LANGIT7.ID - , Jakarta - Teknologi membawa perubahan kian pesat dan cepat ikut mempengaruhi dalam dunia permainan. Dalam beberapa tahun terakhir, esports (electronic sport) sedang naik daun. Transformasi dari hiburan ke industri pun tak bisa dihindari.
E-sport merupakan olahraga yang menggunakan gim daring sebagai bidang kompetitif. Jika dulu gim hanya dianggap sebagai pelepas penat di tengah ragam aktivitas, kini gim membuka peluang dalam dunia bisnis.
Baca juga: Perkembangan Industri eSports di Indonesia Hingga Lahirnya Tim Jawara
Baca juga: Umat Islam Harus Berperan Aktif dalam Industri e-SportCo-Founder dan CEO RRQ, Andrian Pauline, tidak menampik hal ini. Andrian sudah bermain gim sejak remaja. Pada 2013, ia hanya menjadikan gim sebagai ajang hiburan semata. Namun motivasi berubah drastis pada 2017 lalu. Ia pun membentuk manajemen untuk mengelola agar lebih professional.
Ini karena ia menemukan peluang bisnis saat melihat e-sport berkembang pesat di luar negeri, seperti China, Amerika Serikat, hingga ke negara-negara Eropa.
“E-Sport alternatif hiburan masa depan,” tutur Andrian dalam webinar LANGIT7.ID, Selasa (30/11/2021).
Audrey FF, pemain esports profesional wanita, mengakui pendapat tersebut. Ia kini meraup keuntungan hanya dengan bermain game. Semula dirinya kerap mendapat stigma negatif dari hobinya tersebut.
Tapi itu tak menjadi penghalang bagi perempuan yang juga menjadi influencer media sosial ini. Bagi Audrey, stigma itu malah jadi tantangan untuk memperkenalkan esports di tengah masyarakat.
Memang, tidak dipungkiri, masih banyak kalangan tua yang memandang gim sebagai aktivitas membuang-buang waktu saja. Tapi, perlahan tapi pasti anggapan tersebut akan meluntur dengan sendiri. Terlebih, melihat potensi esports yang membawa keuntungan di kalangan milenial yang berjiwa bisnis.
“Peluang di dunia teknologi juga ikut maju, karena kemajuan dunia game. kalau kamu merasa kurang berbakat bermain game, tapi jago berbisnis, kamu bisa menjadikan ini sebagai peluang juga. Bisa menciptakan mouse, keyboard, atau lain yang bisa menunjang game,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Marketing Expert Firman Kurniawan mengatakan esports saat ini sudah bisa ditekuni sebagai profesi seperti pemain sepak bola profesional dunia.
"Ini sebuah medium untuk menunjukkan bahwa game bukan hanya mengesploitasi kesenangan, tapi untuk mengasah profesionalitas yang juga lengkap dengan masa depannya, lengkap dengan kehidupan yang tidak mengkhawatirkan, dan itu tumbuh menjadi industry itu sebuah keniscayaan,” tutur Firman.
Perkembangan esport pun menarik perhatian PT Indonesia Connets Plus (ICON+), sebagai penyedia layanan internet di Indonesia. Anak perusahaan PLN itu berkomitmen mendukung pertumbuhan industri electornik sport (e-Sport) tanah air dengan menjamin akses internet hingga pelosok negeri.
Baca juga: ICON+ Dukung Industri e-Sport Hadirkan Internet hingga PelosokVice President of Beyond kWh ICON+, Pratama Adieputra Suseno mengatakan, pertumbuhan industri esports merupakan bagian dari perkembangan industri 4.0. Pada saat yang sama, kebutuhan internet terus bertambah seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap permainan daring.
“Jadi industri gim terus berubah dan bergerak dengan cepat. ICON+ melihat bahwa esports adalah industri yang perlu kita dukung. Selain penyediaan internet, kita juga mendukung dari segi lain seperti server, koneksi network, dan sebagainya,” tutur Pratama.
(est)