LANGIT7.ID - Guru Besar Tamu Universitas Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam, Prof. H. Abdul Somad Batubara, Lc., D.E.S.A., Ph.D atau akrab disapa Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam karyanya berjudul Kajian 37 Masalah Populer, menyebut perayaan maulid boleh saja dilakukan. Maulid merupakan tradisi baik masyarakat muslim di berbagai belahan dunia dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Rasulullah lahir pada 12 Rabiul Awal di Kota Makkah. Tahun ini, peringatan maulid akan jatuh pada 19 Oktober 2021 mendatang.
Baca Juga: Asal Mula Maulid Nabi, Dipopulerkan Salahuddin Al Ayubi untuk Membebaskan Al Aqsha
UAS mengutip Fatawa al-Azhar yang dinyatakan oleh Syekh ‘Athiyyah Shaqar. Dalam kitab itu, Imam al-Suyuti, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Ibnu Hajar al-Haitsami berpendapat, memperingati maulid Nabi itu baik, meskipun demikian mereka mengingkari perkara-perkara bid’ah yang menyertai perayaan itu.
Pendapat mereka berdasarkan Firman Allah Ta’ala dalam surah Ibrahim ayat 5, “Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”.
Imam an-Nasa’i, Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id al-Musnad, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Ubay bin Ka’ab meriwayatkan dari Rasulullah, bahwa Rasulullah menafsirkan kalimat Ayyamillah sebagai nikmat-nikmat dan karunia Allah.
Dengan demikian maka makna ayat ini: “Dan ingatkanlah mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia Allah”.
Sementara, kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat serta disyukuri. Terkait hal ini, ada kisah yang sangat menginspirasi dan kerap dijadikan landasan bagi-bagi orang yang merayakan maulid, yakni kisah pembebasan Tsuwaibah.
Tsuwaibah adalah hamba sahaya milik Abu Lahab. Ketika Rasulullah Saw lahir, ia kembali ke rumah tuannya menyampaikan berita kelahiran Nabi. Abu Lahab sangat senang mendengar berita itu dan membebaskan Tsuwaibah dari status hamba sahaya.
Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib bermimpi bertemu dengan Abu Lahab, ia lalu bertanya tentang hal itu. Abu Lahab menjawab, “Saya tidak mendapatkan kebaikan setelah kamu, hanya saja saya diberi minum di sini, karena saya membebaskan Tsuwaibah dan azab saya diringankan setiap hari Senin."
Baca Juga: Rasulullah Tak Pernah Marah karena Urusan Pribadi, Tapi Marah Saat Ajaran Islam Dicederai
Kisah ini disebutkan para ulama hadits dan Sirah. Disebutkan oleh Imam Abdurrazzaq al-Shan’ani dalam kitab al-Mushannaf, Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (Kitab: al-Nikah, Bab: wa Ummahatukum allati Ardha’nakum).
Imam Suyuti menukil komentar imam para ahli Qira’at al-Hafizh Syamsuddin bin al-Jazari dalam kitab al-Hawi li al-Fatawa, “Jika Abu Lahab kafir yang disebutkan celanya dalam al-Qur’an, ia tetap diberi balasan meskipun ia di dalam neraka, karena rasa senangnya pada malam maulid Nabi.
Maka bagaimanakah keadaan seorang muslim yang bertauhid dari umat Nabi Muhammad Saw yang senang dengan kelahirannya dan mengerahkan segenap kemampuannya dalam mencintai Rasulullah. Sungguh, pastilah balasannya dari Allah SWT ia akan dimasukkan ke dalam surga karena karunia-Nya.”
Pendapat Ulama Tentang Peringatan Maulid NabiIbnu Taimiyah mengatakan, mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai perayaan terkadang dilakukan sebagian orang, maka ia mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW.
Sementara Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebut hukum asal melaksanakan maulid adalah bid’ah, tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan Salafus Shalih dari tiga abad pertama Hijriah. Akan tetapi, maulid itu juga mengandung banyak kebaikan dan sebaliknya.
