LANGIT7.ID - Pemerintah melalui Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan menetapkan pejuang asal Banten, Raden Aria Wangsakara, sebagai Pahlawan Nasional. Raden Aria Wangsakara dikenal sebagai tokoh pendiri Tangerang sekaligus ulama kharismatik juga sebagai tokoh sentral perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Pengumuman ini disampaikan Ketua Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan, Mahfud MD, dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal youtube Kemenko-Polhukam pada Kamis (28/9/2021). Dia mengungkapkan, Presiden Joko Widodo akan memberikan gelar pahlawan nasional untuk empat tokoh bangsa pada Hari Pahlawan 10 November 2021 di Istana Bogor.
Tiga tokoh lain yang akan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun ini adalah Tombolotutu (tokoh dari Sulawesi Tengah), Sultan Aji Muhammad Idris (tokoh dari Kalimantan Timur), dan Aji Usmar Ismail (tokoh dari DKI Jakarta).
Lalu siapakah sebenarnya Raden Aria Wangsakara?
Dikutip dari buku Ki Leluhur Rekam Jejak Sejarah Raden Aria Wangsakara, Raden Aria Wangsakara diperkirakan lahir pada 1024 H atau 1615 M. Ia lahir dari keluarga Kerajaan Sumedang larang. Sang ayah adalah Wiraraja I, sementara sang ibu Putri Dewi Cipta/Nyimas Cipta.
Perjuangan Raden Aria Wangsakara mendirikan Tangerang dimulai sejak 1640. Ia pindah ke Tangerang ke Kerajaan Sumedang larang setelah mengalami konflik dengan keluarga. Dia tidak setuju keluarganya menggadaikan kedaulatan Kerajaan Sumedang Larang kepada penjajah Belanda.
Di Tangerang, Raden Aria Wangsakara mendirikan Pesantren Grendeng yang berlokasi di tepi barat Sungai Cisadane (kini ada di Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang) dan menetap di tempat itu. Pesantren tersebut mengalami perkembangan cukup pesat. Jumlah santri beliau mengalami peningkatan setiap tahun. Wilayah inilah yang kemudian hari dikenal sebagai Tangerang.
Sepak terjang Raden Aria Wangsakara dalam menyebarkan Islam membuat Belanda takut. Apalagi, pusat penyebaran agama Islam berada di dekat wilayah kekuasaan Belanda, Batavia. Itu yang menjadi alasan Belanda menyerang Pesantren Grendeng.
Peristiwa itu terjadi sekitar 1640 M. penyerangan itu menandai pembentukan tempat hunian baru di Lengkong, Kecamatan Pagedangan, Tangerang. Di tempat itu, santri-santri dari Pesantren Grendeng yang diusir Belanda membangun masjid dan membuat pesantren baru di bawah kepemimpinan Raden Aria Wangsakara.
Di sisi lain, Raden Aria Wangsakara juga diberi kepercayaan oleh Kerajaan Mataram untuk menjaga wilayah di dekat Sungai Cisadane. Keberadaan beliau di dekat sungai itu juga mengusik VOC. Itu yang membuat VOC mendirikan benteng di dekat Sungai Cisadane untuk mengawasi gerak-gerik Raden Aria Wangsakara.
Keberadaan benteng itu membuat Raden Aria Wangsakara beberapa kali terlibat konflik. Sampai pada akhirnya, Raden Aria Wangsakara gugur dalam perang melawan VOC pada 1720 di Ciledug. Ia dimakamkan di Lengkong Kyai, Tangerang.
(jqf)