Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 09 Mei 2026
home masjid detail berita

Mitos Cahaya dan Manusia Biasa: Menelusuri Pergulatan Tafsir Asal-usul Nabi

miftah yusufpati Selasa, 09 Desember 2025 - 17:00 WIB
Mitos Cahaya dan Manusia Biasa: Menelusuri Pergulatan Tafsir Asal-usul Nabi
Pemisahan simbol dan fakta itu bukan soal merendahkan Nabi, tetapi justru menjaga kemurnian risalahnya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah tradisi masyarakat Muslim yang kaya kisah dan prosa devotional, sebagian narasi tentang Nabi Muhammad SAW berkembang di luar pagar dalil. Salah satunya: anggapan bahwa Nabi adalah makhluk pertama—diciptakan dari cahaya—yang kemudian menjadi sumber terciptanya alam. Gagasan ini hidup dalam nasyid maulid, syair-syair abad pertengahan, hingga ceramah populer. Namun, dalam Fatawa Qardhawi, Syaikh Yusuf al-Qardhawi memilih jalur yang lebih ketat: menimbang hadis-hadis itu dengan standar ilmu.

Qardhawi mengutip keputusan para ahli hadis klasik—dari Ibn Hajar hingga al-Dzahabi—bahwa riwayat tentang penciptaan Nabi dari cahaya atau penetapannya sebagai makhluk pertama tak ada yang sahih. Hadis-hadis yang menyebutkan makhluk pertama sebagai qalam, akal, atau cahaya Nabi saling bertentangan, sehingga tidak dapat dijadikan fondasi aqidah. Sikap ini bukan baru. Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa juga menegaskan bahwa keutamaan Nabi tidak bertumpu pada waktu penciptaannya, tetapi pada kesempurnaan akhlak dan risalahnya.

Sejumlah pemikir modern menggemakan kesimpulan itu dalam konteks yang lebih luas. Dalam wacana sejarah Islam, Montgomery Watt mengingatkan bahwa upaya mengangkat Nabi ke posisi metafisik cenderung muncul dari dorongan devotion, bukan tradisi ilmiah. Fazlur Rahman bahkan menyebutnya sebagai bentuk “puitisasi kenabian”—tindakan memahami Nabi lebih sebagai simbol kosmik ketimbang manusia yang dipilih Tuhan.

Al-Qur’an sendiri, sebagaimana dikutip Qardhawi, memusatkan perhatian pada kemanusiaan Nabi: ia lahir melalui proses biologis, hidup sebagai manusia, dan berpulang sebagai manusia. Dari sudut pandang hermeneutika, ini sejalan dengan analisis Nasr Hamid Abu Zayd yang melihat Al-Qur’an menegaskan identitas Nabi sebagai manusia agar wahyu bisa diteladani, bukan disembah. Pesan itu jelas dalam ayat-ayat seperti Al-Kahfi: 110 atau Al-Isra’: 93, yang memaksa umat mengakui manusia sebagai medium wahyu, bukan sebagai objek kultus.

Meski demikian, tradisi sufi sejak abad ke-9 mengangkat konsep Nur Muhammad sebagai gagasan metaforis: Nabi sebagai cahaya petunjuk, bukan entitas penciptaan fisik. Dalam tulisan Annemarie Schimmel tentang mistisisme Islam, ia menyebut doktrin itu sebagai simbol tentang “prinsip kenabian yang menerangi sejarah manusia,” bukan eksposisi kosmologi literal. Perbedaan antara simbol dan fakta inilah yang sering kabur di tangan literatur populer.

Qardhawi sendiri menempatkan metafora itu pada porsinya. Nabi adalah cahaya—tetapi dalam kapasitas risalah, bukan penciptaan. Ia mengutip ayat Al-Ahzab: 45–46—penyeru kepada agama Allah dan cahaya yang menerangi. Pemaknaan ini dekat dengan gagasan Muhammad Asad yang melihat istilah *nur* dalam Al-Qur’an sebagai metafora hidayah, bukan unsur ontologis.

Pentingnya pelurusan ini tampak dalam konteks sosial-keagamaan Indonesia. Tradisi maulid, dari Barzanji hingga Diba’, memuat ungkapan hiperbolis yang sering diterima tanpa penyaring. Dalam bingkai ilmiah, narasi semacam itu perlu dibedakan antara puisi keagamaan dan doktrin. Sejarawan Islamic devotional literature seperti Rudi Margono menunjukkan bahwa teks-teks maulid berkembang sebagai ekspresi cinta, bukan sumber aqidah.

Tegangan antara devosi dan disiplin ilmiah menjadi tema besar dalam pembacaan Qardhawi. Dengan merujuk ayat-ayat yang menegaskan kemanusiaan Nabi, ia seolah ingin mengembalikan umat kepada fondasi: keagungan Nabi bukan pada asal-usul fisik, tetapi pada etika, keteladanan, dan cahaya hidayah yang dibawanya. Mitos tentang penciptaan barangkali menggembirakan telinga, tetapi tidak menambah hormat pada Nabi—sebagaimana ia sendiri memperingatkan agar tidak dipuja seperti umat Nasrani memuja Isa.

Pada akhirnya, pemisahan simbol dan fakta itu bukan soal merendahkan Nabi, tetapi justru menjaga kemurnian risalahnya. Sebuah pelajaran tentang bagaimana cinta pada Nabi harus bersanding dengan ketepatan ilmu: teladan yang paling setia kepada ajaran manusia mulia yang justru menolak ditinggikan melebihi manusia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 09 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)