LANGIT7.ID-Di tengah pusaran kisah para nabi dan tokoh besar dalam Al-Qur’an, ada sosok-sosok perempuan yang tampil dengan sikap luar biasa. Mereka hadir bukan sebagai figur pelengkap, melainkan sebagai teladan dalam iman, kecerdikan, hingga keberanian moral.
Dari ibu Musa hingga Khaulah binti Tsa’labah, Al-Qur’an merekam peran perempuan sebagai subjek sejarah yang aktif, berani mengambil keputusan, bahkan menggugat ketidakadilan.
Sejarawan Fazlur Rahman dalam Islam (1979) menyebut bahwa Al-Qur’an menempatkan perempuan dalam ruang spiritual yang setara dengan laki-laki. “Kesalehan, keberanian, dan kepasrahan bukanlah monopoli satu jenis kelamin,” tulisnya.
Ibu MusaKisah dimulai dari seorang ibu yang hatinya kosong karena cemas: ibu Musa. Allah mengilhaminya untuk meletakkan bayi Musa di Sungai Nil. Keputusan itu tampak mustahil, bahkan absurd. Namun ia patuh. Dan kepatuhan itu menjadi penyelamat.
Baca juga: Kisah Ibu Nabi Musa dan Kepatuhannya terhadap Perintah Allah Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah (2000), sikap ibu Musa mencerminkan puncak tawakal. “Ia nyaris membocorkan rahasia, tetapi Allah teguhkan hatinya. Inilah potret keimanan yang bergulat dengan rasa takut,” tulisnya.
Saudari MusaPerjalanan Musa bayi tak berhenti di sungai. Kakaknya—seorang gadis kecil—mengawasi dari jauh, lalu dengan cerdas menawarkan jasa ibu Musa sebagai penyusu. Strategi sederhana itu memastikan Musa kembali ke pangkuan ibunya.
Antropolog Asma Barlas dalam Believing Women in Islam (2002) menegaskan: narasi ini menunjukkan bagaimana perempuan dalam Al-Qur’an tampil sebagai pengambil inisiatif. Mereka tidak pasif, melainkan agen yang menggerakkan sejarah.
Baca juga: Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan Gadis MadyanKetika Musa dewasa dan melarikan diri ke Madyan, ia bertemu dua gadis yang kesulitan memberi minum ternak. Musa menolong mereka. Salah satu gadis itu kemudian berkata kepada ayahnya: “Ambillah dia bekerja, karena ia kuat dan dapat dipercaya.”
Ucapan singkat itu mencerminkan kepekaan sosial dan kekuatan firasat. Sebagaimana ditulis Nasr Hamid Abu Zayd dalam Mafhūm al-Naṣ (1990), Al-Qur’an menampilkan ucapan perempuan ini sebagai penilaian karakter, bukan sekadar perasaan.
Istri Fir’aunDi tengah tirani Fir’aun, istrinya justru tampil sebagai simbol iman. Ia berdoa agar Allah membangunkan rumah di surga, jauh dari kekejaman suaminya.
Kisah ini kerap dibaca para mufasir sebagai potret independensi spiritual perempuan. Sejarawan Karen Armstrong dalam The Battle for God (2000) menekankan, tokoh ini menunjukkan bahwa iman personal dapat berdiri tegak bahkan di bawah tekanan politik paling brutal.
Baca juga: Sapi, Darah, dan Seorang Anak yang Berbakti: Kisah di Era Nabi Musa Istri ImranIstri Imran menazarkan anak dalam kandungannya untuk pengabdian di Baitul Maqdis. Sikap ini adalah potret dedikasi generasi: bahwa sejak rahim, ia menyiapkan penerus untuk agama dan umat.
Penelitian Amina Wadud dalam Qur’an and Woman (1999) menunjukkan, tindakan istri Imran memperlihatkan kesadaran spiritual perempuan sebagai aktor utama dalam kesinambungan nilai.
Khaulah binti Tsa’labahDi era Nabi Muhammad, Khaulah binti Tsa’labah menggugat suaminya yang menziharnya. Ia mengadu langsung kepada Rasulullah, menolak ketidakadilan. Ayat dalam surah al-Mujadilah turun sebagai jawaban: Allah mendengar keluhannya.
Cerita ini kerap dikutip sebagai bukti inklusi perempuan dalam proses hukum Islam. Menurut Khaled Abou El Fadl dalam Speaking in God’s Name (2001), ayat ini menegaskan pentingnya “mendengar suara pinggiran” dalam pembentukan hukum dan moral publik.
Baca juga: Doa-doa Nabi Musa yang Tak Lelah Melawan Fir’aun Benang MerahDari ibu Musa hingga Khaulah, benang merahnya jelas: Al-Qur’an mengabadikan perempuan sebagai aktor yang mengajarkan sikap fundamental—kepatuhan, kecerdikan, firasat, iman, dedikasi, hingga keberanian menggugat ketidakadilan.
Di tengah perdebatan modern tentang posisi perempuan, kisah-kisah ini seolah menjadi suara abadi: bahwa iman bukan hanya soal ritual, melainkan juga keberanian mengambil sikap.
Seperti ditulis Fazlur Rahman, “Al-Qur’an tidak menciptakan manusia pasif, tetapi manusia yang sadar akan peran sejarahnya.”
(mif)