Langit7, Jakarta - Saat ini, kualitas dan kompetensi SDM dalam hal ekonomi Islam masih belum cukup memenuhi kebutuhan industri dan ekonomi masyarakat.
Hal itu dikatakan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati di acara
1st Islamic Economics Education Summit In Collaboration With The 7th International Symposium on Islamic Economics And Finance Education, Kamis (28/10).
Baca juga: Kerjasama Blue Ekonomi Indonesia-Swedia Sumber Pertumbuhuan Ekonomi BaruUntuk itu, pendidikan masih perlu meningkatkan kurikulumnya yang berkaitan dengan syariah. Di mana, pendidikan ekonomi syariah memerlukan kurikulum yang dibangun sejalan dengan perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan industrinya.
“Ini tantangan yang tidak mudah namun harus dijawab. Kita harus berfokus pada tujuan, tapi nilai Islam tetap bisa dipertahankan dan mewarnai proses tersebut”, jelasnya.
Baca juga: Maqashid Syariah, Nilai Islam yang Diterapkan Pemerintah dalam Pemulihan Ekonomi NasionalDari data yang ada, lanjut dia, menunjukkan bahwa 80-90 persen SDM industri di bidang keuangan syariah lebih banyak merekrut mereka yang bukan berasal dari program studi ekonomi Islam atau ekonomi syariah.
"Ini menjadikan tantangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan ekonomi syariah menjadi semakin besar. Apalagi dengan munculnya fenomena revolusi industri 4.0 dan perkembangan teknologi digital, menciptakan peluang dan disrupsi yang menuntut SDM terus beradaptasi," ujarnya.
Ia menyebutkan, teknologi bisa menjadi solusi dari tantangan yang muncul secara sangat tiba-tiba seperti pandemi Covid-19. Sehingga SDM yang ada perlu mengandalkan dan menggunakan teknologi, yang dibarengi dengan pembelajaran terkait keislaman dari sisi ekonomi.
(zul)