk mengetahui asal mula sifat lemah dan malas.
“Di sini kita memerlukan kuatnya energi, sebab, apabila manusia mempunyai jiwa yang besar, pekerjaan yang besar pun dibilangnya kecil. Tetapi manusia mempunyai jiwa yang kecil, pekerjaan yang kecil pun dipandangnya besar. Orang-orang yang malas dan orang lemah tidak akan mengerjakan pekerjaan besar-besar,” tutur Buya Hamka.
(jqf)