LANGIT7.ID, Jakarta - - Pemimpin dan kepemimpinan adalah kebutuhan dalam menjalani hidup secara sosial. Layaknya dalam ibadah shalat, tentu kriteria orang yang tepat dijadikan sebagai imam adalah menguasai Alquran, faham dengan sunnah, lebih dahulu hijrah, dan memiliki keilmuan yang mumpuni.
Sementara kepemimpinan adalah jalan menuju kebahagiaan, kesejahteraan, dan ketentraman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Karena itu, orang mukmin tentunya tidak akan berambisi atas suatu jabatan menjadi pemimpin karena sangat berat pertanggung jawabannya, baik di dunia maupun di akhirat.
Baca juga: Baca juga:
Bagaimana Kewajiban Pemilik Usaha terhadap Karyawannya dalam Alquran?Namun, mesikpun jabatan, amanah, dan tanggung jawab tersebut sangat berat, manusia berlomba-lomba memikulnya. Bahkan, menghalalkan berbagai cara hingga berani menggadaikan agama demi kepentingan semu.
إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Latin: Innā 'araḍnal-amānata 'alas-samāwāti wal-arḍi wal-jibāli fa abaina ay yaḥmilnahā wa asyfaqna min-hā wa ḥamalahal-insān, innahụ kāna ẓalụman jahụlā.
Arti: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama, Allah SWT menjelaskan bahwa salah satu wujud takwa adalah menjaga amanah. Namun, manusia sangat zalim karena menyatakan sanggup memikul amanat tetapi secara sengaja menyia-nyiakannya, dan sangat bodoh karena menerima amanat tetapi sering lengah dan lupa menjalankan atau memenuhinya.
Baca juga:
Hukuman Bagi Pemimpin Pendusta
Demikianlah kezaliman dan kebodohan manusia, sehingga Allah SWT akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan, karena mereka tidak menjalankan amanat; dan bagi mereka yang bertobat, Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang kepada semua hamba yang bertobat.
Pemimpin Dekat dengan Neraka
Rasulullah ahallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap pemimpin yang memimpin rakyatnya, pada hari kiamat pasti akan didatangkan. Kemudian malaikat Mencengkeram tengkuknya dan mengangkatnya sampai ke langit. Kalau ada perintah dari Allah SWT: lemparkanlah, maka malaikat akan melemparkannya ke bawah yang jauhnya empat puluh tahun perjalanan. (HR. Imam Ibnu Majah).
Begitulah, jabatan seorang pemimpin itu berat, berada antara surga dan neraka. Jika mampu adil, jujur, dan berpihak kepada rakyat yang dipimpinnya, ia akan masuk surga. Sebaliknya, jika tidak adil, menipu rakyatnya, menjual aset negara tanpa berfikir panjang, alamatnya juga akan jelas.
Seorang pemimpin itu tidak hanya mempertanggung jawabkan kepada manusia, tapi juga kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Ia ibarat berjalan di atas titian dibelah tujuh, mesti super hati-hati, agar tidak mudah tergelincir dan jatuh. (Dikutip dari berbagai sumber).
(asf)