LANGIT7.ID-, - Badan intelijen Israel dan
Amerika Serikat termasuk CIA selama berbulan-bulan diam-diam mengawasi pemimpin tertinggi Iran,
Ayatollah Ali Khamenei, hingga menanti momen yang tepat untuk menyerang.
Melansir dari CNN Internasional, mereka memantau pola aktivitas harian Khamenei seperti di mana ia tinggal, dengan siapa ia bertemu, bagaimana ia berkomunikasi, dan ke mana ia mungkin akan berlindung jika terancam serangan. Hal ini disampaikan oleh lima orang yang mengetahui masalah ini kepada CNN.
"Mereka juga mengawasi para pemimpin politik dan militer senior Iran, yang jarang berkumpul di tempat yang sama dengan ayatollah, pemimpin tertinggi negara itu selama hampir empat decade," tambah sumber tersebut.
Hingga kemudian selama beberapa hari terakhir, mereka menemukan kesempatan. Para pejabat tinggi Iran, termasuk Khamenei, berencana untuk bertemu pada Sabtu pagi di lokasi terpisah di kompleks Teheran yang merupakan tempat kantor ayatollah, kepresidenan Iran, dan aparat keamanan nasional.
Baca juga: Konfirmasi Ayatollah Khamenei Tewas, Iran Umumkan 40 Hari Masa BerkabungKemudian AS membagikan informasi intelijen tersebut dengan Israel, kata orang-orang yang diberi pengarahan tentang masalah tersebut kepada Times, dan melanjutkan operasi yang telah mereka rencanakan.
Itu adalah peluang yang menurut beberapa pejabat Israel dan AS terlalu bagus untuk dilewatkan.
Rencana serangan untuk serangan di tengah malam diubah menjadi serangan siang hari, kata tiga orang tersebut. Dalam sebuah catatan kepada pilot angkatan udara Israel, kepala staf militer Israel, Eyal Zamir, menjelaskan taruhannya.
Diberitakan sebelumnya, Khamenei tewas akibat serangan AS-Israel pada Sabtu (28/2) saat sedang berada di tempat kerjanya untuk menjalankan tugas negara.
"Serangan pengecut ini terjadi pada dini hari Sabtu," lapor media pemerintah, menggambarkan insiden yang mengguncang pusat pemerintahan di Teheran tersebut, dikutip BBC.
Baca juga: Iran Balas Serang, Hantam Kapal Induk AS Abraham Lincoln dengan Empat Rudal BalistikKantor Berita Tasnim yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa lokasi kematian Khamenei di kantornya adalah bukti nyata untuk mematahkan narasi lawan.
Tasnim menyebut laporan yang mengeklaim Khamenei sedang bersembunyi hanyalah bagian dari "perang psikologis musuh".
Sebaliknya, media pemerintah melaporkan bahwa hingga saat-saat terakhirnya, Khamenei tetap "sedang menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dan berada di tempat kerjanya."
(lsi)