Siapa yang dalam melaksanakannya mencari kebaikan-kebaikan dan menghindari hal-hal yang tidak baik, maka maulid itu adalah bid’ah hasanah. Dan siapa yang tidak menghindari hal-hal yang tidak baik, berarti bukan bid’ah hasanah.
Syekh Yusuf al-Qaradhawi juga memiliki pendapat yang sama tentang perkara ini. Dia menjelaskan, ada bentuk perayaan yang dapat dianggap dan diakui memberikan manfaat bagi kaum muslimin. Meski semua orang tahu, para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi, bahkan juga peristiwa hijrah, dan perang Badar sebab mereka mengalami secara langsung semua peristiwa itu. Namun karena para sahabat hidup bersama Rasulullah SAW, tidak diragukan Nabi Muhammad hidup di hati mereka dan tidak pernah hilang dari pikiran mereka.
Baca Juga: Teladan Akhlak dan Cinta Rasulullah pada Anak-anak, Tak Pernah Menolak Keinginan Mereka
Ustadz Abdul Somad menjelaskan, memang benar bahwa ada beberapa bentuk bid’ah terjadi, namun perayaan maulid Nabi untuk mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah Rasulullah dan kebenaran risalah beliau.
“Ketika saya merayakan maulid Nabi, maka saya sedang merayakan lahirnya risalah Islam. Saya mengingatkan manusia tentang risalah dan sirah Rasulullah Saw,” kata Ustadz Abdul Somad melalui kanal youtube Al-Qalam channel berjudul “Bid'ah & Maulid bedah (buku 37 Masalah Populer)” dikutip Jumat (8/10/2021).
Maulid bisa berarti mengingatkan umat manusia tentang peristiwa agung dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab: 21).
Peringatan maulid Nabi merupakan sarana untuk mengingatkan kembali umat manusia akan makna-makna perjuangan Rasulullah dan para sahabat. Hasil positif dari maulid adalah mengikat kembali kaum muslimin dengan Islam dan mengeratkan mereka kembali dengan sejarah Nabi Muhammad. Ini agar mereka bisa menjadikan Rasulullah Saw sebagai suri teladan.
Baca Juga: Cinta Rasulullah pada Fakir Miskin, Dahulukan Sedekah Sebelum Penuhi Kebutuhan Pribadi
“Adapun hal-hal yang keluar dari semua ini, maka semua itu bukanlah perayaan maulid Nabi dan kami tidak membenarkan seorang pun untuk melakukannya,” katanya.
Peringatan maulid Nabi tidak lebih dari sekadar ekspresi kegembiraan seorang hamba atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Muhammad. Dari beberapa pendapat ulama diatas dapat ditarik kesimpulan, hal yang dipermasalahkan itu bukan peringatannya, akan tetapi cara memperingatinya.
Jika dengan peringatan maulid kesadaran umat semakin bertambah, membangkitkan semangat menjalankan agama, menyadarkan generasi muda akan Nabi dan keagungan agamanya, maka maulid menjadi sesuatu yang baik.
“Akan tetapi perlu inovasi dalam peringatan maulid Nabi, tidak hanya sekedar seremonial tanpa makna yang membuat umat terjebak pada rutinitas,” tuturnya.
Maulid harus dijadikan momen sebagai wasilah untuk bertakwa kepada Allah. Syekh Al-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki mengatakan, perkumpulan-perkumpulan (maulid) ini adalah wasilah/sarana terbesar untuk berdakwah kepada Allah dan merupakan kesempatan emas yang semestinya tidak terlewatkan.
Bahkan para da’i dan ulama mesti mengingatkan umat tentang Nabi Muhammad Saw, tentang akhlaknya, adab sopan santunnya, keadaannya, sejarah hidupnya, muamalah dan ibadahnya. Memberikan nasihat kepada kaum muslimin dan menunjukkan jalan kebaikan dan kemenangan, memperingatkan umat akan musibah, bid’ah, kejelekan dan fitnah.
Baca Juga: Wawancara Eksklusif UAS: Fiqih Terlaksana Sempurna dengan Bangkitnya Ekonomi Islam(jqf)