Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 03 Mei 2026
home masjid detail berita

Orang yang Tidak Bertobat adalah Orang yang Zalim

miftah yusufpati Jum'at, 28 November 2025 - 05:45 WIB
Orang yang Tidak Bertobat adalah Orang yang Zalim
Konsep taubat kembali menjadi lensa penting untuk membaca hubungan manusia dengan dosa, bumi, dan dirinya sendiri. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Ayat itu turun tajam, memotong keangkuhan manusia seperti bilah yang tak tumpul oleh waktu. Dalam QS Al Hujurat ayat 11, setelah melarang kaum beriman saling mengolok, mencela, dan mempermalukan sesamanya, Al Quran menutup dengan ultimatum: siapa yang tidak bertaubat adalah orang zalim. Bagi Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam At Taubat Ila Allah, kalimat itu bukan kiasan teologis. Ia adalah vonis etik: keengganan bertaubat berarti membiarkan kezalimannya menetap.

Zalim, dalam konteks ayat itu, bukan hanya tindakan merampas hak atau menindas fisik. Ia hadir dalam bentuk paling halus: penghinaan, merendahkan martabat orang lain, menormalisasi ejekan, hingga membiarkan luka yang kita tinggalkan tanpa usaha memulihkannya. Al-Qardhawi menafsirkan bahwa tindakan seperti itu menggeser status seseorang dari mukmin menjadi fasik. Setelah iman, seburuk-buruk nama adalah kefasikan—dan pintu keluar satu-satunya adalah taubat.

Para ahli fikih sosial kontemporer seperti Muhammad Abu Zahrah membaca ayat ini sebagai kritik etika sosial: dosa interpersonal tidak selesai hanya dengan istighfar. Ia menuntut perubahan perilaku, pemulihan hubungan, dan koreksi atas kezaliman yang kita ciptakan. Sementara Fazlur Rahman menyebut taubat sebagai mekanisme pembalikan arah—transformasi, bukan sekadar permintaan maaf.

Dalam studi-studi etika Qurani modern, seperti penelitian Ingrid Mattson dan Abdulaziz Sachedina, zalim dipahami sebagai tindakan melanggar batas—baik batas moral, sosial, maupun kemanusiaan. Karena itu, seseorang yang tidak bertaubat setelah melukai orang lain sedang mempertahankan posisi zalim. Dan Al Quran telah memberi daftar konsekuensinya: tidak beruntung (QS Yusuf: 23), tidak dicintai Allah (QS Ali Imran: 57), tidak diberi petunjuk (QS Al Maidah: 51), hingga ditinggalkan di neraka dalam keadaan berlutut (QS Maryam: 71–72). Sebuah nasib yang digambarkan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menggugah kesadaran.

Dalam pengembangan literatur etika publik Islam, sejumlah peneliti seperti Tariq Ramadan dan Jasser Auda menegaskan bahwa taubat memiliki dimensi struktural. Ketika kezaliman mewujud sebagai budaya—perundungan, ujaran kebencian, pengucilan sosial—taubat tidak cukup dilakukan secara individual. Ia harus menjadi gerakan sosial: memperbaiki bahasa publik, menata ulang hubungan sosial, serta merestorasi martabat orang-orang yang direndahkan.

Di banyak masyarakat, terutama dalam ruang digital hari ini, dosa yang disebutkan Al Hujurat ayat 11 menjadi wabah: ejekan massal, label buruk, pembunuhan karakter. Dalam konteks ini, taubat bukan hanya perintah teologis, tetapi mekanisme penyembuhan sosial. Tanpa itu, kezaliman akan menjadi norma, dan umat kehilangan kepekaan dasar—seperti tubuh yang kehilangan saraf rasa sakit.

Sejumlah pemikir etika Islam modern, termasuk dalam penelitian-penelitian tentang ekologi moral, melihat bahwa konsep zalim sangat dekat dengan tindakan melampaui batas terhadap sesama maupun terhadap lingkungan. Manusia yang enggan bertaubat dari perilaku destruktif—baik terhadap orang lain maupun terhadap alam—mengulangi pola yang sama: melanggar batas yang ditetapkan Tuhan. Dalam kerangka ini, taubat menjadi titik balik bagi dua jenis kerusakan sekaligus.

Di ujung pembahasan panjang al-Qardhawi, pesan Al Quran itu kembali sederhana: taubat adalah kewajiban yang membebaskan manusia dari status zalim. Menolak taubat berarti merawat kezaliman dalam dirinya. Dalam dunia yang kian keras dan saling mencederai, ayat itu terasa seperti peringatan yang sengaja dihidupkan ulang: bahwa keimanan bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang kesediaan mengakui salah dan memulihkan apa yang sudah rusak.

Dan dalam laku sehari-hari, mungkin itulah batas paling rumit: keberanian untuk berhenti, berbalik, lalu menempuh jalan baru yang tak lagi menzalimi siapa pun.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 03 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)