LANGIT7.ID, Jakarta - Masyarakat Indonesia mulai akrab dengan mahluk bernama corona yang masuk ke Tanah Air sejak Maret 2020. Seluruh rakyat Indonesia menetapkan bulan tersebut sebagai muara berbagai permasalahan di negeri ini.
Lembaga pendidikan mengikuti komando pusat untuk meniadakan pelajaran tatap muka demi keselamatan anak-anak. Babak baru dalam dunia pendidikan pun di mulai, yakni belajar daring.
Sejak daring menjadi akrab bagi anak-anak, baik di tingkat sekolah dasar hingga mahasiswa, harus bersinggungan dengan jaringan internet untuk mendapatkan materi pelajaran. Seolah memudahkan, namun di balik hal tersebut ada masalah yang harus diwaspai para pendidik dan orang tua.
Jika dulu isunya adalah cara orang tua mendampingi anak selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), namun makin ke sini melihat ada yang hilang atau dikenal dengan istilah
learning loss. Dalam kolaborasi Sonora dengan Nakita.id dalam Sonora Parenting, Editor in Chief Nakita.id, David Togatorop, menjelaskan,
learning loss adalah sebuah kehilangan atau keterbatasan pengetahuan yang terjadi karena adanya hambatan.
"Kita mengacu pada kehilangan nilai akademis. Namun, perlu digarisbawahi,
loss itu bukan hanya kehilangan nilai akademis saja atau penurunan nilai raport tapi ada faktor
loss lain yang harus diwaspadai, karena sama bahayanya," kata David dalam tayangan Youtube Sorona FM, dikutip Jumat (16/7/2021)
David memaparkan, sebuah hasil peneletian yang menyebutkan usia anak sekolah dasar kehilangan waktu enam bulan sama saja dengan hilang asupan edukasi selama satu setengah sampai dua tahun. Belajar enam bulan di rumah, kata dia, sama dengan kehilangan asupan pengetahuan satu sampai dua tahun.
"Padahal, kita sekarang sudah berapa bulan? Learning loss ini bukan hanya berpengaruh pada akademik saja, tapi juga tentang pengembangan karakter," ujarnya.
"Sebetulnya kita harus mengerti dulu salah kaprah
learning loss itu.
Learning loss terjadi bukan hanya karena pandemi. Selain pandemi juga ada faktor lain seperti libur yang terlalu panjang. Absen terlalu lama. Itu juga membuat
learning loss," ucapnya.
Salah satu penyebab
learning loss adalah tidak ada antisipasi sebelum pandemik terjadi. Itu wajar, tidak ada yang tahu corona akan menjadi pandemi dan menggangu sistem pendidikan. David mengatakan, andai penguatan karakter kepada anak ditempa sebelum pandemik, maka
learning loss bisa terminimalisir.
"Ini karena anak akan belajar bertanggung jawab, ketika belajar dari rumah. Karena karakternya sudah terbentuk, merasa punya tanggung jawab untuk membuat orang tua dia bangga atau membuat gurunya bangga," ucapnya.
Lalu, bagaimana menyikapi masalah itu?David mengatakan, penguatan karakter untuk melawan
learning loss adalah menanamkan sifat integritas kepada anak. Ini tentu menjadi tugas berat bagi orang tua di rumah. Integritas yang dimaksud salah satunya melatih kejujuran anak. Jika itu terbangun, anak tidak akan berbuat curang saat belajar daring.
"Bahanya anak belajar di rumah juga itu ada masalah, yakni orang tua terlalu memanjakan anak dengan bantuan. Memang tidak salah tapi kalau dimanjakan akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Maka, pada saat itu,
learning loss, terjun ke jurang paling dalam," ungkapnya.
Ciri-ciri anak learning lossMenurut David, ada tiga ciri anak mengalami learning loss, yakni1. Semangat belajar menurunCiri pertama anak akan mengalami semangat belajar yang menurun. Malas-malasan. Jika dulu anak-anak semangat berangkat sekolah untuk belajar, kini mereka cenderung bosan dengan suasana rumah. Apalagi saat ini sudah satu tahun lebih metode daring diberlakukan.
2. Lalai mengumpulkan tugasAnak makin lalai mengumpulkan dan mengerjakan tugas. Kerap ada kasus guru mengirim pesan singkat kepada orang untuk mengingatkan perihal anak yang belum mengumpulkan tugas. Sering lalai karena tidak ada yang mengawasi.
3. Nilai pelajaranNilai pelajaran bak dua sisi mata uang. Ada kasus nilai bisa menurun atau semakin tinggi. Ada banyak orang tua terkejut mendapati anaknya mendapatkan nilai tinggi. Padahal, pada masa normal biasa saja. Bisa saja penyebab dari masalah tersebut adalah pada awal masa pandemi belum ada sistem penilaian untuk sekolah daring.
"Anak ambil sana sini,
copy sana sini, diberi nilai A. Ini akan menjadikan anak terdemotivasi bahwa belajar biasa saja dapat nilai A. Ini harus diawasi oleh orang tua. Prestasi yang menurun dan meningkat drastis harus diwaspadai oleh guru dan orang tua di rumah," ucap David.
"Makanya ada istilah angkatan pandemi. Yang mana angkatan tersbeut semua lulus," tuturnya.
(asf)