LANGIT7.ID, Jakarta,- - Uniqlo menghadirkan
lini hijab khusus di Malaysia. Namun, sebelum resmi diluncurkan, koleksi terbaru perusahaan asal Jepang tersebut justru menuai
perdebatan di media sosial.
Koleksi yang rencananya diluncurkan secara eksklusif pada Senin mendatang itu diperkenalkan melalui sejumlah foto teaser di media sosial Uniqlo Malaysia. Dalam foto tersebut, model mengenakan kain dengan gaya menyerupai
turban sehingga bagian leher dan dada masih terlihat.
Dilansir dari South China Morning Post, Sabtu (8/8/2026), gaya hijab ala Uniqlo itu memicu perdebatan di kalangan pengguna media sosial
Malaysia. Sebagian mempertanyakan cara pemakaian hijab yang dinilai tidak sesuai dengan
syariat Islam.Baca juga: Beda Aktivitas, Beda Pilihan Hijab: Intip Gaya Ayudia, Tantri Namirah, dan Sivia"Saya rasa ini bukan hijab," tulis salah satu pengguna media sosial.
Pengguna lainnya menilai kain yang ditampilkan terlalu pendek untuk disebut sebagai hijab. Ada pula yang menyebut produk tersebut lebih tepat disebut turban.
"Ini turban, bukan hijab. Sangat menyesatkan," tulis pengguna lainnya.
Sejumlah pengguna bahkan meminta Uniqlo mengganti penyebutan produk menjadi Airism headscarf, bukan hijab. Beberapa di antaranya juga menandai Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) dan meminta perusahaan berhenti menggunakan istilah hijab dalam materi promosinya.
Dibanderol Rp200 RibuanUniqlo menawarkan tiga desain hijab dengan ukuran satu ukuran untuk semua. Koleksi tersebut menggunakan sejumlah bahan, termasuk kain Airism dengan perlindungan UV, georgette, dan satin.
Baca juga: Putri Ariani Tampil Bak Diva di AGT 2023, Kenakan Gaun Sequin dan Hijab TurbanMasing-masing produk dijual dengan harga 59,90 ringgit Malaysia atau sekitar Rp250.000.
Uniqlo menyebut koleksi tersebut dirancang khusus untuk iklim Malaysia yang panas juga kebutuhan sehari-hari. Kenyamanan, sirkulasi udara, serta fleksibilitas dalam penataan menjadi sejumlah aspek yang menjadi perhatian dalam pengembangan produk.
Koleksi hijab tersebut akan tersedia di gerai-gerai Uniqlo di Malaysia maupun melalui penjualan daring.
Meski demikian, kritik yang muncul di media sosial tampaknya lebih banyak ditujukan pada cara produk tersebut ditata dalam materi promosi dibandingkan desain produknya.
Di tengah kritik, sejumlah pengguna media sosial justru memberikan pandangan berbeda. Salah seorang pengguna mengatakan kain tersebut tetap dapat digunakan untuk menutup aurat.
Pengguna lain menilai kontroversi tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Mereka menyebut perdebatan istilah hijab sebagai persoalan yang tidak terlalu penting.
Sejumlah perempuan juga menolak apa yang mereka anggap sebagai bentuk moral policing. Mereka mempertanyakan keterlibatan sejumlah pengguna laki-laki dalam mengkritik cara perempuan mengenakan hijab.
Baca juga: Ijtihad Hijab Umar bin Khattab: Melindungi Para Perempuan dari Gangguan PublikMenurut mereka, kritik terhadap sebuah merek sebaiknya tidak berubah menjadi perundungan terhadap tim kreatif yang berada di balik kampanye tersebut.
Perdebatan mengenai kampanye Uniqlo juga berkaitan dengan ketentuan berpakaian Muslim perempuan di Malaysia.
Otoritas agama di Wilayah Federal Malaysia menyatakan perempuan Muslim wajib menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan tangan, ketika berada di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Hijab juga disebut harus menutupi bagian dada.
Pendakwah Malaysia, Wadi Annuar, turut memberikan pandangan mengenai polemik tersebut melalui media sosial pada Rabu.
Ia mengingatkan bahwa sesuatu yang terlihat indah menurut pandangan manusia belum tentu sesuai dengan ketentuan syariah. Menurutnya, pakaian seharusnya dinilai berdasarkan kemampuannya memenuhi kewajiban agama, bukan semata-mata mengikuti tren fashion.
Perdebatan mengenai hijab bergaya turban bukan hal baru di Malaysia. Gaya serupa sebelumnya juga beberapa kali menuai kritik ketika dikenakan sejumlah tokoh publik.
Salah satunya penyanyi dan penulis lagu Yuna. Musisi Malaysia yang dikenal secara internasional tersebut beberapa kali menghadapi kritik terkait cara dirinya mengenakan hijab.
Baca juga: Gaya Hijab dengan Baret Curi Perhatian di Modest Fashion Week Perdana di ParisPada 2024, Yuna meminta orang-orang yang lebih menyukai penampilannya di masa lalu untuk berhenti mengikuti akun media sosialnya setelah kembali mendapat desakan untuk melepas hijab.
Yuna sendiri pernah menjadi wajah kampanye busana modest Uniqlo yang digagas bersama desainer Hana Tajima. Kolaborasi tersebut diluncurkan di Asia Tenggara pada 2015 dan turut menghadirkan produk hijab sebelum kemudian berkembang ke pasar Barat.
Yuna sebelumnya menyebut hijab sebagai pilihan pribadi yang membuatnya merasa lebih bebas. Menurutnya, hijab membantunya tetap menjadi dirinya sendiri di industri hiburan yang kerap menempatkan penampilan perempuan sebagai sorotan utama.
(est)