LANGIT7.ID - - Muslimah Amerika, Sa'idah Sudan mendirikan rumah aman bagi korban kekerasan dalam rumah tangga di Carolina. Tempat penampungan ini menjadi satu-satunya yang dioperasikan oleh seorang muslim.
Menurut penelitian dari Northeastern University, setidaknya ada 13.500 penampungan hewan di AS, namun hanya 1.887 yang menampung korban kekerasan dalam rumah tangga.
Sudan mendirikan rumah aman Baitul Hemaya di Charlotte pada Oktober 2019 yang lalu setelah pertemuannya dengan korban KDRT ruang gawat darurat rumah sakit di New Jersey.
Baca juga: Istri Lakukan KDRT, Apa yang Harus Dilakukan Suami?“Ada seorang wanita Muslim yang datang ke UGD,” kata Sudan. “Saya tidak mengenalinya karena betapa parahnya dia dipukuli. Tapi dia mengenalku. Dia sebenarnya adalah teman saya. Sejak saat itu, saya mencoba mencari tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu perempuan Muslim dan imigran dalam hal kekerasan dalam rumah tangga.” kata Sudah seperti dikutip dari Blue Ridge Public Radio, Selasa (21/12/2021).
Sudan pun menjadi wanita Muslim pertama yang disertifikasi oleh New Jersey Coalition for Battered Women, setelah lima tahun mengikuti kelas, pelatihan, dan magang tentang kekerasan dalam rumah tangga. Karena latar belakang itu, Sudan pun percaya diri membuka tempat penampungan bagi korban KDRT.
Dengan dukungan penggalangan dana dari Penny Appeal USA, rumah aman bagi korban KDRT Baitul Hemaya dibuka pada Oktober 2019 di Charlotte, dengan fokus pada wanita Muslim. Setiap wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dipersilakan. Baitul Hemaya berarti “rumah perlindungan” dalam bahasa Arab.
Menurut data dari National Coalition Against Domestic Violenece, satu dari empat kasus wanita menjadi korban KDRT. Data statistik dari Proyek Keluarga Damai (Peaceful Families Project) juga menunjukkan 31 persen muslim Amerika pernah mengalami pelecehan dari pasangan saat berhubungan intim.
Asisten profesior agam di Queens University of Charlotte, Hadia Mubarak menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama dari proyek tersebut adalah menciptakan kesadaran agama akan kekerasan dalam rumah tangga.
Selain makanan dan tempat tinggal, petugas shelter Baitul Hemaya juga memberikan pelatihan, penyuluhan, dan layanan perlindungan dan psikiatri bagi perempuan.
“Tempat penampungan Baitul Hemaya adalah organisasi yang dipimpin Muslim, tetapi semua orang dan siapa saja diizinkan untuk datang ke sini,” kata Sudan.
“Jika Anda mendapat pelecehan atau menjadi korban, kami di sini untuk membantu Anda. Tujuan di balik shelter ini adalah untuk memudahkan umat Islam dan wanita pendatang yang mengalami stagnasi. Mereka tidak tahu ke mana harus pergi. Shelter ini juga dilengkapi sajadah, Al-Qur'an,"
Rumah aman Baitul Hemaya memiliki tiga kamar tidur, kamar mandi untuk penyandang disabilitas, dapur, ruang tamu, dan ruang konferensi. Penghuni shelter bergiliran memasak dan membersihkan rumah.
Korban KDRT yang menghuni rumah aman ini mendapat pendidikan keuangan juga pengetahuan akan penyalahgunaan zat, advokasi individu, keterampilan hidup, seni dan kerajinan, kelas merenda dan yoga. Untuk furnitur dan pakaian disumbang oleh sebuah masjid yang berada di Charlotte.
“Tempat perlindungan ini menyatukan orang-orang dari semua agama,” kata Sudan. “Semua orang berkumpul dan kami adalah satu keluarga. Aku tidak peduli apa agamamu. Itu tidak masalah bagi saya. Kami hanya ingin berada di sini untuk membantu Anda berpindah dari satu tempat ke tempat lain.”
Wanita dan keluarga tiba di tempat penampungan dengan masa tinggal maksimal 30 hari. Tempat penampungan membantu para wanita menemukan pekerjaan, menyediakan kartu bus untuk menghadiri janji temu dan membantu menemukan penitipan anak tanpa biaya.
Keluarga di tempat penampungan didukung juga dengan layanan terapi dan instruksi hidup mandiri.
Bukan hal yang aneh bagi wanita untuk kembali ke pelakunya, kata Sudan. “Banyak wanita yang belum pernah bekerja sebelumnya dan mereka tidak percaya diri atau hanya malas dan hanya akan kembali kepadanya karena 'Saya tidak ingin berada di sini.' Ini adalah alasan, untuk mereka bertahan hidup.”
Baca juga: Muslimah Amerika Ciptakan Karakter Superhero Muslim Pertama di Marvel ComicSudan berencana untuk membuka lebih banyak tempat penampungan bagi perempuan Muslim di daerah-daerah yang membutuhkan.
“Tempat penampungan kekerasan dalam rumah tangga sangat langka dan sangat penuh. Bahkan, pandemi COVID-19 malah memperburuk situasi ini, sehingga banyak wanita yang terpaksa harus tinggal serumah bersama pelaku KDRT. Hampir setiap shelter penuh, karena selalu ada kasus penyalahgunaan atau KDRT." kata Sudan.
“Jika itu bukan pelecehan anak, itu pelecehan orang tua, atau pelecehan pasangan, atau pelecehan pasangan intim. Pelecehan tidak pernah berakhir.”
(est)