Oleh: Anwar AbbasDunia saat ini sedang menyaksikan sebuah fenomena yang cukup memprihatinkan sekaligus tragis. Kematian Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, bukan sekadar peristiwa politik biasa, melainkan cermin retaknya rasa kemanusiaan dan keberanian di panggung diplomasi global. Amat sedikit kepala negara dan pemerintahan yang berani berdiri tegak menyatakan duka cita atas berpulangnya pemimpin tersebut.
Sejauh ini, hanya tokoh-tokoh seperti Presiden Rusia
Vladimir Putin, Perdana Menteri Pakistan
Shehbaz Sharif, dan Menteri Luar Negeri China
Wang Yi yang menunjukkan simpati secara terbuka. Ketidakhadiran suara dari pemimpin dunia lainnya menimbulkan tanya besar: mengapa empati terhadap sesama jiwa manusia menjadi begitu mahal di era modern ini?
Kalkulasi Ketakutan di Balik Bungkamnya Dunia
Keengganan mayoritas pemimpin dunia untuk menyampaikan belasungkawa tampaknya berakar pada kalkulasi politik yang pragmatis sekaligus penuh ketakutan. Ada dua faktor utama yang membayangi sikap diam mereka:
- Bayang-bayang Tekanan Amerika Serikat: Banyak negara yang masih "menghitung angin" apakah aman bagi posisi domestik dan internasional mereka jika menunjukkan simpati. Ketakutan akan dicap sebagai pendukung Iran oleh Amerika Serikat menjadi penghalang utama bagi nurani diplomatik mereka.
- Trauma Intervensi Politik: Ada kekhawatiran nyata di kalangan pemimpin dunia akan nasib politik mereka. Bayang-bayang untuk "dimadurokan" atau "dikhameneikan" oleh kebijakan luar negeri Donald Trump di masa depan membuat banyak kepala negara memilih bermain aman daripada bersikap jujur.
Ironi Kegembiraan di Tengah DukaDi sisi lain, pemandangan kontras terlihat dari sekutu-sekutu AS dan Israel. Juru bicara pemerintah Prancis,
Maud Bregeon, secara tegas menyambut gembira kabar kematian ini. Begitu pula dengan Presiden Komisi Eropa,
Ursula von der Leyen, yang menyebut kematian Khamenei sebagai "harapan baru" bagi rakyat Iran.
Namun, narasi "harapan baru" ini patut dipertanyakan. Apakah harapan itu benar-benar untuk kesejahteraan rakyat Iran, ataukah sekadar peluang bagi Uni Eropa, AS, dan Israel untuk lebih mudah mendikte serta mengendalikan Iran di masa depan?
Dunia yang Kehilangan PeradabanTragedi yang sesungguhnya bukanlah sekadar kematian seorang tokoh, melainkan hilangnya adab dalam menghargai jiwa manusia. Saat kematian seseorang dirayakan dan dijadikan komoditas politik untuk memperkuat hegemoni, maka di situlah kita melihat dunia yang semakin tidak beradab.
Sangat sulit mencari pemimpin dunia yang benar-benar berani dan memiliki hati nurani di tengah kepungan kepentingan kekuasaan. Realitas hari ini menunjukkan bahwa rasa hormat terhadap sesama manusia seringkali harus kalah oleh ketakutan akan tekanan politik global. (Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan)
(lam)