LANGIT7.ID, Bandung - Di era digital keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah kerap diukur dari di media sosial. Padahal opini yang muncul di media sosial belum tentu menggambarkan realitas sebenarnya.
"Maka dari itu, kehadiran media arus utama yang setia pada akurasi, indenpendensi, dan etika pers saat ini sangat dibutuhkan pemerintah sebagai penyimbang informasi yang beredar di media sosial yang relatif sulit dijadikan referensi valid," ujar Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul dalam keterangannya, Jumat (8/10/2021).
Baca Juga: Uu di HUT Ke-76 TNI: Kondusif Jadi Modal Utama PembangunanMenurut Uu, kepercayaan publik dibentuk dari performa media dalam membeberkan fakta kepada masyarakat secara akurat, informatif, dan dapat dipertanggungjawabkan. Media diharapkan menjadi pemersatu dan bukan pemecah bangsa.
Harus diakui penetrasi media saat ini semakin kuat di masyarakat seiring pertumbuhan media digital. Semua lapisan masyarakat kini semakin terliterasi dengan berbagai informasi.
"Kalau dulu orang butuh media hanya kalangan-kalangan tertentu yaitu pengusaha atau para pejabat. Hari ini media dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk milenial," katanya.
Baca Juga: Operasional Pabrik Tepung Tapioka di Karawang Dihentikan, Ini PenyebabnyaMaka dari itu, kemitraan antara Pemda Provinsi Jawa Barat dengan media adalah sebuah keniscayaan. Hubungan saling membutuhkan dan menguntungkan diharapkan senantiasa dapat berjalan baik dengan dinamikanya sendiri.
"Kami butuh media karena sekali pun kami mempunyai kewenangan sebagai pemerintah tetap kami memiliki keterbatasan pandangan, penglihatan," ujarnya.
Pada tahap ini, kata Uu, media berperan menyebarluaskan informasi dan sosialisai program Pemda Provinsi Jawa Barat ke masyarakat. "Itulah fungsinya media. Sehingga program-program kami bisa sampai pada masyarakat lewat media. Keinginan harapan masyarakat pun bisa sampai pada kami selaku pemerintah dengan media," ucapnya.
Baca Juga:
Kunjungi Ponpes Syamsul Huda, Uu Tebar 100 Ribu Benih Ikan
Pemprov Jabar Perkuat Program Satu Desa Satu Hafidz(asf)