LANGIT7.ID-, India - Setelah
Pakistan mengklaim siap menjadi
tuan rumah pembicaraan langsung antara
Amerika Serikat dan
Iran untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung, Iran membantah. Dipastikan Iran tidak terlibat dalam upaya yang dipimpin Pakistan tersebut.
Konsulat Jenderal Iran di Mumbai pada Senin (30/3/2026) menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan langsung dengan Amerika. Yang ada hanya tuntutan yang berlebihan dan tidak masuk akal, disampaikan AS melalui perantara.
Konsulat mengatakan, forum Pakistan adalah urusan mereka sendiri dan Iran tidak berpartisipasi di dalamnya.
"Tidak ada pembicaraan langsung dengan AS; hanya tuntutan yang berlebihan dan tidak masuk akal melalui perantara. 'Diplomasi' AS terus berubah-ubah; pendirian kami jelas. Forum Pakistan adalah urusan mereka sendiri; kami tidak berpartisipasi. Seruan regional untuk mengakhiri perang disambut baik, tetapi ingat siapa yang memulainya!" kata Konsulat Jenderal dalam sebuah pernyataan, melansir media India,
ndtv.com, Selasa (31/3/2026).
Hal serupa disampaikan Kementerian Luar Negeri Iran yang juga membantah klaim negosiasi AS-Iran. Dalam konferensi pers, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim negosiasi dengan AS dan menyatakan bahwa Iran tidak terlibat dalam upaya diplomatik yang dipimpin Pakistan untuk mengakhiri perang. Melansir Aljazeera, Selasa (31/3).
Pengumuman
Pakistan akan bertindak sebagai mediator disampaikan pada Minggu (29/3) oleh Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, yang juga menjabat sebagai wakil perdana Menteri. Kala itu, Dar tengah menjamu rekan-rekannya dari Arab Saudi, Mesir, dan Turki untuk melakukan pembicaraan selama beberapa jam di Islamabad.
Para menteri membahas dampak pertempuran, termasuk gangguan lalu lintas maritim melalui
Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Dar mengatakan para menteri yang berkunjung telah menyatakan dukungan penuh mereka untuk potensi pembicaraan AS-Iran yang akan diadakan di Islamabad.
Dar mengklaim bahwa ia dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah melakukan beberapa panggilan telepon dengan para menteri senior pemerintah Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Pakistan juga telah aktif terlibat dengan pemerintahan AS, tambahnya.
Baca juga: Bagaimana Pakistan Bisa Jadi Mediator di Tengah Perang AS Lawan Iran?Pembicaraan hari Minggu di Islamabad diadakan di bawah pengamanan ketat dan tanpa perwakilan dari Amerika Serikat, Israel, maupun Iran.
Sementara itu, Teheran menolak mengakui telah mengadakan pembicaraan resmi dengan Washington, tetapi telah menyampaikan tanggapan terhadap rencana 15 poin yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump melalui Islamabad, menurut kantor berita Iran, Tasnim.
Amerika Serikat dan Israel melanjutkan serangan mereka terhadap Iran pada hari Senin. Iran menyerang pabrik air dan listrik utama di Kuwait sebagai bagian dari kampanyenya melawan negara-negara Teluk Arab dan juga menyerang kilang minyak di Israel utara.
Presiden AS
Donald Trump mengatakan Iran telah setuju untuk mengizinkan 20 kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz mulai Senin sebagai tanda penghormatan.
Pada saat yang sama, dengan 2.500 Marinir AS sudah berada di wilayah tersebut dan kontingen dengan jumlah serupa lainnya sedang dalam perjalanan, Trump mengemukakan kemungkinan untuk merebut terminal minyak Pulau Kharg milik Iran di Teluk Persia.
(lsi)