LANGIT7.ID, Jakarta -
Tafsir surah Al Maun tentang salat menjadi pedoman bagi
umat Islam. Ibadah ini merupakan rukun dari Arkanul Islam yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali.
Rasulullah menegaskan, "Antara seorang hamba dengan kekufuran adalah meninggalkan
salat." (HR Muslim).
Bahkan, Nabi tidak mensalatkan orang mati yang semasa hidupnya meninggalkan ibadah 5 waktu tersebut.
Sudah sewajibnya bagi seorang Muslim terus berusaha memperbaiki kualitas ibadahnya. Tidak ada alasan untuk meninggalkan salat, bahkan mereka yang memiliki uzur, ada keringanan atau rukhsah.
Baca juga: Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 32: Berkurban Mengagungkan Syiar AllahSemisal mereka yang dalam perjalanan (
safar) bisa menjamak atau qasar shalat. Begitu juga orang-orang sakit bisa mengerjalan shalat sambil duduk atau berbaring. Bahkan orang yang berperang sekali pun tak boleh meninggalkan shalat.
Shalat yang lima waktu tersebut jangan sekali-kali ditinggalkan. Jika salah satunya dengan segaja ditinggalkan, misalnya
shalat Ashar, dengan alasan sibuk bekerja, rapat, pesta, dan sebagainya, maka kita akan mendapatkan peringatan dari Nabi SAW.
"Barang siapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja, maka hancur segala (pahala) amalnya." Dalam riwayat lain: "Barang siapa yang meninggalkan shalat Ashar, ia seperti orang yang dirampok hartanya dan diculik keluarganya (tidak punya apa-apa)" (HR Bukhari). Sedangkan bagi orang yang tertidur atau terlupa shalat, maka hendaknya ia melaksanakan shalat pada saat ia bangun saat ia ingat (HR Bukhari dan Muslim).
Bagaimana dengan tafsir surah Al Maun, Allah SWT menyatakan: "Celakalah orang-orang yang shalat". Pernyataan ini tentu saja merupakan sebuah peringatan bagi orang yang shalat: bahwa shalat itu tidak sekadar ada dan tidak sekadar dilaksanakan.
Baca juga: Tafsir Surah Al Kahfi, Bacaan Arab, Latin dan KeutamaannyaKita sering mendengar pernyataan: "Janganlah terlalu mempersalahkan soal-soal sepele dan furu'iyyah. Shalat pakai
qunut atau tidak, tidak usah dipermasalahkan. Yang harus dipermasalahkan adalah orang yang tidak mau shalat."
Pernyataan seperti itu tentu sulit diterima seluruhnya. Sebab, berdasarkan peringatan Allah di atas, ternyata bukan hanya orang yang tidak salat, orang yang biasa salat pun bisa celaka.
Ada dua variabel yang menjadi penyebab orang yang shalat bisa celaka, yakni sahun (lalai) dan yuraun (riya).
Riya, yang oleh Nabi SAW. disebut Syirkul ashgar (syirik kecil) adalah kebalikan dari ikhlas.
Riya merupakan variabel pertama penyebab tidak diterimanya shalat. Tidak ada satu amal pun yang akan diterima Allah SWT tanpa keikhlasan.
Allah berfirman: "Dan jika kamu berbuat
syirik, maka hapuslah amalmu, dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi" (QS. az-Zumar (39: 65).
Rasulullah juga mengingatkan: "Janganlah kau campur adukkan antara ketaatan kepada Allah dengan keinginan untuk mendapat pujian manusia, nanti hancur amalmu." (HR Ibnu Hibban).
Variabel kedua adalah "Sahun", yang bisa bermakna lalai ketika seseorang sedang melaksanakan shalat, pikiran dan hatinya tidak konsentrasi, tidak khusyuk, ia tidak sadar bahwa dirinya sedang shalat, akibat godaan setan.
Baca juga: Tafsir Surat At-Taubah Ayat 103: Zakat Dapat Jadi Penggugur DosaNabi mengingatkan: "Apabila dikumandangkan azan, setan lari terbirit-birit, bahkan terkentut-kentut, sampai ia tidak mendengar
azan itu. Apabila azan selesai, setan datang lagi, dan apabila dikumandangkan iqamat, setan lari lagi, dan apabila selesai iqamat, setan lari lagi, dan apabila selesai iqamat, setan datang lagi dan menyelinap ke dalam jiwa manusia dan berkata: "Ingatlah kamu ke sana, ingatlah kamu ke sini. Sehingga orang itu tidak tahu lagi berapa rakaat ia shalat." (HR Bukhari).
Sahun juga bisa bermakna melalaikan aturan kaifiyat atau tata laksana shalat, tidak mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang diinstruksikannya: “Shalatlah kamu seperti kalian melihat (mendapatkan) aku shalat" (HR. Bukhari). Tidak sedikit orang yang hanya berprinsip dalam soal niat bahwa yang penting ibadah itu ikhlas, tanpa mau memperhatikan atau mempedulikan masalah prinsip.
Baca juga: Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 90: Larangan Judi dan Minuman KerasSumber: Buku 'Risalah Shalat', Kumpulan Keputusan Dewan Hisbah Persatuan Islam.(bal)