LANGIT7.ID, Jakarta - Lebih dari 100 pemimpin dunia menandatangani deklarasi pada, Senin (1/11/2021), berkomitmen menghentikan penebangan dan melestarikan hutan hingga 2030. Berdasarkan perjanjian tersebut, 12 negara juga berjanji untuk membelanjakan 12 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dana publik antara 2021 dan 2025 untuk melindungi dan memulihkan hutan.
Sementara tambahan 7,2 miliar dolar AS akan disediakan oleh investor swasta. Pengumuman
Leader's Declaration on Forests and Land Use muncul pada hari pertama pembukaan resmi pertemuan para pemimpin sesi ke-26 Konferensi Para Pihak (COP26) Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim yang akan berjalan sampai 12 November.
Baca Juga: Kadar Parasetamol Tinggi di Teluk Jakarta, Anggota DPR: Pengelolaan Limbah Farmasi BurukCOP26 mengumpulkan sekitar 120 pemimpin dengan meluncurkan negosiasi global selama dua minggu untuk mendorong upaya mendesak yang diperlukan untuk menghindari bencana perubahan iklim. Agenda utamanya adalah membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celcius di atas rata-rata pra-industri pada akhir abad ini.
Tindakan untuk mengurangi emisi perlu dimulai sekarang hingga 50 persen pada tahun 2030 demi mencapai target. Deklarasi para pemimpin mencakup komitmen untuk melestarikan hutan dan ekosistem darat lainnya serta mempercepat pemulihannya.
Para pemimpin sepakat untuk mengurangi kerentanan, membangun ketahanan dan meningkatkan mata pencaharian pedesaan bersama dengan menerapkan dan mendesain ulang kebijakan pertanian untuk mendorong pertanian berkelanjutan. Deklarasi tersebut juga menegaskan kembali keselarasan aliran keuangan dengan tujuan internasional untuk membalikkan kehilangan dan degradasi hutan.
Baca Juga: Jokowi Tegaskan, Indonesia Terus Rehabilitasi Hutan MangroveDalam sebuah pernyataan tentang deklarasi tersebut, World Wide Fund for Nature (WWF) menyambut baik komitmen tersebut. Bahkan, deklarasi tersebut selaras dengan janji beberapa pemerintah ini untuk melestarikan keanekaragaman hayati pada tahun 2030 untuk pembangunan berkelanjutan.
"Hutan menyediakan jasa ekosistem yang sangat penting bagi kesejahteraan manusia, ekonomi dan sosial, namun hutan terus menghilang pada tingkat yang mengkhawatirkan. Komitmen oleh lebih dari 100 pemimpin dunia untuk menghentikan dan membalikkan deforestasi dan degradasi lahan pada tahun 2030 disambut baik karena mengakui nilai penting hutan dan ekosistem alam lainnya," kata Global Forest Practice Lead Fran Price di WWF dalam sebuah pernyataan.
Price mencatat bahwa janji tersebut harus diikuti dengan implementasi komitmen dan kebijakan untuk mengatasi penyebab deforestasi dan degradasi hutan. "Pemerintah harus meningkatkan upaya untuk memperbaiki tata kelola hutan dan lahan dengan meningkatkan partisipasi, akuntabilitas dan transparansi serta mengatasi perilaku korupsi," ucapnya.
Baca Juga: Green Waqf, Upaya Hijaukan Kembali 14 Juta Hektar Lahan Kritis Indonesia"Ini termasuk secara aktif mendukung partisipasi masyarakat adat dalam proses nasional dan internasional yang relevan dengan rencana iklim nasional dan pelatihan advokasi untuk masyarakat adat untuk mempromosikan transparansi dan dialog antara masyarakat dan pemerintah," ucapnya.
Price mengatakan mereka mendesak pemerintah untuk melengkapi komitmen penggunaan hutan dan lahan. Terlepas dari janji tersebut, para aktivis iklim memprotes dan menuntut para pemimpin dunia untuk menghadapi darurat iklim. (Sumber:
Anadolu Agency)
Baca Juga:
BWI Dukung Inovasi Wakaf di Bidang Lingkungan Hidup
Iskandar Waworuntu, Mencoba Meraih Berkah dari Bumi Hingga ke Langit(asf)