LANGIT7.ID-Jakarta; Dunia saat ini sedang menahan napas, menunggu balasan Iran setelah Amerika Serikat menggempur situs-situs nuklir penting milik Iran. Serangan ini dilakukan bersama Israel, menjadi aksi militer terbesar Barat terhadap Republik Islam itu sejak Revolusi Iran tahun 1979.
Dampak serangan ini terlihat dari luar angkasa. Bom penghancur bunker seberat 30.000 pon milik AS menghantam pegunungan di atas situs nuklir Fordow. Iran langsung bersumpah akan membela diri habis-habisan.
Tak lama setelah itu, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke arah Israel. Puluhan orang terluka dan sejumlah bangunan hancur di Tel Aviv. Pemerintah AS kemudian memerintahkan keluarga pegawai kedutaan untuk meninggalkan Lebanon dan memperingatkan warganya di kawasan Timur Tengah agar membatasi perjalanan atau berdiam diri.
Baca juga: Akankah Iran Menutup Selat Hormuz? Ini Dampaknya Bagi DuniaDepartemen Keamanan Dalam Negeri AS juga mengeluarkan peringatan soal “ancaman tinggi” di wilayah domestik. Patroli di kota-kota besar AS diperketat, terutama di tempat ibadah, gedung budaya, dan kantor diplomatik.
Meski belum ada serangan langsung Iran terhadap pangkalan militer AS atau upaya nyata menutup jalur minyak dunia, banyak pihak percaya situasi ini bisa berubah sewaktu-waktu.
Berbicara di Istanbul, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negaranya sedang mempertimbangkan semua opsi balasan. Ia menegaskan, tidak akan ada jalur diplomasi sebelum Iran membalas serangan itu.
"AS sudah menunjukkan mereka tidak menghormati hukum internasional. Mereka hanya mengerti bahasa ancaman dan kekerasan," katanya.
Baca juga: Iran Pertimbangkan Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS, Dunia WaspadaAli Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menulis di X bahwa kini giliran pihak yang “bermain cerdas dan tidak gegabah” yang akan memegang kendali. "Kejutan masih akan berlanjut," tulisnya.
Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu sebagai “keberhasilan militer spektakuler” dan mengklaim fasilitas pengayaan nuklir Iran “sudah hancur total.”
Namun, pejabat AS lainnya memberikan pernyataan yang lebih hati-hati. Kecuali foto satelit yang menunjukkan kawah besar di atas Fordow, belum ada penjelasan resmi soal seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan.
Badan nuklir PBB, IAEA, mengatakan belum ada peningkatan radiasi di luar lokasi setelah serangan. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatakan kepada CNN bahwa masih belum bisa dipastikan seberapa besar kerusakan di bawah tanah.
Sumber dalam Iran menyebut sebagian besar uranium yang diperkaya di Fordow sudah dipindahkan sebelum serangan. Reuters belum bisa memastikan klaim tersebut.
Trump mendesak Iran untuk tidak membalas, dan mengatakan bahwa jika Iran tetap melakukan serangan, “balasan selanjutnya akan jauh lebih besar dan mudah.”
Wakil Presiden AS JD Vance juga mengatakan bahwa Washington “tidak sedang berperang dengan Iran, tapi dengan program nuklirnya,” dan menilai serangan ini telah memperlambat kemajuan nuklir Iran secara signifikan.
Iran juga mulai mengambil langkah untuk membalas lewat jalur strategis. Parlemen mereka menyetujui rencana penutupan Selat Hormuz, jalur sempit di mana hampir seperempat pengiriman minyak dunia melintas. Penutupan ini masih menunggu restu dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang dipimpin oleh orang kepercayaan Khamenei.
Menutup Selat Hormuz bisa mengguncang harga minyak global, memicu krisis ekonomi, dan kemungkinan besar mengundang konflik langsung dengan Armada Kelima Angkatan Laut AS yang bermarkas di kawasan Teluk dan bertugas menjaga jalur laut tetap terbuka.
Para analis juga memperingatkan bahwa Iran yang sedang terdesak bisa menggunakan cara-cara lain yang tidak terduga, seperti serangan bom atau peretasan siber.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan Iran agar tidak membalas. Ia mengatakan bahwa jika Iran melakukannya, itu akan menjadi “kesalahan terbesar yang pernah mereka buat.”
Dalam wawancara lain, Rubio menyebut bahwa AS “masih punya target lain untuk diserang, tapi misi utama kami sudah tercapai.” Ia menambahkan, “Saat ini tidak ada rencana operasi militer tambahan, kecuali jika Iran mencoba macam-macam.”
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan akan menggelar pertemuan darurat Minggu malam atas permintaan Iran, yang menyerukan agar badan itu “mengecam sekeras-kerasnya tindakan agresi terang-terangan dari AS ini.”
Tujuan Perang AS-Israel BerbedaSerangan awal terhadap Iran dimulai oleh Israel pada 13 Juni lalu. Kini, para pejabat Israel secara terbuka menyatakan niat mereka untuk menjatuhkan rezim ulama Syiah yang telah memimpin Iran sejak 1979.
Berbeda dengan Israel, pejabat AS – yang sebagian masih trauma dengan kegagalan intervensi militer di Irak tahun 2003 – menekankan bahwa misi mereka bukan untuk menggulingkan pemerintahan Iran.
"Misi ini bukan dan tidak pernah tentang perubahan rezim," kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. “Presiden hanya mengizinkan operasi presisi untuk menetralisir ancaman dari program nuklir Iran.”
Senator Lindsey Graham yang dikenal dekat dengan Trump menyebut bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah “tidak mau hidup di bawah ancaman rudal Iran lagi.”
“Israel sudah mengambil keputusan. Rezim ini akan berubah, entah mereka mengubah perilakunya – yang saya ragu – atau rakyatnya yang mengganti rezim,” kata Graham.
Di ibu kota Iran, Teheran, situasi semakin mencekam. Warga berbondong-bondong meninggalkan kota menuju pedesaan untuk menghindari serangan Israel.
Pemerintah Iran mengatakan lebih dari 400 orang, sebagian besar warga sipil, telah tewas sejak serangan Israel dimulai. Militer dan para petinggi Iran menjadi sasaran utama, bahkan sejumlah komandan militer tewas ketika rudal menghantam rumah mereka saat tidur.
Iran pun terus meluncurkan rudal balasan ke arah Israel. Selama sembilan hari terakhir, setidaknya 24 orang tewas di Israel – jumlah korban terbesar akibat serangan langsung dari Iran. Dalam serangan terbaru, Garda Revolusi Islam (IRGC) menembakkan 40 rudal ke wilayah Israel.
Sirene serangan udara berbunyi di hampir seluruh wilayah Israel pada Minggu, memaksa jutaan warga masuk ke ruang perlindungan.
Trump sempat bimbang antara menyelesaikan konflik lewat diplomasi atau justru ikut terjun ke medan perang. Ia bahkan sempat menyebut kemungkinan untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran. Keputusannya untuk akhirnya ikut dalam perang ini dianggap sebagai langkah politik luar negeri paling berisiko sepanjang kariernya.
(lam)