LANGIT7.ID, Jakarta - Sebagai suri teladan umat muslim, Rasulullah Saw mencontohkan betapa baiknya beliau kepada tetangga. Bahkan berbuat baik kepada tetangga merupakan bukti keimanan. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori.
"Man kana yu'minu billahi wal yaumil akhir, falyukrim jaarahu". "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya."
Menurut Ketua Bidang Dakwah PP Persis, KH Zae Nandang, tetangga itu terbagi tiga kelompok, pertama tetangga yang mendapat satu hak, ia bukan saudara juga bukan muslim tapi tetap dihargai sebagai tetangga.
Kedua, tetangga yang mendapat dua hak. Ia tetangga, ia juga saudara. Apabila tetangga sakit maka harus ditengok, apabila tetangga kesusahan harus dibantu. Dan ketiga, tetangga yang mendapat tiga hak, ia tetangga, ia saudara dan ia juga sesama muslim.
Baca Juga: Subhanallah, Ini Cara Rasulullah Bercengkrama dengan KeluargaSemuanya harus dipelakukan dengan baik sesuai dengan haknya masing-masing. Salah satu hak tetangga menurut Kiai Zae Nandang, yakni mendapatkan cahaya matahari, tidak boleh rumah seseorang menghalangi cahaya matahari orang lain. Selain itu termasuk kebaikan kepada tetangga adalah menengok orang sakit.
Hal itu dicontohkan langsung oleh Rasul ketika menengok anak seorang Yahudi yang sedang sakit. Dengan lembut Nabi Muhammad mengelus kepala anak itu, terlihat begitu cintanya rasul terhadap tetangganya.
Rasulullah juga mengajarkan untuk menghormati jenazah apapun agamanya. Suatu ketika Rasul dan para sahabat sedang berjalan, lalu ada jenazah yang digotong. Ketika jenazah itu lewat, maka rasul berhenti. Para sahabat bertanya, "kenapa berhenti ya Rasul, ini kan Yahudi?" Rasul berkata: "Dia Yahudi akidahnya, sedangkan jasadnya adalah manusia, kita hargai dia sebagai manusia." "Itulah uswatun hasanah yang diajarkan Rasulullah Saw," tutur Kiai Zae dikutip dari Persis TV Channel, Jumat (24/12/2021).
"Hal pertama yang harus dipikirkan, walaupun berbeda hakikatnya semua manusia sama, semua berasal dari dari keturunan bani Adam," imbuhnya.
Baca Juga: Tak Semua Tradisi sesuai Syariat, Pedoman Tetap Al Quran dan SunnahKiai Zae mengatakan Islam mengajarkan muamalah yang baik dengan amar ma'ruf nahi munkar. Di dalamnya tersirat tanggung jawab agar tetangga menerima kebaikan dan terbebas dari keburukan orang lain.
"Jadi kalau kita ringkas, muamalah yang baik adalah terlaksananya amar ma'ruf nahi munkar. Itu intinya silaturahmi," ujarnya.
Dalam kitab Subulus Salam bab terakhir, disebutkan yang dimaksud silaturahmi, yakni berusaha agar kebaikan sampai kepada saudaranya, dan sebaliknya berusaha agar keburukan tidak sampai kepada saudaranya.
Bukan hanya dengan manusia saja, silaturahmi juga harus dibangun dengan semua makhluk Allah yang lain. Karena manusia merupakan bagian dari ekosistem kehidupan di bumi.
Baca Juga: Kemenparekraf Dukung Pengembangan Wisata Ponpes KH Maruf AminContohnya apabila orang menebang pohon sembarangan, maka dia telah memutus ekosistem yang ada. Maka jangan salahkan jika terjadi banjir dan lainnya, karena salah satu bagian ekosistem terputus.
"Jadi yang dimaksud silaturahmi yang baik itu bukan dengan sesama saja, tapi dengan alam semesta," ujar Sekretaris Dewan Hisbah tersebut.
Baca Juga: Pengurus Dewan Dawah Kabupaten Bekasi Resmi Dilantik(zhd)