LANGIT7.ID-Jakarta; Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan tidak ada pembicaraan maupun negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran. Pernyataan itu bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya dari Teheran yang menegaskan bahwa Selat Hormuz masih ditutup untuk pelayaran.
Peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan itu semakin menipis. Kondisi tersebut kembali mendorong kenaikan harga minyak pada Selasa, sementara pasar saham melemah dan biaya pinjaman sejumlah negara ekonomi utama, termasuk Amerika Serikat, mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade.
Kekhawatiran meningkat terhadap dampak krisis dalam jangka panjang, terutama terhadap inflasi dan kondisi fiskal.
Kesepakatan gencatan senjata sementara berakhir pada Senin. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya kini bergerak menuju postur militer yang “sepenuhnya ofensif” akibat kebuntuan diplomatik. Meski demikian, hingga Selasa tidak ada laporan mengenai serangan baru dari kedua pihak.
“Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung, atau dijadwalkan, dengan Republik Islam Iran,” kata Trump dalam unggahan di Truth Social pada Selasa.
“Blokade angkatan laut tetap berlaku penuh. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau laut telah disingkirkan atau diledakkan,” tambahnya.
Sehari sebelumnya, Jared Kushner, menantu Trump sekaligus utusan khusus, justru menyampaikan nada optimistis. Ia mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan “mungkin lebih intens” dibandingkan sebelumnya.
Pelayaran Masih TergangguDi tengah pernyataan Trump yang optimistis mengenai situasi di kawasan Teluk, data awal pelayaran pada Selasa menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Senin masih berada di angka satu digit.
United Kingdom Maritime Trade Operations juga menerima laporan pada Selasa bahwa sebuah kapal terkena proyektil yang belum diketahui saat berlayar keluar melalui Selat Hormuz. Insiden tersebut menyebabkan kerusakan pada ruang mesin dan seorang awak kapal menjadi korban.
Awak kapal lainnya kemudian mendapat bantuan dari Penjaga Pantai Oman, menurut laporan tersebut.
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan dalam kesepakatan sementara yang ditandatangani dengan Iran pada Juni.
Persyaratan tersebut mencakup pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pencabutan sanksi minyak, pembebasan aset Teheran yang dibekukan, serta penghentian ancaman dan operasi militer di seluruh front, kata Ghalibaf kepada parlemen.
Nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni menetapkan jangka waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas mengenai program nuklir Iran dan sanksi Amerika Serikat. Batas waktu tersebut berakhir pada Senin dan Trump mengatakan tidak memiliki rencana untuk memperpanjangnya.
Kesepakatan itu sebelumnya menyatakan “penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh front”. Namun, kesepakatan tersebut dengan cepat runtuh akibat perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang sebelum perang menjadi jalur bagi seperlima minyak dan gas alam cair dunia.
Iran Masih Buka Peluang NegosiasiTrump dan Teheran berulang kali berganti antara pernyataan bernada ancaman dan pendekatan yang lebih lunak ketika berupaya mencari jalan keluar dari krisis. Konflik tersebut pecah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Iran masih terbuka untuk berdialog dengan Amerika Serikat, tetapi tidak menyamakan negosiasi dengan menyerah, kata Mohammad Mokhber, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, pada Selasa, menurut kantor berita semi-resmi Fars.
Mokhber mengatakan tekanan militer dan sanksi tidak akan mematahkan tekad Iran. Menurutnya, Iran akan mempertahankan keamanan, martabat, dan sekutunya, tetapi tidak mencari perang.
Di tengah upaya Iran menunjukkan ketahanan dalam perang, para pemimpin negara itu khawatir ancaman hukuman ekonomi yang lebih berat dapat memperburuk kesulitan masyarakat, memicu kembali kerusuhan, dan semakin mengikis legitimasi rezim, menurut tiga pejabat Iran.
Ribuan orang telah tewas dalam konflik tersebut, terutama di Iran dan Lebanon. Iran juga telah membombardir pangkalan militer serta infrastruktur Amerika Serikat di berbagai wilayah kawasan.
Harga minyak mentah Brent berjangka acuan LCOc1 melonjak selama konflik dan sempat mencapai puncak US$126 per barel, sekitar 75 persen lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang. Pada Selasa, kontrak berjangka Brent ditutup naik 20 sen menjadi sedikit di atas US$91 per barel.
Bagi warga Amerika yang akan memberikan suara dalam pemilihan kongres pada November, harga bensin telah naik melewati US$4 per galon. Angka tersebut meningkat dari kurang dari US$3 per galon sebelum perang, menurut kelompok otomotif AAA.
(lam)