LANGIT7.ID-Bagi sebagian orang, pintu surga bukan dibuka lewat amal yang menumpuk atau ibadah yang sempurna. Tapi cukup dengan satu kalimat yang dilafalkan di detik terakhir hidup:
Laa ilaaha illallaah. Kalimat
tauhid yang menjadi syarat pokok masuk Islam itu, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadis sahih, juga menjadi jaminan keselamatan yang tak lekang, meski penuh luka dan noda.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama terkemuka Mesir, menggarisbawahi hal itu dalam karyanya
Fatawa Qardhawi. Menurutnya, siapa pun yang meninggal dunia dalam keadaan masih membawa sebutir iman dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum ajal, maka ia “pasti masuk surga”—meski jalannya mungkin berkelok dan penuh siksa.
“Dia diazab terlebih dahulu di neraka disebabkan kemaksiatan dan dosa-dosanya yang belum bertobat dan tidak diampuni. Tetapi dia juga tidak kekal di neraka, karena di dalam hatinya masih ada sebutir iman,” tulis Qardhawi.
Dalam hadis riwayat Abu Dzar yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa mengucapkan
Laa ilaaha illallaah, kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.” Sebuah hadis yang kemudian menjadi oase harapan bagi banyak Muslim yang terseok-seok menjaga konsistensi iman.
Baca juga: Bacaan Zikir yang Paling Utama di Mata Allah adalah Syahadat Namun, janji itu bukan berarti impunitas spiritual. Jalan ke surga tetap harus melewati pengadilan amal. Qardhawi menjelaskan bahwa seorang Muslim tetap bisa mengalami azab neraka jika meninggal dalam keadaan belum bertobat dari dosa-dosa besar seperti zina, pencurian, atau pengkhianatan. Tapi azab itu, kata Nabi dalam banyak hadisnya, bersifat temporer. Surga tetap menjadi titik akhir.
“Walaupun dia berbuat zina dan mencuri,” demikian sabda Nabi ﷺ dalam hadis riwayat Abu Dzar yang dikutip Qardhawi, “jika ia tidak mempersekutukan Allah, maka pasti akan masuk surga.” Hadis itu diulang Nabi dua kali, seolah mempertegas bahwa rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.
Dengan kata lain, syahadat yang diucapkan menjelang kematian adalah pengakuan terakhir yang tidak bisa diabaikan. Ia tak memadamkan neraka sepenuhnya, tapi menjamin bahwa si pengucap tidak akan kekal di dalamnya. Ada titik terang di ujung terowongan, betapapun panjang dan panasnya jalan.
Pandangan ini bukan hanya menyajikan optimisme teologis, tapi juga membawa implikasi sosial. Ia mengingatkan umat Islam untuk tak mudah menghakimi siapa pun yang wafat dalam keadaan Islam, meski semasa hidupnya jauh dari kesalehan. Sebab urusan batin dan akhir hayat selalu berada di bawah domain mutlak Allah.
Dalam dunia modern yang kadang memuja performa religius lahiriah, pesan ini seperti tamparan halus: bahwa syahadat di ujung nafas bisa lebih bermakna daripada seumur hidup ritus yang kosong dari iman.
Baca juga: Viral Video Bobon Santoso Mualaf, Lafal Syahadat Dituntun Ustaz Derry Sulaiman(mif)