Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home masjid detail berita

Ketika Nafsu Jadi Tuhan: Ancaman Abadi dari Al-Quran hingga Era Digital

miftah yusufpati Rabu, 10 September 2025 - 04:15 WIB
Ketika Nafsu Jadi Tuhan: Ancaman Abadi dari Al-Quran hingga Era Digital
Peringatan ini seakan menantang kita: siapa yang sebenarnya kita sembah? Tuhan yang Maha Esa atau nafsu yang bercokol di dada? Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah majelis kecil di Kairo, Syaikh Yusuf al-Qardhawi pernah menulis peringatan yang menohok: “Di antara hal-hal yang membinasakan manusia adalah hawa nafsu yang dituruti.” (Fiqh Prioritas, 1996). Peringatan ini seolah tak lekang dimakan zaman. Dari istana kekuasaan hingga pasar saham, dari ruang politik sampai media sosial, hawa nafsu selalu menemukan jalannya.

Bahkan Al-Qur’an menegaskan ancaman itu dalam kalimat yang gamblang: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya...” (QS al-Jatsiyah: 23). Bagi para mufasir klasik seperti Imam al-Ghazali, ayat ini bukan sekadar metafora. “Ketika akal tunduk kepada syahwat, maka ia telah menyembah selain Allah,” tulis al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin.

Fenomena mengikuti hawa nafsu (ittiba’ al-hawa) bukan isu moral belaka, melainkan ancaman struktural. Dalam tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahwa hawa nafsu adalah pangkal kezhaliman, bahkan kepada diri sendiri. Ia menafsirkan QS Shad: 26—“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”—sebagai peringatan keras bagi pemegang kekuasaan.

“Ketika keputusan hukum dicemari kepentingan pribadi, maka ia telah menyalahi amanah ilahi,” tulis al-Qurthubi (Tafsir al-Qurthubi, jilid 15). Pesan ini kontekstual dengan peringatan Nabi kepada para qadhi (hakim): “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR Ahmad).

Baca juga: Hawa Nafsu: Raja Tanpa Mahkota yang Menjerat Manusia

Sejarah Islam mencatat bagaimana hawa nafsu menjadi sumber malapetaka politik. Perang Shiffin pada 657 M misalnya, lahir dari ambisi kekuasaan yang gagal dijinakkan. Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin, dan Peradaban (1987) menyebut perang itu sebagai bukti bahwa syahwat kekuasaan dapat menandingi idealisme iman.

“Pada titik tertentu,” tulis Cak Nur, “agama hanya menjadi legitimasi, sementara kekuasaan yang dikejar.”

Ketika Nafsu Menggiring pada Kebutaan

Mengapa hawa nafsu begitu berbahaya? Al-Qur’an menyebutnya menutup mata dan telinga. QS al-Jatsiyah: 23 menegaskan, orang yang menuhankan hawa nafsu kehilangan fungsi pendengaran dan penglihatan batin. Konsep ini sejalan dengan analisis psikologi modern: cognitive bias—kecenderungan untuk memihak pada keinginan, bukan kebenaran.

Ibn Abbas, sahabat Nabi, bahkan menyebut hawa nafsu sebagai “tuhan terburuk di muka bumi”. Artinya, begitu manusia mengabdi pada syahwat, ia kehilangan orientasi moral. Dalam logika Qardhawi, ini bukan soal mengekang fitrah, tapi mengendalikannya agar tidak menjadi tiran.

“Menahan hawa nafsu adalah prioritas besar dalam agama,” tegas Qardhawi. Ia merujuk QS an-Nazi’at: 40-41—“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”

Baca juga: Mengenal Tipu Daya Hawa Nafsu yang Merusak Ibadah

Jika hawa nafsu dulu menjelma perebutan kursi khalifah, kini ia berwujud likes, views, dan uang panas. Media sosial memperluas ruang untuk memuaskan ego. Para influencer berlomba menampilkan sensasi. Di balik layar, algoritma bekerja seperti setan digital, mendorong orang menuruti nafsu tanpa henti.

Fenomena ini dikritisi oleh Haidt dalam The Righteous Mind (2012). Ia menjelaskan bagaimana dorongan emosional, bukan rasional, mendominasi perilaku manusia di era informasi. “Kita mengira berpikir, padahal hanya membenarkan apa yang kita inginkan,” tulisnya.

Ironisnya, negara pun tak imun. Korupsi yang membelit pejabat, manipulasi anggaran, hingga politik balas jasa, semua kembali pada akar yang sama: hawa nafsu yang dilegalkan.

Fiqh Prioritas: Jalan Menahan Diri

Dalam Fiqh Prioritas, Qardhawi menawarkan perspektif yang relevan: mendahulukan apa yang lebih penting daripada yang sekadar penting. Ia menegaskan, mengendalikan hawa nafsu bukan hanya soal pribadi, tapi agenda peradaban. Sebab, tanpa pengendalian diri, hukum dan institusi hanyalah formalitas.

Baca juga: Menjadi Manusia Bebas dengan Mengendalikan Hawa Nafsu

“Manusia yang menguasai nafsunya,” tulis Qardhawi, “adalah manusia merdeka. Sebaliknya, yang dikuasai nafsu adalah budak, meski ia memerintah dunia.”

Peringatan ini seakan menantang kita: siapa yang sebenarnya kita sembah? Tuhan yang Maha Esa atau nafsu yang bercokol di dada? Jika Al-Qur’an menegaskan bahwa hawa nafsu bisa menjadi tuhan, maka perlawanan terhadapnya adalah jihad besar.

Sebagaimana sabda Nabi: “Peperangan paling besar adalah melawan hawa nafsu.” (HR Baihaqi). Dan ia bukan sekadar teori. Ia medan laga sunyi, tempat manusia diuji setiap hari.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)