LANGIT7.ID - Aisyah Radiyallahu ‘anha merupakan satu-satunya gadis belia yang dinikahi oleh Rasulullah SAW. Tak heran jika beliau memperlakukan wanita mulia itu dengan memanjakannya. Beliau sangat menimbang kondisi Aisyah sesuai berdasarkan usia dan lingkungan.
Maka tak heran jika Rasulullah membiarkan Aisyah bermain dengan teman-teman sebayanya, meski itu berada di dalam rumah. Aisyah juga memiliki mainan, seperti boneka pada masa kini. Ia diperlakukan sebagai remaja yang tumbuh dengan segala kondisinya. Dia tumbuh sesuai perkembangan psikologis dan kejiwaannya.
Baca Juga: Cinta Sejati Rasulullah pada Khadijah, Cinta yang Tumbuh dalam Perjuangan
Pakar Sejarah Islam, Ustadz Asep Sobari, menceritakan, suatu ketika Rasulullah dalam perjalanan bersama Aisyah. Hingga saat tiba di tempat istirahat, beliau berseru, “Aisyah, ayo kita lari, siapa yang lebih dulu mencapai pohon itu.”
Rasulullah dan Aisyah pun berlomba lari disaksikan para sahabat. Aisyah menang. Setahun berlalu pada perjalanan serupa. Beliau kembali mengajak istri tercintanya itu lomba lari mencapai pohon tempat istirahat.
Aisyah mengatakan “ketika itu aku sudah mulai gemuk”. Artinya tidak seperti dulu ketika masih kurus. Maka kali ini, Aisyah kalah. Rasulullah tiba tiba berkata; “Kemenangan ini untuk membalas kekalahanku pada waktu dulu”.
Ini menandakan Rasulullah mencoba menempatkan diri pada posisi yang bisa dirasakan begitu dekat oleh Aisyah sebagai anak remaja pada masa itu. Ia bahkan mengingat peristiwa serupa dalam dua waktu berbeda hanya untuk menghangatkan rumah tangga beliau.
Mengingat kemenangan Aisyah saat lomba lari terdengar sepele. Tapi itu membuat Aisyah merasa nyaman. “Yaitu, di mana di pertandingan pertama beliau kalah namun di pertandingan kedua beliau menang,” kata Ustadz Asep Sobari melalui kanal youtube Sirah Community, dikutip Senin (12/10/2021).
Ada sejumlah pendapat berbeda mengenai usia Aisyah saat menikah dengan Nabi Muhammad. Sebagian pendapat menyebutkan Aisyah menikah dengan Rasulullah tiga tahun sebelum hijrah, saat berusia enam tahun. Namun, Rasulullah mulai menggaulinya pada saat berumur sembilan tahun.
Rasulullah berharap Aisyah dapat menjadi salah seorang pemimpin kaum ibu muslim yang dapat menyampaikan ajaran-ajaran beliau mengenai masalah perempuan. Ia adalah istri Nabi yang paling cepat dan cerdas memahami ajaran Islam.
Aisyah juga merupakan seorang ibu yang paling pandai dan ahli tentang hukum-hukum Islam. Terutama hukum yang berkaitan dengan kaum perempuan dan urusan rumah tangga.
Aisyah ditinggal Rasulullah wafat saat berusia 18 tahun. Rasulullah meninggal dunia pada Rabi'ul Awwal tahun ke-11 Hijriyah. Siti Aisyah wafat pada tahun 58 Hijriyah dalam usia kurang lebih 66 tahun di masa pemerintahan Mu'awiyah bin Abu Sufyan.
(jqf)