Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 24 Mei 2026
home masjid detail berita

Aql dalam Al-Quran: Pengikat Tak Kasatmata Manusia

miftah yusufpati Selasa, 12 Agustus 2025 - 15:22 WIB
Aql dalam Al-Quran: Pengikat Tak Kasatmata Manusia
Dari susunan ayat-ayatnya, Quraish Shihab mengurai tiga dimensi yang bisa ditangkap dari kata kerja aql. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di antara ratusan kata yang bertebaran dalam Al-Qur’an, ada satu kata yang justru tak pernah muncul dalam bentuk tunggalnya: ‘aql — yang kita kenal sebagai “akal”. Kitab suci itu hanya memuat bentuk kata kerja, baik kini maupun lampau.

“Akal,” menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan), secara bahasa berarti “tali pengikat” atau “penghalang.” Dalam perspektif Al-Qur’an, ia adalah “sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa.” Namun, apa tepatnya yang dimaksud “sesuatu” itu, kitab suci tak pernah menjelaskannya secara gamblang.

Dari susunan ayat-ayatnya, Quraish Shihab mengurai tiga dimensi yang bisa ditangkap dari kata kerja ‘aql.

Pertama, daya memahami dan menggambarkan sesuatu. Misalnya, dalam QS Al-‘Ankabut [29]: 43:

"Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang alim."

Baca juga: Menikah: Antara Hukum dan Hikmah dalam Nalar Al-Quran

Daya ini, kata Quraish, berbeda-beda antara manusia. Al-Qur’an menggambarkan tanda-tanda kebesaran Allah — pergantian siang dan malam, penciptaan langit dan bumi — sebagai bukti bagi ulul albab, mereka yang berakal tajam (QS Al-Baqarah [2]: 164).

Kedua, dorongan moral. Dalam QS Al-An‘am [6]: 151, misalnya, Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk menjauhi perbuatan keji, baik terang-terangan maupun tersembunyi, dan melarang pembunuhan tanpa alasan yang benar. Dorongan ini, menurut Quraish, adalah kekuatan batin yang membuat seseorang enggan melanggar ketentuan Tuhan.

Ketiga, daya mengambil pelajaran dan hikmah — yang dalam Al-Qur’an sering disebut rusyd. Daya ini memadukan kemampuan memahami, menganalisis, menyimpulkan, dan memiliki dorongan moral sekaligus. “Seseorang yang memiliki rusyd berarti menggabungkan kekuatan nalar dengan kematangan etika,” tulis Quraish.

Mereka yang kehilangan daya ini akan menyesal di akhirat, seperti tergambar dalam QS Al-Mulk [67]: 10:

"Seandainya kami mendengar dan berakal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka."

Bagi Quraish Shihab, memahami konsep ini tak cukup hanya dengan membaca tafsir. “Uraian yang memadai,” ujarnya, “memerlukan kerja sama pakar Al-Qur’an dengan ahli berbagai disiplin ilmu.” Sebab, ‘aql — walau tak pernah hadir dalam bentuk kata benda di mushaf — ternyata menjadi pengikat tak terlihat yang menentukan arah langkah manusia.

Baca juga: Pakaian dalam Al-Quran: Menutup Aurat Kewajiban Syariat dan Dorongan Kodrati

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 24 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)