Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home global news detail berita

Trump Klaim Iran Beri Hadiah Besar ke AS Terkait Selat Hormuz, Apa Hadiahnya?

lusi mahgriefie Rabu, 25 Maret 2026 - 09:07 WIB
Trump Klaim Iran Beri Hadiah Besar ke AS Terkait Selat Hormuz, Apa Hadiahnya?
Foto: ABC News
LANGIT7.ID-, Teheran - Klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump kali ini yaitu Amerika Serikat mendapat hadiah dari Iran tanpa merinciapa hadiahnya. Trump hanya menyebutkan bahwa hadiah itu senilai "jumlah uang yang sangat besar" dan ada kaitannya dengan Selat Hormuz.

"Mereka melakukan sesuatu yang luar biasa kemarin. Sebenarnya, mereka memberi kita hadiah, dan hadiah itu tiba hari ini, dan itu adalah hadiah yang sangat besar, senilai jumlah uang yang sangat besar," katanya kepada wartawan di Ruang Oval, mengutip media Iran Internasional, Rabu (25/3/2026).

Trump namun tidak mau merinci hadiah apa yang dimaksud, Ia hanya memastikan bahwa hadiah itu amat signifikan di tengah situasi perang antara AS dan Israel versus Iran.

"Saya tidak akan memberi tahu Anda apa hadiah itu, tetapi itu adalah hadiah yang sangat signifikan, dan mereka memberikannya kepada kita… Jadi itu berarti satu hal bagi saya, kita berurusan dengan orang yang tepat," ujarnya.

Ia menambahkan, hadiah tidak terkait dengan nuklir. "Itu terkait dengan minyak dan gas, dan itu adalah hal yang sangat baik yang mereka lakukan," ucap Trump memberi clue.

Iran Jadikan Selat Hormuz Aset

Sementara itu para pejabat dan komentator Iran semakin menggambarkan kendali atas Selat Hormuz, bukan hanya sebagai keuntungan strategis tetapi juga sebagai aset finansial yang dapat membantu menutupi biaya perang.

Menurut laporan media internasional, termasuk Bloomberg dan Lloyd's List Intelligence, Iran telah mulai mengenakan biaya kepada kapal tanker minyak untuk melewati Selat Hormuz dengan aman.

Media Iran seperti kantor berita milik negara Mehr News Agency dan Tabnak -yang berafiliasi dengan Mohsen Rezaei, penasihat militer senior pemimpin baru Iran- sebelumnya telah melaporkan bahwa Teheran sedang mempertimbangkan selat tersebut sebagai sumber pendapatan potensial bagi Republik Islam.

Laporan berita menyebutkan Iran mengenakan biaya sekira 2 juta dolar AS per kapal tanker. Namun, karena sanksi AS mencegah Iran melakukan transaksi perbankan internasional, masih belum jelas mata uang apa yang digunakan dan siapa yang akhirnya menerima pembayaran tersebut.

Baca juga: AS Kirim Pesan ke Iran Lewat Mediator, Trump Isyaratkan Terbuka pada Kesepakatan: Pertanda Amerika Menyerah Halus?

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran mengumumkan bahwa berbagai negara dan perusahaan minyak harus menghubungi Teheran secara langsung untuk mengoordinasikan jalur pelayaran yang aman.

Gagasan untuk memonetisasi kendali atas jalur perairan strategis tersebut juga telah digaungkan dalam komentar politik Iran.

Harian Javan yang terkait dengan IRGC menulis bahwa pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, adalah orang pertama yang memperkenalkan konsep tersebut.

"Ia menghidupkan kembali kebenaran sejarah yang terlupakan dalam geopolitik Teluk Persia," tulis surat kabar itu pada Selasa, 24 Maret.

Dalam editorial berjudul "Selat Hormuz: Kartu Kemenangan Iran dalam Tatanan Pasca-Perang", Javan berpendapat bahwa jalur air tersebut harus menjadi pengungkit strategis bagi Republik Islam dan "dana terpenting untuk mengkompensasi kerugian Iran dalam perang".

Menurut surat kabar tersebut, kerangka kerja ini diuraikan dalam pesan pertama Mojtaba Khamenei kepada bangsa.

Di bawah judul "Paket Strategis untuk Kompensasi Kerugian", editorial tersebut mengatakan bahwa Iran sekarang membutuhkan doktrin komprehensif dan berlapis untuk mencegah pengabaian terhadap pengaturan barunya.

Pajak, katanya, akan didasarkan pada sifat kargo dan tingkat kerja sama antara negara asal kapal dan para agresor.

Javan memperkirakan bahwa dalam kerangka kerja tersebut, negara-negara regional perlu membayar $50 per barel untuk mengkompensasi kerugian Iran dan berkontribusi pada upaya rekonstruksi.

Kapal-kapal milik Israel dan Amerika Serikat, tambahnya, akan dilarang melewati selat tersebut bahkan dengan bendera yang berbeda.

Dalam bagian berjudul Mendefinisikan Ulang Negosiasi," dokumen tersebut menyatakan bahwa kapal-kapal Israel dan AS hanya dapat menggunakan jalur air tersebut jika satu sanksi terhadap Iran dicabut untuk setiap lintasan.

Argumen tersebut didasarkan pada klaim-yang dikemukakan oleh komentator Iran-bahwa hukum internasional mengizinkan negara untuk memungut biaya guna memastikan keamanan jalur air di bawah kendali mereka.

Dengan menguasai beberapa pulau dan titik strategis di Teluk Persia, dan kendali penuh atas pantai utara jalur air tersebut, Iran memegang posisi strategis yang unik, demikian argumen harian yang terkait dengan IRGC.

Baca juga: Pesan Iran untuk Gaza: Kami Bersama Anda, Perang Ini sebagai Pembelaan Palestina

Surat kabar tersebut menyimpulkan: Paket ini mengirimkan pesan yang jelas kepada semua pihak di dalam dan di luar kawasan: era pemberlakuan sanksi terhadap Iran telah berakhir, karena tidak ada negara yang dapat memperoleh manfaat dari keamanan Teluk Persia secara cuma-cuma.

Hingga kini masih belum bisa dipastikan apakah Amerika Serikat, negara-negara regional, atau mitra mereka di Asia Selatan akan menerima kerangka kerja unilateral Teheran dan mematuhi tuntutannya.

(lsi)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)