LANGIT7.ID, Jakarta,- - Musisi sekaligus dokter bedah kecantikan,
dr Tompi mengkritik komika
Pandji Pragiwaksono yang menyinggung kondisi fisik Wakil Presiden
Gibran Rakabuming Raka sebagai bahan guyonan di panggung Mens Rea beberapa waktu lalu.
Dalam salah satu segmen pertunjukan itu, Pandji menyebut
Wapres Gibran terlihat seperti orang
mengantuk.
Menurut Tompi, menertawakan kondisi fisik seseorang, apapun bentuknya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas.
Baca juga: Tompi Kritik Menkeu Purbaya Soal Dana Rp200 T ke Bank Himbara"
Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas." tulis Tompi di akun @dr_tompi.
Lebih lanjut, Tompi menjelaskan kondisi mata mengantuk seperti yang dimiliki Gibran, dalam dunia medis disebut dengan Ptosis, kondisi anatomis yang bersifat bawaan sejak lahir.
"
Apa yang terlihat “mengantuk” pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON," tambahnya.
Tompi menekankan, sebuah kritik sebaiknya disampaikan dengan cerdas. Bukan dengan merendahkan kondisi fisik seseorang.
"
Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir.Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya." kata Tompi.
Baca juga: Tompi Suguhkan Malam Penuh Cinta di Jazz Traffic Festival 2024Meski begitu, Tompi mengaku sepakat dengan materi yang dibawakan Pandji. Bahkan menurutnya apa yang diutarakan Pandji dalam panggung Mens Rea sebagian besar adalah benar.
"
Btw sy nonton shownya di Netflix, keren kok materinya. BANYAK BENERnya…" pungkasnya.
Kritik Tompi tersebut langsung mendapat respons dari Pandji Pragiwaksono lewat kolom komentar. Sang komika tidak menunjukkan keberatan, justru menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan.
"Keren Tom ???????? trimakasih koreksinya" kata Pandji, dilihat LANGIT7.ID pada Selasa (6/1/2026).
(est)