LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 46 kabupaten di provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada pekan lalu meninggalkan polemik
kayu-kayu gelondongan yang terbawa banjir di wilayah tersebut.
Ahli Kebijakan Hutan
IPB University, Prof Dodik Ridho Nurochmat mengungkapkan asal kayu gelondongan yang terbawa arus saat bencana longsor di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.
Menurut Dodik, kayu-kayu besar dan kecil yang tampak berserakan di lokasi bencana tidak berasal dari satu penyebab tunggal.
Baca juga: Bencana Banjir Bandang Disebut Akibat Ulah Manusia, Anwar Abbas Kritik Keras Pemerintah dan PengusahaIa menilai kayu-kayu tersebut kemungkinan berasal dari campuran penebangan,
pohon tumbang, serta sisa
land clearing yang tidak dibersihkan.
“Bisa dari penebangan lama atau pembersihan lahan yang tidak tuntas. Jika terbawa arus air, kayu itu akan mengambang. Namun bisa juga dari penebangan kayu yang baru. Untuk itu harus ada investigasi,” kata Dodik seperti dinukil dari laman IPB University, Rabu (3/12/2025).
Dodik belum dapat memastikan apakah kayu-kayu tersebut berasal dari kayu gelondongan baru atau kayu lama yang terseret arus.
Ia menambahkan, debit air besar saat longsor memungkinkan pohon tumbang ikut hanyut sehingga menambah campuran material kayu di lokasi.
Lebih lanjut, Dodik menjelaskan perbedaan kayu hasil pembalakan dan tumbang alami.
Baca juga: Update Banjir Sumatera, Korban Bertambah: 604 Orang Meninggal dan 464 Orang Hilang"Kayu hasil tebangan pasti memiliki bekas gergaji yang jelas. Sementara kayu yang tumbang alami tidak menunjukkan pola potongan yang rapi," jelasnya.
Namun ia menilai sulit melakukan identifikasi detail hanya dari video atau foto.
“Dari gambar terlihat potongan kayu berukuran kecil dan besar. Tapi tidak bisa dilihat secara detail apakah potongannya rapi atau akibat tumbang alami,” katanya.
Dodik menekankan perlunya pembenahan tata kelola lingkungan agar kejadian serupa dapat dicegah.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol mengatakan kayu gelondongan (log) dalam banjir Sumatra merupakan hasil dari pembukaan kebun sawit.
Hanif menambahkan, pohon yang ditebang untuk membuka kebun sawit itu dipinggirkan, tidak dibakar. Sehingga kayu gelondongan yang dipinggirkan itulah yang terseret banjir bandang Sumatra.
Baca juga: Update Korban Banjir dan Longsor di Sumatera, 303 Orang Meninggal Dunia"Ada indikasi pembukaan-pembukaan kebun sawit yang menyisakan log-log. Karena memang kan zero burning, sehingga kayu itu tidak dibakar, tapi dipinggirkan," kata Hanif di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
(est)