LANGIT7.ID- “Kota
Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan
,” begitu sabda
Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan
Ahmad bin Hanbal dalam
Musnad-nya. Umat Islam telah menunggu tujuh abad untuk menyaksikan nubuat ini menjadi kenyataan.Pada pagi yang mendung di bulan Mei 1453, serombongan pasukan menapaki dataran tinggi di luar tembok Konstantinopel. Mereka adalah balatentara Utsmani yang dipimpin seorang sultan muda: Mehmed II. Dalam sejarah, ia lebih masyhur disebut
Sultan Muhammad al-Fatih.Penaklukan itu bukan kerja semalam. “Sesungguhnya penaklukan Konstantinopel adalah hasil akumulatif dari perjuangan panjang umat Islam,” tulis
Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam
Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.Semenjak Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengirim pasukan ke jantung Byzantium pada masa Khilafah Umayyah, para khalifah dan jenderal Islam terus menerus mengintai kota itu. Bahkan, dalam
Tarikh al-Tabari disebutkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada salah satu panglimanya, memerintahkan agar tidak melupakan tanah di balik Selat Bosporus itu.
Baca juga: Asal-usul Kopiah di Indonesia, Terinspirasi Fez Ottoman Sultan Mehmed mendidik dirinya dan pasukannya bukan hanya dengan strategi militer, tetapi juga pendidikan rohani. Ia menghayati benar ayat:
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ…“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS al-Anfal: 60).
Ia memerintahkan pembangunan meriam raksasa, menghimpun 400 kapal dan 250.000 tentara. Tetapi kekuatan sejatinya terletak pada semangat jihad dan kesadaran akidah. “Kami dididik untuk mengenal Allah sebagai satu-satunya sumber kenikmatan, pencipta, dan pengatur segala sesuatu,” ujar Syekh Aq Syamsuddin, sang murabbi rohani pasukan, seperti dituturkan dalam
Manāqib al-Fātihīn.Sultan Mehmed juga mewarisi semangat jihad dari para pendahulunya. Dalam syairnya yang masyhur ia menulis:
“Wa Jihadi, adalah dengan jiwa raga dan harta benda. Lalu apa makna dunia setelah ketaatan kepada perintah Allah?”Di tengah kampanye ke Trabzon, seorang perempuan tua dari kaum Turkmen bertanya:
“Wahai anakku, apakah Trabzon layak kau perjuangkan dengan memanjat gunung seperti ini?”
Baca juga: Menapak Jejak Wisata Religi Turki, dari Istana Ottoman hingga Hagia Sophia Sultan muda itu menjawab:
“Wahai ibu, Allah telah menaruh pedang di tangan saya untuk berjihad di jalan-Nya. Jika saya tak sanggup menunaikan amanah ini, bagaimana saya akan menghadap-Nya kelak?”Kisah itu tercatat dalam
Kitab al-Tabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’d yang mengumpulkan jejak keteladanan para pemimpin Muslim. Di antara lembar-lembar itu, al-Fatih berdiri sejajar dengan pemimpin-pemimpin agung: Umar ibn al-Khattab, Sa’d ibn Abi Waqqash, Khalid ibn al-Walid.Pasukannya tak kalah tangguh. Sejarawan Kristen seperti Steven Runciman dalam
The Fall of Constantinople mengakui: “Semangat keberanian dan kedisiplinan mereka tak tertandingi oleh pasukan mana pun di Eropa masa itu.”Mereka tidak hanya dilatih menggunakan pedang dan panah, tetapi juga dilatih untuk bertakwa. Mereka menghafal ayat:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tiada satu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18)Dan ketika akhirnya tembok Theodosius roboh pada 29 Mei 1453, gema takbir membelah langit Bosporus. Hagia Sophia, simbol dominasi Kristen Ortodoks, menjadi masjid, tempat sujud pertama Sultan Mehmed al-Fatih yang ia awali dengan sujud syukur.Tak lama setelahnya, sebuah surat dikirimnya ke Makkah dan Mesir:
Konstantinopel telah jatuh ke tangan Islam. Nubuat Nabi ﷺ telah terpenuhi. Baca juga: Wisata Halal Kosovo, Banyak Masjid Peninggalan Ottoman Kuno(mif)