LANGIT7.ID-Ada yang menyalahkan waktu atas nasibnya. “Sedang sial,” kata sebagian orang ketika gagal, atau “lagi mujur” ketika berhasil. Tapi Al-Qur’an, tulis Prof Dr M Quraish Shihab, justru membantah keyakinan itu secara tegas melalui surat pendek yang paling sering dihafal anak-anak: Al-‘Ashr.
“Tidak ada masa sial atau masa mujur,” tulisnya. “Yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang. Masa selalu bersifat netral.”
Surat Al-‘Ashr dibuka dengan sumpah: Wal ‘ashr—demi masa. Bagi Quraish, kata ‘ashr bukan sekadar “waktu” dalam arti umum, melainkan “saat hasil perasan tenaga manusia”—masa ketika segala daya telah dikeluarkan, dan hasilnya tampak. Dalam bahasa Arab, akar kata ashara berarti “memeras sesuatu hingga keluar sari yang tersembunyi di dalamnya.” Maka, ketika Tuhan bersumpah dengan ‘ashr, itu berarti Ia menegaskan betapa berharganya waktu yang diperas dengan kerja, bukan waktu yang terbuang.
Namun sumpah itu segera diikuti vonis: “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS Al-‘Ashr [103]: 2).
Waktu sebagai Wadah Kerugian Quraish Shihab mengurai kata khusr—rugi, sesat, celaka, lemah—yang dalam ayat itu berbentuk nakirah (indefinitif). Bentuk itu menandakan makna umum dan luas, sehingga khusr berarti “kerugian besar dan beraneka ragam.”
Lebih jauh, ia menyoroti kata
fi (di dalam). Dalam ungkapan “manusia berada di dalam kerugian,” makna preposisi itu tidak sekadar “terkena kerugian,” tapi “tercelup di dalamnya.” Seperti baju yang seluruhnya di dalam lemari, manusia terbungkus total oleh kerugian—tak ada bagian diri yang selamat dari dampaknya.
Mengapa bisa begitu? Karena waktu adalah modal. Ketika modal itu dibiarkan menguap, bukan hanya keuntungan yang hilang, tapi juga modal itu sendiri.
Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan: “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih bisa diharapkan besok. Tetapi waktu yang berlalu hari ini tak akan pernah kembali.”
Quraish menempatkan ucapan itu sebagai pengingat bahwa kehilangan waktu jauh lebih fatal ketimbang kehilangan harta. Sebab waktu, sekali lewat, tidak memiliki pengganti.
Rugi, kata Quraish, bukan hanya ketika waktu tidak diisi, tapi juga ketika diisi dengan hal yang sia-sia atau negatif. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW: “Dua nikmat yang sering disia-siakan oleh banyak orang: kesehatan dan kesempatan.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas).
Dari Netral ke Nasib Dalam tafsirnya, Quraish menekankan bahwa waktu tidak bersalah. Ia hanyalah “ruang kosong” yang bisa diisi dengan nilai atau dibiarkan hampa. Kesialan dan keberuntungan bukan sifat waktu, melainkan akibat pilihan manusia dalam mengisinya.
Ia menulis: “Masa adalah modal utama manusia. Apabila tidak diisi dengan kegiatan, waktu akan berlalu begitu saja. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan diperoleh, modal pun telah hilang.”
Makna ‘ashr sebagai waktu sore—saat matahari condong ke barat—menurut Quraish juga memberi isyarat simbolik. Sore adalah tanda akhir, detik sebelum matahari tenggelam. Maka, manusia yang menyia-nyiakan waktu baru menyadari kerugiannya ketika “mataharinya” hampir padam—saat hayat mulai terbenam.
Gaya tafsir Quraish Shihab menempatkan Al-‘Ashr bukan sekadar nasihat moral, tetapi refleksi eksistensial. Ia menulis dengan nada peringatan lembut: bahwa manusia sesungguhnya tidak melawan waktu, melainkan dirinya sendiri.
Kerugian, dalam pandangan Al-Qur’an, bukan hasil takdir, melainkan hasil lalai. Siapa yang membiarkan waktunya berlalu tanpa isi, ia sedang menulis kehilangan demi kehilangan di lembar hidupnya sendiri.
Karena itu, surat tiga ayat ini berakhir dengan jalan keluar: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Empat hal yang menjadi penangkal dari kerugian universal yang menimpa manusia.
Dan pada akhirnya, waktu tetap netral. Tapi di tangan manusia, ia bisa menjadi taman amal—atau kuburan penyesalan.
(mif)