LANGIT7.ID, Jakarta - Kisah Rasulullah SAW dengan pengemis yahudi buta sangat masyhur di tengah masyarakat. Namun, apakah kisah itu bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah?.
Direktur INSISTS dan Pendiri Sirah Community Indonesia (SCI), Ustadz Asep Sobari, mengatakan, kisah tersebut tidak memiliki sumber yang jelas, sehingga tidak bisa dilacak muasal riwayatnya. Di sisi lain, kisah itu juga tidak logis dari sisi ilmu sejarah.
Dia mencontohkan penggalan kisah yang terakhir. Kala itu, Abu Bakar diangkat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah. Ia bertekad mengerjakan semua aktivitas Rasulullah SAW. Justru di penggalan itulah letak yang membingungkan.
“Pertanyaannya sejak kapan Rasulullah menyuapi yahudi buta itu? kira-kira baru atau sudah lama? Kalau Abu Bakar sudah mengerjakan semua kegiatan Rasulullah, dan bertanya kepada bunda Aisyah, artinya Abu Bakar tidak tahu kegiatan Rasulullah itu,” kata Ustadz Asep melalui kanal youtube Sirah Community, dikutip Selasa (7/12/2021).
Baca Juga: Nabi Muhammad SAW, Tokoh Pertama di Dunia yang Perjuangkan Hak Kaum Disabilitas
“Kenapa sampai bisa tidak tahu? Orang yang selalu bersama Rasulullah. Padahal itu disebutkan kebiasaan. Kalau kebiasaan berarti lama, bunda Aisyah tahu sementara Abu Bakar tidak tahu. Ini kan aneh sekali, satu aktivitas di luar rumah, istrinya tahu, abu bakar tidak tahu. Kalau di dalam rumah wajar, kalau di luar rumah, masa Abu Bakar tidak tahu kebiasaan Rasulullah,” kata Ustadz Asep.
Dia menggaris bawahi kata 'kebiasaan'. Hal itu menjadi aneh karena perbuatan yang sering dilakukan, bahkan sampai wafat, namun orang terdekat beliau tidak mengetahui. Di sisi lain, orang yahudi itu disebutkan berada di salah satu pojok pasar Madinah.
“Ini sangat sulit sekali. Padahal kebiasaan. Kalau sekali, wajar, masih logis. Ada banyak yang tidak logis di sini, pertama yahudi itu siapa? Tidak tercatat, padahal dia beraktivitas di tempat terbuka, atau dari suku mana yang ada di Madinah?” ucap Ustadz Asep.
Selain itu, nama yahudi buta itu tidak pernah jelas. Demikian pula pasar Madinah tidak disebutkan secara spesifik. Jika di pasar, sudah pasti latar belakang yahudi buta itu bisa dilacak.
Cacian yahudi buta itu juga aneh. Disebutkan selalu menghina Rasulullah sebagai penyihir, pendusta, hingga dukun. Padahal, cacian itu merupakan modus Mekkah. Tidak ada hinaan seperti itu di Madinah. Saat di Mekkah, para penghina Rasulullah dibiarkan saja. Tapi berbeda ketika di Madinah, ada hukum yang mengikat.
Sejak awal-awal Rasulullah datang ke Madinah, sudah ada Piagam Madinah. Salah satu butir piagam itu adalah larangan menghina dan merusak tatanan. Artinya, umat Islam dan orang yahudi terikat dengan hukum itu. ada sanksi berat jika dilanggar.
“Piagam itu sudah ada sejak awal-awal Rasulullah datang ke Madinah. Artinya semua orang yahudi, perorangan dan kelompok, terikat dengan piagam itu. Ada bobot hukum. Ada bobotnya kalau menghina Rasulullah di madinah. Itu termasuk pelanggaran berat,” ucap Ustadz Asep.
Tidak Memiliki SumberMasalah utama kisah tersebut adalah tidak ada sumber. Itu artinya bermasalah dalam pembuktian sejarah. Kisah itu bagian dari peristiwa sejarah diragukan. Tidak ada satupun buku-buku sirah klasik yang membahas kisah itu.
Ustadz Asep menyebut satu buku yang memuat aktivitas Rasulullah dengan orang yahudi di Madinah. Buku itu berjudul
An-Nabiyyu wal-Yahudul Madinah karangan Prof Dr Faris Al-Jamil. Buku itu sekitar 340 halaman.
Ada tiga nama perorangan yang disebutkan dalam buku itu. Satu nama yang sudah terkenal, yaitu Kaab bin Asyraf. Ada dua nama yang asing, yaitu Asma binti Marwan dan Ibnu affaq. Dua nama itu tidak populer, apalagi peristiwa yang menyertainya.
Dua orang yahudi itu dibunuh karena menggubah puisi menghina Rasulullah dan islam. Keduanya dibunuh tidak jauh dari Kabilah Asyraf sektiar 3 atau 4 Hijriah. Peristiwa itu tidak sampai Fathu Makkah. Namun yang menjadi catatan adalah modusnya sama, yaitu menghina Rasulullah.
“Bagaimana dengan ini yang sampai Rasulullah wafat? Masa dibiarkan begitu saja? Jadi, yang jadi masalah memang di awal adalah tidak ada sumber. Tidak ada sumbernya, kita tidak bisa menelusuri riwayatnya,” kata Ustadz Asep.
Dia mencontohkan Ibnu Affaq. Ibnu Affaq adalah Yahudi buta, berumur 120 tahun. dia dibunuh karena menghina Rasulullah. Dia sesekali muncul saja sudah ada datanya. “Ini yang sampai Rasulullah wafat kok tidak ada datanya. Padahal di pasar,” ucapnya.
(jqf)