LANGIT7.ID, Jakarta - Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi Ph.D, mengkritik wacana cabang olahraga e-sport bakal masuk ke kurikulum sekolah di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Wacana tersebut sempat menyeruak ke publik pada 2019 lalu melalui mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi. Wacana itu kembali mencuat setelah Ketua Bidang Humas dan Komunikasi Pengurus Besar E-Sports Indonesia (PBEsI), Ashadi Ang, dalam sebuah diskusi virtual bertajuk ‘Membangun Jenjang Karier Atlet E-Sports & Prestasi Bangsa’ pada Rabu (24/11/2021).
Baca Juga: Tiga Skill yang Harus Dimiliki Ayah agar Anak Tak Kecanduan Gadget
Menurut Ismail Fahmi, e-sport masuk kurikulum justru membuat anak kecanduan game. Padahal, kecanduan game menjadi masalah yang sering menjadi perbincangan orang tua saat ini. Ia khawatir terhadap dampak negatif dari e-sport tersebut terhadap perkembangan anak.
“Itu membuat anak-anak suka game, jadi tidak bagus. Karena sudah banyak anak-anak yang sudah adiktif dengan game. Orang tua tidak diajarin bagaimana menghadapi anak yang suka bermain game. Kalau di sekolah diajarin lagi, dan orang tua tidak diajari menghadapi game anak-anak, makin parah nantinya,” kata Ismail Fahmi kepada LANGIT7.ID, Kamis (25/11/2021).
Selain itu, e-sport hanya melahirkan anak-anak sebagai pengguna game. Seharusnya, pendidikan mengarahkan anak untuk berpikir inovatif dan kreatif agar bisa menciptakan hal-hal baru. Bukan sebaliknya, menjadi konsumen dari pasar digital.
Baca Juga: Ustadz Budi Ashari: Agar Anak Tak Kecanduan Gadget, Jangan Berikan Sebelum Akalnya Sempurna
“Kita harus menciptakan anak-anak bukan pengguna. Esport itu pengguna. Seharusnya mengajari anak menciptakan game, bukan menggunakan game. kalau jadi pengguna, akan adiktif terus,” tuturnya.
Digital Citizenship Curriculum Jadi SolusiIsmail menekankan, digital citizenship curriculum bisa menjadi solusi untuk masalah tersebut. Itu membuat siswa bisa belajar dan mahir bermedia sosial, mengikuti kurikulum digital citizenship, tetapi dalam lingkungan simulasi. Maka dipastikan aman, terkontrol, dan terukur.
Baca Juga: Cara Intan Erlita Membatasi Pemakaian Gadget Berlebih pada Anak
Materi-materi digital ini juga nantinya dimasukkan ke dalam tablet, melalui aplikasi Enuma, sehingga guru dan siswa tidak perlu terhubung ke internet selama proses belajar. Hal ini sudah diterapkan di beberapa sekolah Muhammadiyah.
“Ada hal yang lebih penting, yaitu kurikulum digital citizenship. Itu menyiapkan semua anak, mulai dari SD, SMP, SMA untuk siap masuk ke dunia digital. Harusnya itu yang dimasukkan ke dalam kurikulum, bukan game,” kata Ismail Fahmi.
Kurikulum itu mengajarkan kepada anak untuk mengatur waktu penggunaan gadget, berkomunikasi di internet, menghadapi bully di internet, hingga security di internet. Intinya, segala hal mengenai digital akan diajarkan kepada anak dengan kurikulum itu.
Baca Juga: Prof Abdul Mu’ti: Digitalisasi Membawa Dampak Positif jika Dihadapi dengan Bijak
“Ada dan etika bermedia sosial, di internet hanya salah satu dari kurikulum ini,” ucap Ismail Fahmi.
(jqf)