LANGIT7.ID-Bandung; Peningkatan signifikan dalam literasi keuangan syariah menjadi sorotan utama dalam gelaran Syariah Financial Fair (SYAFIF) di Bandung pada 2–3 Agustus 2025. Acara yang berlangsung di Main Atrium Trans Studio Mall ini menjadi ajang penting bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mempercepat pemanfaatan keuangan syariah secara lebih luas, sekaligus memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam ekosistem keuangan syariah nasional.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pelaksanaan SYAFIF di dua kota sebelumnya, Tangerang dan Palembang. Di Bandung, OJK menggandeng Pelaku Usaha Jasa Keuangan Syariah (PUJK Syariah) dan Organizing Committee Orkestrasi Program Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah (OC LIKS) untuk menghadirkan pameran dan aktivitas yang menyentuh langsung masyarakat.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diberi ruang untuk berinteraksi langsung dengan produk dan layanan keuangan syariah secara menyenangkan dan informatif. Tidak hanya booth informasi dan layanan, SYAFIF Bandung juga diramaikan oleh talkshow interaktif, lomba anak, pentas seni, hingga pembagian doorprize.
Dalam sambutannya pada pembukaan acara, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan dukungan OJK terhadap visi pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi dan keuangan syariah global, sejalan dengan pencapaian Asta Cita.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pendekatan literasi dan inklusi yang terukur dan berkelanjutan. Friderica menyebutkan bahwa agenda nasional ini juga ditopang oleh kebijakan strategis seperti penguatan kelembagaan, ekspansi ekosistem ekonomi syariah, pembangunan SDM dan riset, serta optimalisasi pemanfaatan instrumen keuangan sosial syariah.
Friderica menekankan pentingnya sinergi menyeluruh untuk menciptakan percepatan. “Tentu tantangan dalam pengembangan keuangan syariah masih ada, namun saya optimistis kita bisa menghadapinya bersama. Saya menaruh harapan besar kepada seluruh pelaku industri untuk terus mengambil peran strategis dalam memperkuat sektor ini. Ini juga menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan ekonomi dan keuangan syariah dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.
Salah satu capaian yang menjadi kebanggaan tersendiri adalah melonjaknya tingkat literasi keuangan syariah nasional dari hanya 9 persen menjadi 43 persen. Friderica menilai capaian ini harus segera ditindaklanjuti dengan mendorong penggunaan produk dan layanan keuangan syariah yang lebih luas dan nyata di tengah masyarakat.
Ia juga menyampaikan perlunya langkah sinergis dari berbagai arah untuk memperluas jangkauan keuangan syariah, baik dari otoritas dan industri keuangan maupun dari kesiapan masyarakat sendiri. Menurutnya, kolaborasi yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi, media, dan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem.
“Saya berharap dengan grand design dan visi kita bersama, ekonomi dan keuangan syariah menjadi satu ekosistem, satu ‘rumah tumbuh’. Keuangan syariah itu mulia; transaksinya berdasarkan empat prinsip utama; keadilan, transparansi, kemitraan, dan keberkahan. Ini adalah fondasi yang kokoh,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Friderica juga menyoroti peran strategis Indonesia dalam perkembangan ekonomi syariah global. Ia mengatakan, “Potensi ini tentu bisa terus kita dorong, mengingat Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tentu saja ini menjadi motor penggerak yang sangat dahsyat untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia,” terang Friderica.
Sejalan dengan semangat nasional tersebut, Pemerintah Daerah Jawa Barat menyambut baik pelaksanaan SYAFIF di wilayahnya. Kepala Biro Perekonomian Setda Jawa Barat, Budi Kurnia, menyampaikan bahwa Bandung sangat cocok menjadi lokasi acara karena memiliki kekuatan sosial dan budaya yang mendukung ekonomi berbasis syariah.
“Bandung sangat tepat menjadi lokasi SYAFIF. Jika kita mampu menyelesaikan tantangan keuangan syariah di Jawa Barat, maka seperempat tantangan nasional bisa ikut teratasi. Dengan lebih dari 13.000 pesantren, potensi Jawa Barat dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah sangat besar. Bahkan kami menargetkan menjadi juara umum Adinata Syariah ke depan,” ujar Budi.
Budi menambahkan bahwa pihaknya siap membangun kolaborasi yang erat dengan OJK, Bank Indonesia, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), serta para pelaku usaha jasa keuangan syariah dalam memperkuat fondasi ekonomi berbasis syariah di daerah.
Turut hadir dalam acara ini Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK M. Ismail Riyadi, Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman, dan Direktur Eksekutif KDEKS Jawa Barat Diana Sari.
Dalam rangka mendekatkan inklusi keuangan syariah sejak usia dini, OJK juga meluncurkan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang bekerja sama dengan sejumlah bank syariah di Jawa Barat. Provinsi ini menjadi salah satu wilayah percontohan nasional tahun 2025, dengan target seluruh pelajar memiliki akses terhadap rekening perbankan.
Tak hanya itu, OJK juga memperluas inisiatif Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS), yang fokus pada penempatan agen layanan syariah di komunitas masyarakat. Program ini mempermudah akses masyarakat terhadap layanan PUJK Syariah tanpa harus bergantung pada cabang fisik, melainkan melalui peran agen langsung di lapangan.
Dalam rangkaian kegiatan SYAFIF Bandung, dilakukan pengukuhan sejumlah agen syariah dari sektor pergadaian dan pembiayaan sebagai bagian dari implementasi business matching lembaga-lembaga keuangan syariah, seperti Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Pembiayaan, Lembaga Keuangan Mikro, dan lembaga jasa keuangan syariah lainnya.
Acara ini ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara OJK, KDEKS Jawa Barat, dan perwakilan dari perbankan syariah. MoU tersebut menjadi bukti komitmen bersama dalam memperkuat sinergi untuk meningkatkan literasi, edukasi, serta akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah secara luas di wilayah Jawa Barat.
(lam)