Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Proyek Raksasa Abu Nawas: Mengangkat Istana ke Gunung Memakai Humor

miftah yusufpati Kamis, 31 Juli 2025 - 16:30 WIB
Proyek Raksasa Abu Nawas: Mengangkat Istana ke Gunung Memakai Humor
Abu Nawas tidak hanya menggugurkan kewajiban, tapi ia juga menyelipkan amal: sepuluh sapi untuk para fakir. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami, atau lebih dikenal sebagai Abu Nawas, adalah sosok pujangga besar dari dunia Arab klasik. Lahir di Ahvaz, Persia, darah Arab dan Persia mengalir dalam tubuhnya.

Selain dikenal sebagai penyair jenaka, ia juga kerap digambarkan sebagai seorang sufi yang bijaksana, mengajarkan hikmah lewat kelakar, mengajarkan makna lewat tipu muslihat yang penuh makruf.

Berikut ini salah satu kisah hikmah tentangnya tertulis dalam himpunan Seribu Satu Malam.

Suatu hari, Baginda Harun Al-Rasyid sedang membaca kisah-kisah para nabi. Ia terpukau oleh cerita tentang Nabi Sulaiman yang, dengan izin Allah, mampu memindahkan singgasana Ratu Bilqis dalam sekejap mata. Hatinya tergelitik. Mungkinkah ia juga bisa seperti itu? Tidak memindahkan singgasana, tapi... istananya.

"Alangkah indahnya jika istanaku berada di atas gunung," pikir sang raja. "Dari sana aku bisa memandang luas negeri ini."

Dan siapa lagi yang bisa dimintai tolong kalau bukan Abu Nawas?

Abu Nawas pun dipanggil ke istana.

"Abu Nawas," kata Baginda, "maukah kau memindahkan istanaku ke atas gunung dalam waktu sebulan?"

Baca juga: Abu Nawas dan Monyet Ajaib: Ketika Kecerdikan Mengalahkan Latihan

Wajah Abu Nawas langsung murung. Ia mengerutkan dahi, menimbang bahaya menolak titah raja. Tapi ia tahu, menolak berarti hukuman. Maka dengan berat hati ia menjawab, "Hamba bersedia, Tuanku."

Hari-hari berikutnya dilalui Abu Nawas dalam kegelisahan. Ia tak bisa tidur, tak bisa makan dengan tenang. Tetapi pada hari kesembilan, kegundahan itu sirna. Sebuah ide cemerlang muncul dalam benaknya.

---

Esok paginya, ia menghadap kembali ke istana.

"Ampun Tuanku," ujarnya sopan, "hamba ingin mengajukan beberapa usul untuk memperlancar pemindahan istana."

"Silakan," jawab sang Raja dengan antusias.

"Hamba mohon agar pemindahan dilakukan tepat pada Hari Raya Idul Adha, yang hanya dua puluh hari lagi."

"Baiklah," jawab Baginda.

"Satu lagi, Tuanku."

"Apa itu?"

"Hamba mohon Paduka menyembelih sepuluh ekor sapi gemuk dan membagikannya langsung kepada para fakir miskin."

Baginda tersenyum senang. "Permintaanmu kuterima."

Baca juga: Kisah Abu Nawas dan Misteri Telur Ayam

---

Tibalah Hari Raya. Lapangan dipenuhi rakyat yang bersuka cita. Sepuluh ekor sapi disembelih dan dagingnya dibagikan kepada para fakir miskin. Semua orang bersorak memuji kemurahan hati Baginda Raja dan kecerdikan Abu Nawas.

Namun satu tugas masih tersisa: memindahkan istana.

Abu Nawas berjalan menuju halaman istana, diikuti oleh rakyat. Ia berdiri beberapa langkah dari bangunan megah itu dan menatapnya penuh khidmat.

Baginda Raja keluar. "Abu Nawas, kenapa kau belum memindahkan istanaku?"

Abu Nawas menjawab, "Hamba sudah siap, Tuanku."

"Lalu kenapa belum juga diangkat?"

"Hamba hanya menunggu seluruh rakyat mengangkat istana Paduka dan meletakkannya di atas pundak hamba, agar hamba bisa memindahkannya ke atas gunung."

Baginda Raja terdiam. Wajahnya kaku sejenak, lalu perlahan tersenyum. Ia tahu—lagi-lagi, Abu Nawas telah mengalahkannya dengan kecerdikan.

Baca juga: Menunggangi Hujan Bersama Abu Nawas: Ketika Akal Lebih Tajam dari Kecepatan Kuda Raja

Hikmah di Balik Humor

Kisah ini bukan sekadar lelucon. Di balik kelakar Abu Nawas, terselip pesan bijak: akal sehat harus menyertai setiap perintah, dan kebaikan tidak selalu datang dari kekuasaan, tapi dari kecerdasan yang melayani sesama.

Abu Nawas tidak hanya menggugurkan kewajiban, tapi ia juga menyelipkan amal: sepuluh sapi untuk para fakir. Ia tidak melawan kekuasaan dengan frontal, tapi dengan kecerdikan yang membuat semua orang berpikir.

Dan yang lebih penting, ia menunjukkan bahwa tugas mustahil bisa menjadi ladang kebaikan, asal disikapi dengan kepala dingin dan niat yang tulus.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)