LANGIT7.ID-Jakarta; Potensi besar ekonomi umat melalui instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) ditekankan agar tidak sekadar menjadi aktivitas konsumtif selama Ramadhan. Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan menyatakan bahwa bulan suci ini merupakan momentum krusial untuk memperkuat kemandirian ekonomi, bukan sekadar meningkatkan belanja rumah tangga.
Pesan tersebut disampaikan Amirsyah dalam acara Silaturahim Dakwah Perkantoran di Masjid Jami At-Taubah, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Komisi Dakwah MUI dengan BPKH. Amirsyah menyoroti adanya tantangan besar dalam mengelola dana sosial keagamaan agar bisa bertransformasi menjadi pemberdayaan yang produktif, transparan, dan memiliki tata kelola yang baik.
Amirsyah mengingatkan bahwa peningkatan konsumsi yang biasanya terjadi di bulan Ramadhan seharusnya dibarengi dengan semangat berbagi yang setara. Dia mempertanyakan apakah lonjakan belanja nasional juga diikuti oleh kenaikan setoran ZISWAF. Menurutnya, aset berupa harta dan keluarga adalah amanah sekaligus ujian yang harus dikelola dengan tepat agar mendatangkan pahala dan keberkahan bagi umat.
“Jangan sampai harta membuat kita lalai. Kalau salah kelola, itu bisa menjadi sebab kerugian. Tapi kalau dikelola dengan benar, harta menjadi sarana keberkahan dan kemaslahatan,” katanya dilansir dari situs MUI, dikutip Rabu (25/2/2026).
Terkait fenomena belanja rumah tangga, Amirsyah memberikan catatan kritis terhadap perilaku ekonomi masyarakat saat ini.
“Pertanyaannya, apakah kenaikan konsumsi itu juga diiringi dengan kenaikan zakat, infak, dan sedekah? Di sinilah tantangan kita. Ramadhan jangan hanya kuat dalam belanja, tetapi juga kuat dalam berbagi,” tegasnya.
Pemanfaatan dana umat didorong agar memiliki dampak jangka panjang dan tidak berhenti pada bantuan yang bersifat sementara. Amirsyah menekankan pentingnya digitalisasi serta optimalisasi peran masjid sebagai sentra literasi ekonomi dan solidaritas sosial bagi masyarakat.
“Jangan berhenti pada bantuan sesaat. Dana umat harus menjadi kekuatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan,” katanya.
Selain sebagai tempat ibadah ritual, masjid dipandang harus bertransformasi menjadi penggerak ekonomi berbasis kebersamaan, termasuk dalam mengampanyekan produk-produk milik umat.
“Masjid harus menjadi pusat peradaban. Dari masjid lahir gerakan mencintai dan membeli produk umat, menguatkan ekonomi berbasis kebersamaan,” ujarnya.
Menutup penyampaiannya, Amirsyah berharap pola pikir dan semangat berbagi yang dilatih selama Ramadhan tetap terjaga secara konsisten pada bulan-bulan berikutnya demi kebangkitan ekonomi nasional.
“Ramadhan melatih kita menahan diri dan berbagi. Jangan sampai semangatnya hanya satu bulan, lalu sebelas bulan berikutnya kita kembali pada pola lama. Mari jadikan Ramadhan sebagai titik tolak kebangkitan ekonomi umat,” kata dia.
