Langit7, Bogor - SEAFAST Center LPPM IPB bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menggelar pelatihan bagi industri kecil menengah (IKM). Dalam pelatihan ini dihadirkan narasumber berpengalaman dan kompeten di bidangnya.
Dr Tjahja Muhandri, Ketua Forum
Coaching Clinic IKM Pangan mengatakan, minyak sawit merupakan media untuk menggoreng dengan harga termurah saat ini. Tidak hanya itu, minyak sawit juga bisa dijadikan sebagai komposisi dasar dalam adonan pada proses pembuatan produk, terutama pada produk bakery seperti bolu dan chiffon.
Sebagai peneliti SEAFAST IPB University, Dr Tjahja Muhandri menilai minyak sawit merupakan bahan dasar untuk berkreasi pangan tanpa batas. Pasalnya, minyak goreng tidak hanya sebatas untuk menggoreng melainkan dapat dijadikan sebagai media untuk menggoreng bisa dengan teknik vakum, terendam, tumis, maupun setengah matang. Teknik vakum dapat diaplikasikan untuk meningkatkan keawetan dari produk.
Baca juga: Superfood dan Perubahan Paradigma Masyarakat terhadap PanganDr Tjahja turut berbagi pengetahuan teknik pembuatan kripik brangkal yang dapat menghasilkan kerenyahan maksimal. Ia mengatakan, untuk mengatasi permasalahan kripik yang terlalu berminyak, cepat melempem, dan cepat tengik, kuncinya terdapat pada teknik penggorengan dan pengemasan yang baik.
Sementara itu, Prof Nuri Andarwulan, Kepala Seafast IPB University yang juga dosen IPB University dari Departemen Ilmu Teknologi Pangan turut menjelaskan karakteristik dan keistimewaan minyak sawit. Ia menjelaskan, hasil proses minyak sawit dapat menjadi bahan pengganti atau alternatif mentega coklat. Menurutnya, minyak sawit juga dapat digunakan sebagai
shortening dan
vegetable ghee.
“Saat ini, minyak sawit sangat digemari dunia karena dapat menghasilkan produk lemak bernilai ekonomi tinggi seperti cocoa butter atau mentega coklat,” terangnya, dalam keterangan tertulis yang dikutif, Rabu(17/11).
Baca juga: Peneliti IPB Ajak Milenial Promosikan Pariwisata Desa melalui Media DigitalProf Nuri menyebut,
cocoa butter disukai karena memberikan rasa meleleh di mulut. Ia juga menjelaskan,
cocoa butter equivalents dari minyak sawit memiliki karakteristik yang hampir sama dengan
cocoa butter asli.
“Minyak sawit olein juga memiliki karakteristik dengan minyak tinggi olein lainnya yang berharga tinggi seperti minyak kanola. Yakni memiliki kestabilan pada suhu tinggi dan memberikan nilai sensori yang baik,” tambah Prof Nuri.
Baca juga: Dosen Muda IPB Raih Penghargaan Young Scientist Award di Bidang EntomologiTerkait dengan kajian minyak sawit, Prof Nuri mengatakan, belum ada bukti ilmiah terkait hubungan antara penyakit kardiovaskular dan konsumsi minyak sawit. Namun demikian, bahan prekursor yang terdapat di dalamnya memang bersifat karsinogenik dan selalu diupayakan untuk ditekan nilainya.
“Pelabelan
palm oil free pada produk pangan juga menjadi isu hangat. Label tersebut disinyalir bertujuan untuk mempertahankan pasar domestik minyak nabati di Eropa serta dapat menimbulkan stigma negatif pada produk berbahan minyak sawit,” kata Prof Nuri.
Namun demikian, katanya, pasar minyak nabati masih dikuasai oleh minyak sawit, terutama dari Indonesia. “Hingga saat ini dunia masih membutuhkan sawit, sepertinya sawit Indonesia masih akan merajai pasar minyak nabati dunia,” jelasnya.
(zul)