LANGIT7.ID-Di sebuah siang yang lengang, di tengah lembah sunyi yang kelak dikenal sebagai jantung Makkah, seorang perempuan dan anak laki-lakinya berdiri terpaku. Tak ada naungan pepohonan. Tak ada sumur. Hanya barisan bukit kerontang dan desir angin panas yang menampar kulit.
Hajar, perempuan Mesir yang dulunya hanya seorang dayang, ditinggalkan di sana oleh Ibrahim—suaminya, sang kekasih Tuhan. Bersama anaknya, Ismail, ia menghadapi takdir yang bagi banyak orang mungkin berarti kematian. Tapi bagi Hajar, ini adalah awal dari kisah peradaban.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "
Sejarah Hidup Muhammad" menyebut kisah ini bermula dari dalam rumah Ibrahim. Setelah bertahun-tahun menanti anak, Sarah- istri pertama Ibrahim—melahirkan Ishaq. Namun, kasih sang nabi ternyata tak berpihak hanya pada satu. Ismail, anak Hajar, pun dirawat dan dicintai setara.
Tapi cinta yang dibagi sama, tak selalu diterima sama. Sarah, yang menyimpan bara cemburu, merasa gusar. Terlebih ketika suatu hari ia melihat Ismail, si anak dayang, memukul adiknya. Murka Sarah memuncak. Ia tak ingin satu atap dengan Hajar dan anaknya.
Baca juga: Jejak Nabi Ibrahim di Makkah: Dinamika Sejarah Migrasi dan Wahyu Ibrahim diam. Ia tahu, dua perempuan itu tak mungkin terus tinggal bersama. Dan kepada Tuhan, ia serahkan hatinya. Maka dengan berat hati, ia ajak Hajar dan Ismail menempuh perjalanan ke selatan. Hingga sampailah mereka ke lembah tandus yang tak berpenghuni. Di situlah Hajar ditinggalkan. Di situ pula sejarah mengambil bentuknya.
Ketika perbekalan habis, dan dahaga merongrong, Hajar berlari. Dari bukit Shafa ke Marwa. Lalu kembali lagi. Tujuh kali ia ulangi, matanya terus mencari: barangkali ada kafilah, barangkali ada oase, atau barangkali hanya harapan.
Namun yang terjadi justru di luar nalar manusia. Ismail, yang kehausan dan lemah, menghentakkan kakinya. Dari tanah kering itu, pancaran air tiba-tiba keluar. Mengalir deras. Hajar tergopoh menampungnya, membendungnya agar tak hilang ke pasir. Itulah air Zamzam, yang hingga kini tak pernah surut.
Tak lama, aroma air di lembah kering itu mengundang perhatian. Satu per satu kafilah berdatangan. Dan kabilah Jurhum, salah satu suku kuno Arab, memutuskan menetap. Mereka tawarkan perlindungan dan hidup bersama. Ismail tumbuh besar di tengah mereka, lalu menikahi putri mereka.
Dari pernikahan itulah lahir garis keturunan Arab Musta’ribah—orang Arab yang berakar dari jurhum, namun darahnya mengalir dari Ibrahim dan Hajar. Campuran dari Mesopotamia, Mesir, dan jazirah Arabia.
Baca juga: Iduladha di Istiqlal, Fadli Zon Serukan Teladan Nabi Ibrahim dan Perkuat Budaya Bangsa Suatu ketika, Ibrahim kembali. Ia ingin menengok putranya. Tapi yang ia temui di rumah adalah menantu perempuannya. Ketika ditanya, “Mana suamimu?” dijawab, “Ia sedang berburu.” Ibrahim kemudian bertanya soal jamuan. Tapi sang menantu berkata, mereka tak punya apa-apa. Tak ada keramahan, tak ada sapaan.
Ibrahim pergi, lalu menitip pesan: “Sampaikan pada suamimu, ganti ambang pintu rumahmu.”
Pesan ini dimengerti Ismail sebagai perintah untuk bercerai. Ia pun menikah lagi dengan wanita Jurhum lainnya. Ketika Ibrahim datang kembali, kali ini ia disambut hangat. "Ambang pintumu kini sudah kuat," katanya, lega.
Dari keturunan Ismail inilah sejarah terus mengalir. Di tempat rumah suci dibangun—Ka’bah yang kini jadi pusat ibadah umat Islam sedunia. Dari mata air yang menyembur dari tanah kering, tumbuh kota Mekah yang tak pernah mati. Dan dari rahim seorang perempuan terbuang, lahirlah warisan bangsa.
Sejarah memang bukan milik mereka yang besar saat lahir, tapi milik mereka yang bertahan di tanah tandus, dengan iman, harapan, dan cinta.
Baca juga: Asal-Usul Kota Makkah dan Kisah Nabi Ibrahim(mif)