LANGIT7.ID-Jakarta; - Perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur diharapkan tidak sebatas menjadi ajang pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Forum tertinggi organisasi ini juga dituntut melahirkan berbagai keputusan strategis guna merespons dinamika dan problematika NU di abad kedua.
Pendiri Alvara Research Center sekaligus salah satu Ketua PBNU, Hasanuddin Ali, menegaskan ada lima kelompok masyarakat yang penting untuk menjadi sasaran utama program NU ke depan. Kelima kelompok strategis tersebut meliputi anak muda, warga perkotaan, kelompok berpendidikan dan profesional, masyarakat kelas menengah, serta kaum perempuan.
"Ada lima situasi yang saat ini dihadapi warga NU. Pertama, anak muda. Kedua, perkotaan. Itu yang menurut saya harus menjadi address utama program NU dari muktamar ini," kata Hasanuddin melalui laman NU, dikutip Selasa (18/8/2026).
Hasanuddin juga menyoroti lompatan kualitatif warga Nahdliyin dari sisi latar belakang pendidikan dan profesi. Saat ini, banyak warga NU yang berkiprah sebagai profesional, teknokrat, ahli kecerdasan buatan (AI), hingga pakar robotik.
"Dan itu belum tersentuh oleh NU," ungkapnya.
Baca Juga: Cegah Sengketa Muktamar, PBNU Tuntaskan SK PCNU dan PWNUSelain peningkatan pendidikan, mobilitas vertikal warga NU selama satu dekade terakhir turut memicu melonjaknya populasi kelas menengah. "Di kalangan warga juga demikian, sekarang kelompok kelas menengah sangat luar biasa besar. Bahkan, kita juga harus meng-address itu," tuturnya.
Mengenai kelompok perempuan, Hasanuddin mendorong agar NU memberikan ruang dan kesempatan yang lebih luas serta tidak terbatas pada satu kanal saja. "Ini menurut saya Muktamar NU di Jombang harus ada. Kelima isu ini ada semua dalam rancangan roadmap 25 tahun NU," jelas Hasanuddin.
Kriteria Pemimpin NU Mendorong PerubahanGuna menjawab berbagai tantangan masa depan tersebut, Hasanuddin memaparkan tiga kriteria utama yang wajib dimiliki oleh sosok pemimpin NU mendatang. Pertama, memiliki kepekaan dan kesadaran kritis terhadap lanskap perubahan NU dan Indonesia, khususnya perkembangan pesat generasi muda dan masyarakat urban.
"Siapa pun nanti ketua umumnya harus punya kesadaran ini bahwa NU di abad kedua tidak sama dengan NU abad pertama. Lanskapnya sangat berbeda," tegasnya.
Kedua, memiliki visi dan gagasan inovatif yang relevan untuk menjawab pergeseran zaman. "Saya tidak mengatakan tradisi tidak penting, tradisi tetap penting, tapi jauh lebih penting dia memiliki gagasan menjawab perubahan yang dihadapi NU ke depan," ujarnya.
Ketiga, memiliki kepemimpinan manajerial yang mampu mengorkestrasi seluruh potensi sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), maupun aset organisasi lainnya secara optimal. "Kita tentu berharap muktamar akan menghasilkan keputusan yang relevan dengan kondisi yang dihadapi warga NU hari ini," pungkasnya.
Baca Juga: Alma Esbeye Bakal Tampil di Muktamar ke-35 NU, Intip Perjalanan Kariernya di Musik Religi(zhd)