Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Persepsi Al-Quran tentang Kristen Menurut William Montgomery Watt

miftah yusufpati Rabu, 30 April 2025 - 06:37 WIB
Persepsi Al-Quran tentang Kristen Menurut William Montgomery Watt
William Montgomery Watt. Foto: AP
LANGIT7.ID-William Montgomery Watt mengatakan secara umum persepsi Al-Qur'an tentang agama-agama lain di luar Islam, khususnya Yahudi dan Kristen, tak pelak lagi, tergantung atas tingkatan pemahaman historis mutakhir di Makkah dan letak Arabia sekitar tahun 600 Masehi.

"Tingkatan pemahaman ini jelas-jelas bersifat mendasar bagi persepsi tersebut," William Montgomery Watt dalam bukunya yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996).

Menurutnya, Bangsa Arab tidak mempunyai dokumen sejarah tertulis. Ada beberapa prasasti dari kerajaan-kerajaan terdahulu, namun apabila orang dapat membacanya masih diragukan karena masih tetap kurang mengapresiasikan signifikansinya.

"Jadi bagi bangsa Arab, sejarah itu tergantung kepada tradisi oral dari mulut ke mulut," katanya.

Mereka mengetahui sesuatu dalam sejarah kesukuan dan klen-klen mereka berkenaan dengan sebagian kecil generasi sebelumnya. Akan tetapi kebanyakan sejarah suku-suku Arab ini berupa bagaimana suku-suku ini tumbuh-kembang pada kekuasaan lewat satu pemimpin terkemuka atau lebih, kemudian menjadi makin kuat selama satu atau dua generasi, lalu kembali lagi tidak menunjukkan peran signifikansinya.

Baca juga: Kristen Dipertemukan Islam, Montgomery Watt: Kristen Dulu Sungguh Amat Berbeda

Arti kesementaraan komunitas-komunitas manusia kemungkinan dapat diperteguh oleh pengamatan tempat-tempat yang satu saat dapat ditempati dalam waktu sekejap dan tidak tetap.

Di sejumlah ayat Al-Qur'an, umat Islam diberitahukan tentang perjalanan melewati negeri dan melihat bencana-bencana yang menimpa bangsa-bangsa terdahulu.

Bencana yang menimpa ini disebabkan karena mereka tidak mau memperhatikan ucapan-ucapan Nabi mereka.

Para saudagar Makkah telah mengunjungi kekaisaran Byzantine, Sassania dan Abyssinia, namun dalam waktu yang lama mereka tidak mempunyai ide di mana mereka harus berada pada suatu wilayah tertentu.

Pemikiran bangsa Arab pada terma generasi-generasi manusia, bukannya dalam terma dekade atau abad-abad lamanya. Oleh karena itu, mustahil bagi mereka untuk mengakui suatu komunitas; misalnya komunitas Yahudi dengan mata rantai kesinambungan sejarah yang berakhir lebih dari seribu tahun lamanya, tiga puluh generasi atau empat puluh generasi.

Gambaran lebih lanjut tentang pandangan historis Arab adalah percaya kepada keabadian kondisi kehidupan manusia dan masyarakat yang tidak pernah berubah, tetap, dan kebencian yang konsekuen kepada semua hal yang baru.

Baca juga: Nabi Muhammad di Mata Orientalis John L. Esposito: Islam Bukan Agama Baru

Menurutnya, salah satu tuduhan permusuhan Muhammad SAW yang dilancarkan oleh para penyembah berhala Makkah adalah karena kenabian ini sebelumnya tidak dikenal di Arabia, dan di dalam Al-Qur'an Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah agar secara terang-terangan menyebarkan ajaran kenabian ini dengan mendesak bangsa Arab Mekah untuk meninggalkan kenabiannya yang sesungguhnya tidak baru itu (46: 9).

"Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadapmu. Aku tidak lain kecuali hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan."

Kisah-kisah yang menceritakan nabi-nabi terdahulu dijelaskan di dalam Al- Qur'an sekitar seperempat Al-Qur'an jumlahnya, bukan hanya memberikan penguatan bagi Nabi Muhammad SAW dan para pengikut beliau semata, melainkan juga tuntutan tegas agar beliau mempunyai rentetan asal-usul keturunan spiritual yang panjang dan bahwa nabi-nabi yang sebelum beliau itu mempunyai pengalaman-pengalaman yang mirip sama dengan pengalaman-pengalaman beliau sendiri.

Bentuk umum kisah itu memberitahukan bagaimana setelah nabi mengajak bangsanya untuk beriman kepada Allah dan beribadah kepadaNya serta siap sedia berkurban menghambakan diri kepada Allah satu-satunya yang tunggal dan Maha Esa.

Namun mereka itu mengingkari pesan risalah nabinya dan lalu mereka ditimpa oleh bencana yang menghancurkan suatu bangsa tertentu itu.

Pada surat 7, 11, dan 25, ada hitungan paralel Nabi Luth, Nabi Nuh dan tiga nabi dari bangsa Arab: Hud, Salih dan Syu'aib; dan ada acuan-acuan lebih ringkas terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi tersebut di mana pun berada; terkadang Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain, dan seterusnya. Pada QS. 7: 59-64, menceritakan kisah Nabi Nuh AS., dari awal sampai akhir sebagaimana di bawah ini:

Baca juga: John Louis Esposito: Hal yang Dominan untuk Mendefinisikan Agama adalah Hukum, bukan Teologi

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selainNya."(Sesungguhnya kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kamu berada dalam kesesatan yang nyata."

Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun, tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam."

"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui melalui wahyu dari Allah."

"Dan apakah kamu tidak percaya dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertaqwa dan supaya kamu mendapat rahmat."

"Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."

Pendeta

William Montgomery Watt adalah pakar studi-studi keislaman dari Britania Raya, salah seorang orientalis dan sejarawan utama tentang Islam di dunia Barat.

Cendekiawan kelahiran Edinburgh pada 14 Maret 1909 dan meninggal 24 Oktober 2006 ini adalah seorang profesor Studi-studi Arab dan Islam pada Universitas Edinburgh antara tahun 1964-1979.

Ia juga merupakan visiting professor pada Universitas Toronto, College de France, Paris, dan Universitas Georgetown; serta menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Universitas Aberdeen.

Dalam hal kerohanian, Montgomery Watt adalah pendeta (reverend) pada Gereja Episkopal Skotlandia, dan pernah menjadi spesialis bahasa bagi Uskup Yerusalem antara tahun 1943-1946. Ia menjadi anggota gerakan ekumenisme "Iona Community" di Skotlandia pada 1960. Beberapa media massa Islam pernah menjulukinya sebagai "Orientalis Terakhir".

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)