Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-Tanpa terasa perang aliansi Amerika Israel melawan Iran telah menggeser mata dunia tetapi juga mata hati umat manusia. Mata dunia sepertinya terkaget kaget ketika Iran mampu bertahan sampai hampir satu bulan, terkaget terutama keberhasilan Iran dalam mengembangkan rudal presisi. Rudal Iran melewati setidaknya dua negara untuk sampai di Israel, dan jika rudal itu masih memiliki suatu presisi menyasar fasilitas militer, petinggi negara, dan sarana eknomi maka dunia mulai tersadar bahwa salah satu negara sedang berkembang Iran telah mencapai suatu kemajuan teknologi yang mengagumkan. Iran memiliki pemikir terbaik dengan menempati empat besar hasil test IQ tertinggi bersama Korea Selatan, China, Jepang, dan Iran. Dan, keempatnya bukan negara Barat. Capaian Iran ini juga luar biaa sebagai negara sedang berkembang yang diembargo secara ekonomi bisa mengembangkan SDM dan mengembangkan teknologi sekaligus.
Disamping pergeseran cara pandang dunia terhadap Iran menyusul kemajuan negara negara non Barat, yang diawali dengan kemajuan Jepang, disusul Korea Selatan, dan kemudian terlahir raksasa China, kini disusul oleh Iran. Dengan kemampuan SDM sebaik ini sebenarnya Iran merupakan tempat investasi yang layak untuk mengembangkan berbagai temuan untuk memperbaiki keadaan umat manusia. Pangan misalnya, berlomba dengan tanah yang tidak berubah sementara penduduk dunia terus berkembang ke delapan milyar. Sumber daya kecerdasan Iran bisa dikapitalisasi untuk riset pangan dan industri yang memenuhi kebutuhan hidup ummat universal dengan menghilangkan embargo ekonomi dan bahkan masuknya sumber daya modal ke negara itu.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kedua Belah Fihak Jangan Hancurkan IranBaca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Bagaimana Iran Membiayai Perang?Pergeseran kedua dalam perang Amerika Israel – Iran, memperlihatkan betapa kepentingan politik mengeser jauh masalah kemanusiaan. Lebih lebih jika perang dan kematian hanya bertujuan misalnya mengalihkan issue dalam negeri dalam masalah personal. Riset big data terhadap jumlah perbincangan perang ini berdasar pemberitaan dan perbincangan public diestimasi sebagai berikut.
Tema beritaPolitik & strategi militer 35–45%
Dampak ekonomi / energi / pasar 20–30%
Teknologi militer / geopolitik 10–15%
Kemanusiaan (korban sipil, penderitaan rakyat) 10–20%
Diplomasi / perdamaian 5–10%.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Rakyat Merindukan Kejutan TeknologiBaca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Membentuk Ekonomi Egaliter: Belum Dibagi Sudah MerataDari data di atas perbandingan perbincangan kemanusiaan seperti korban anak anak sekolah dan sasaran sipil non combatan hanya sekitar 15 persen, dan 85 persen selebihnya perbincangan politik dan strategi, ekonomi, teknologi. Sasaran strategi perang dengan tujuan merusak sumber daya ekonomi sangat menonjol, misalnya merusak isntalasi energi, bahkan sumber daya air, analisis kerugian ekonomi harga drone seharga 20 000 dollar yang dianggap murah versus harga rudal penangkis yang senilai sekian kali lipat. Muara eknomi dan strategi militer sangat kental, sehingga perbincangan duniawi poin pertama dan kedua sekitar 70 persen sendiri. Berbeda dengan perang di Gaza di mana perbincangan kemanusiaan sangat tinggi melahirkan solidaritas bantuan kemanusiaan sukarela yang tigggi pula.
Agama mengajarkan dalam berbagai hadist dan tentu saja kajian fikih, dalam perang sama sekali dilarang merusak fasilitas ekonomi, dilarang membakar tanaman dan pepohonon karena merupkan hajat hidup termasuk dalam perlindungan Masyarakat sipil non combatan. Dibanding dengan etika perang yang diajarkan sejak setidaknya 1500 tahun lalu perdaban kita sedang meluncur.( Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)