LANGIT7.ID-Seorang laki-laki biasa dengan wudhu yang belum kering, menjinjing sandal, dan tanpa amalan mencolok. Tapi
Rasulullah ﷺ menyebutnya
ahli surga.
Suatu malam, di
Masjid Nabawi yang penuh doa dan bisik zikir, Rasulullah ﷺ berkata di hadapan para sahabat:
“Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga.”
Hadis ini tercatat dalam al-Muwaththa’ Imam Malik nomor 20559. Dalam riwayat lain, kata-kata itu terulang sampai tiga kali di hari-hari berikutnya.
Siapa gerangan lelaki itu? Sahabat terdiam, menoleh ke arah pintu, menebak-nebak siapa yang akan muncul. Apakah Abu Bakar yang dermawan? Umar yang gagah? Atau Utsman yang sabar?
Yang muncul ternyata lelaki Anshar yang tak terkenal. Wajahnya basah oleh wudhu, air menetes dari janggutnya, dan di tangannya hanya sepasang sandal jepit. Tak tampak ada sesuatu yang istimewa darinya.
Baca juga: Inilah 4 Wanita Teladan Kaum Hawa dan Ahli Surga Sesuai Hadits Nabi Di hari kedua, Rasulullah ﷺ mengucapkan kalimat yang sama. Yang muncul lagi-lagi dia. Hari ketiga, ucapan serupa, dan laki-laki itu lagi yang melangkah masuk.
Keheranan membuncah. Apa sebenarnya rahasia lelaki itu hingga Rasulullah ﷺ menjaminnya sebagai penghuni surga?
Abdullah bin Amr bin Ash, yang penasaran, memutuskan menyelidiki sendiri. Ia menyusul laki-laki itu hingga ke rumahnya. Ia mencari cara supaya bisa tinggal di sana selama tiga hari, dengan alasan bertengkar dengan ayahnya.
“Jika boleh, aku ingin tinggal bersamamu selama tiga hari,” katanya.
“Tentu, silakan,” jawab si lelaki itu, tanpa curiga.
Abdullah memperhatikan setiap gerak-geriknya. Amalan apa yang membuatnya mendapat jaminan surga? Shalat sunnah sepanjang malam? Dzikir ribuan kali? Puasa setiap Senin-Kamis?
Hari pertama hingga ketiga berlalu. Tak ada yang istimewa. Lelaki itu tidur di malam hari, hanya bangun untuk shalat subuh. Tak tampak ia berpuasa sunnah. Amalan dzikirnya juga biasa saja, hanya sesekali bertakbir saat terbangun.
Baca juga: Timur Lenk dan Raja-Raja di Surga: Humor Sufi ala Nasrudin Hoja Saat pamit, Abdullah tak tahan. Ia berterus terang, “Sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Aku hanya ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi penghuni surga, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Tapi ternyata aku tidak melihat sesuatu yang istimewa.”
Lelaki itu hanya tersenyum. “Aku tidak punya amalan lebih, kecuali yang engkau lihat.”
Abdullah melangkah keluar, masih diliputi rasa bingung. Namun tiba-tiba lelaki itu memanggilnya. “Benar, amalanku hanya itu. Tapi ada satu yang mungkin: aku tidak pernah berbuat curang kepada siapa pun, dan aku tidak pernah dengki atau iri kepada siapa pun atas karunia yang Allah berikan kepadanya.”
Jawaban itu menghentak. Abdullah tertegun.
Bersihnya HatiPelajaran besar dari cerita ini bukan pada banyaknya rakaat atau panjangnya puasa, melainkan pada bersihnya hati. Dalam hadis riwayat Muslim nomor 2564, Rasulullah ﷺ memperingatkan:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا …"Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi…"
Baca juga: Syahadat di Ujung Nafas: Tiket Terakhir ke Surga yang Tak Pernah Hangus Sifat hasad, atau iri dan dengki, adalah racun halus yang menggerogoti iman. Itu juga penyakit iblis yang iri pada Nabi Adam عليه السلام. Dalam Al-Baqarah/2:109 Allah berfirman:
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ …"Banyak di antara ahli kitab yang ingin sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam hati mereka…"
Begitu pula dalam An-Nisâ’/4:54:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ"Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya?"
Ahli tafsir menyebut, hasad bisa menghancurkan amal-amal besar, karena itu Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai
al-hâliqah—“cukur” yang memusnahkan agama, bukan rambut.
Baca juga: Surga Tanpa Taman, Neraka Tanpa Api Menurut Imam Al-Ghazali Bagi lelaki Anshar itu, kunci surga bukanlah ibadah fisik yang mencolok, melainkan keikhlasan hati: tak menyimpan dengki, tak menaruh dendam, dan selalu ridha atas takdir Allah.
Di zaman media sosial yang penuh kecemburuan dan persaingan ini, pelajaran itu terasa makin relevan. Mungkin, surga lebih dekat pada orang-orang yang hatinya bersih, daripada pada yang sibuk mengejar pujian.
“Tak mudah,” kata Abdullah bin Amr bin Ash pada akhirnya. “Tapi inilah amalan yang sangat sulit dilakukan.”
(mif)